TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Narasi Jahat Gangguan Jiwa Kembali Membahana, Stop Penganiayaan Ulama


Tragedi kembali menimpa tokoh ulama di negeri ini. Seorang pemuda melakukan aksi penusukan terhadap Ustadz Syekh Ali Jaber (USAJ) yang merupakan ustadz asal Madinah yang berpindah kewarganegaraan menjadi WNI. Ia menjadi sasaran penusukan oleh seorang pemuda tak dikenal, saat menghadiri Tabligh di Masjid Falahudin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, pada Ahad (13/9) sore. Akibatnya, ulama tersebut mendapat luka pada bagian bahu kanannya. (Republika.co.id, 13/08/2020)

Dari video amatir detik-detik kejadian yang langsung beredar luas di media sosial nampak jamaah sontak terkaget dan menangkap sang pelaku, bahkan ia hampir menjadi sasaran amuk jamaah seandainya USAJ tidak melindunginya. Subhaanallaah. 

Sedih rasanya menyaksikan video persekusi terhadap ulama yang terjadi di negeri ini. Tak tanggung-tanggung, aksi yang dilakukan tak lagi sebatas pembubaran kajian dan ujaran kata-kata kasar, tapi sudah naik level menjadi aksi melukai bagian tubuh. Sungguh kezhaliman yang nyata!

Peristiwa yang menimpa USAJ mengkonfirmasi beberapa hal berikut ini:

Pertama, narasi kebencian terhadap Islam melalui sosok ulama masih menghantui negeri. Belum hilang dari ingatan video viral yang beredar beberapa waktu lalu dimana seorang ulama dimaki-maki oleh anggota DPRD yang sekaligus ormas Islam di Jawa Timur hanya karena dituduh menda'wahkan Islam radikal. Entah modus apalagi yang akan digunakan ke depannya demi mengegolkan tujuan dari dalang di balik layar dalam menyingkirkan Islam dan pembawanya (baca: ulama) dari kehidupan.

Kedua, kasus penyerangan terhadap ulama diduga sebagai upaya mengalihkan perhatian rakyat dari isu yang lebih besar lagi. Pola ini sudah menjadi rahasia umum dan mudah terbaca jika memperhatikan kasus-kasus sebelumnya yang terjadi tak berselang lama atau bahkan bersamaan dengan peristiwa penting yang sengaja ditutupi. Kita tak boleh lupa bahwa ada beberapa RUU kontroversial tengah mengantri untuk digolkan sebagai UU seperti RUU Omnibus Law Ciptakerja dan RUU HIP. Bukan suatu hal yang tidak mungkin jika pengalihan isu sengaja dilakukan oleh pihak yang memiliki kepentingan. Na'udzubillaah. 

Sungguh memprihatinkan nasib ulama warisan para Nabi di zaman penuh fitnah ini. Padahal posisi mereka begitu dimuliakan dalam Islam. Merekalah orang-orang yang Allah Sebutkan dalam ayat Alquran:

“….. Sesungguhnya golongan yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya ialah para ulama’. Sesungguhya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (TQS Fathir: 28)

Kondisi hari ini ulama seolah kurang mendapatkan tempat di muka bumi semenjak maraknya isu radikalisme. Persekusi tak henti-hentinya dilakukan. Ada yang dibully baik secara langsung atau lewat media, ada yang dibubarkan kajiannya, ada yang dicekal dan dikriminalisasi, bahkan dianiaya secara fisik. 

Belum lagi wacana teranyar yaitu akan adanya sertifikasi penceramah semakin menunjukkan penghinaan terhadap sosok ulama. Kabar dari Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam sepertinya tengah terjadi saat ini dimana beliau menggambarkan kondisi umatnya di akhir zaman:

"Di antara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, menyebarnya kebodohan, maraknya minuman keras, dan zina dilakukan terang-terangan." (HR Bukhari)

Jika melihat kasus yang terjadi pada Ustadz Syekh Ali Jaber maka sungguh tak terbantahkan fakta bahwa semakin hari permusuhan terhadap ajaran Islam dan ulama semakin nyata adanya. Siapa lagi kalau bukan musuh Islam dan anteknya yang berada di belakang layar. Mirisnya kasus-kasus serupa  tidak mendapatkan ganjaran setimpal di mata hukum, meski aksi bela ulama telah digelar akbar beberapa waktu lalu.

Muslim sejati pasti tidak suka jika ulamanya dicela dan dinista, apalagi dianiaya. Hukum yang berlaku di negeri ini tak memihak kepada kebenaran, tapi memihak kepada kepentingan. Tak cukup rasanya hanya memohon balasan dari Allah Sebaik-baik Pembalas makar.

Tegaknya sistem Islam dalam naungan Khilafah menjadi sebuah keniscayaan demi terlindunginya kehormatan kaum muslimin, terkhusus para ulama. Hanya Khilafah yang mampu memuliakan ulama dan mengembalikan posisinya sebagai pengemban misi da'wah demi keberlangsungan kehidupan Islam. 

Tak cukup sampai di situ, Khilafah akan menindak tegas pelaku kriminal penganiayaan terhadap anggota tubuh, baik korbannya ulama maupun bukan. Hukuman ini yang dikenal dengan qishas:

"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya.” (TQS. Al- Maidah: 45)

Maka tak ada pilihan lain, mari muliakan ulama dengan menegakkan Khilafah Islam. Allaahu Akbar!


Oleh: Lely Herawati 
Praktisi Pendidikan dan Aktivis Muslimah Pecinta Islam

Posting Komentar

0 Komentar