TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Merindukan Ospek Berkualitas untuk Mengokohkan Peran Strategis Mahasiswa

Mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi, di dalam struktur pendidikan di Indonesia mahasiswa memegang status pendidikan tertinggi di antara yang lain (KBBI). Karenanya potensi dan peran mahasiswa cukup besar. 

Adapun Ospek adalah sarana untuk mengenalkan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru. Ibarat pintu awal masuk peran ospek ini sangat urgen. Dimana mahasiswa baru mendapatkan informasi awal dari para mahasiswa kakak angkatannya maupun beberapa dosen yang terkait bekal untuk adaptasi sebagai mahasiswa yang tentu unik dan berbeda dari Pendidikan sebelumnya. 

Namun, kadang ospek atau PKKMB (pengenalan kehidupan kampus bagi Mahasiswa Baru) belum menyentuh poin penting peran penting mahasiswa. Ospek masih terlihat sebatas agenda rutinitas untuk menunjukkan senioritas mahasiswa yang terlibat sebagai panitia kepada mahasiswa baru. 

Ternyata hal ini tidak sebatas saat ospek offline. Di saat pandemi dengan ospek secara virtual pun kondisi ini masih terjadi sebagaimana yang viral di jagad sosmed yaitu Ospek Unesa karena diduga mengandung kekerasan verbal CNNIndonesia.com, (15/9). Hal itu terjadi saat mahasiswa senior membentak mahasiswa baru karena tidak memakai ikat pinggang.

Mencermati urgensitas ospek bagi mahasiswa baru penting kiranya ada terobosan baru menuju ospek yang berkualitas yang lebih mendekatkan pada fungsi dan peran mahasiswa sebagai insan intelektual, kritis dan energik khususnya bagi arah perubahan dan control sosial di masyarakat. 

Mengingat saat ini fungsi dan peran strategis di atas sangat lemah di kalangan mahasiswa. Atau jika boleh dikatakan mandul. Kecenderungan mahasiswa yang pragmatis dan individualis yang mayoritas ditemukan saat ini. 

Memang kondisi tersebab berbagai faktor. Di antaranya adalah kehidupan sistem kampus yang cenderung diiarahkan untuk mencetak lulusan yang siap memenuhi kebutuhan dunia usaha. Dari pada memacu daya nalar intelektual untuk mempersembahkan keilmuwannya bagi masyarakat. Inilah yang mencetak mahasiswa pragmatis.

Belum lagi upaya masif program deradikalisasi yang mau tidak mau membuat birokrasi kampus sangat ketat terhadap mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan. Tak heran dua kondisi di atas telah memperlemah jati diri mahasiswa sebagai penggerak perubahan (agen of change) dan sosial control. 

Meski sistem di atas telah cukup membelenggu mahasiswa untuk menemukan jati diri dan peran potensialnya. Maka tak layak bagi jajaran dunia akademisi. Mulai birokrasi dan mahasiswa dengan segala ormawa (organisasi kemahasiswaan) baik yang intra kampus maupun ekstra kampus untuk berdiam dan pasrah pada keadaan.  

Justru kondisi inilah perjuangan sejati mahasiswa untuk menunjukkan jati diri aslinya tertantang. Terlebih kekangan dan kedzaliman rezim dengan kebijakannya sungguh telah sampai pada titik yang memprihatinkan.

Saat ini tentu mahasiswa untuk kembali menemukan sosok sejatinya, bukan sekedar sosok tegas dan sok adil dan disiplin saat ospek Maba. Karena peran mahasiswa bukan sekedar pemain bak singa di atas panggung drama ditonton para maba. Kemudian pasca membina ospek kembali dengan sifat aslinya laksana kucing yang tak punya nyali. 

Saatnya ospek yang berkualitas dengan mengingatkan peran potensial mahasiswa sebagai lokomotif perubahan dan control sosial terhadap kebijakan dzalim butuh segera diadakan. Dan semoga dengan niat menuju perubahan yang diridhai Allah. Peran mahasiswa muslim sebagai garda terdepan dimudahkan Allah subhanahu ta'ala. Aamiin.[]

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar