TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Merajut Keutuhan Rumah Tangga di Tengah Pandemi

Tidak hanya menyuburkan pernikahan, ternyata pandemi juga telah menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian yang luar biasa. Direktur Jenderal Badan Pengadilan Mahkamah Agung Aco Nur mengungkapkan, saat awal penerapan PSBB pada April dan Mei 2020, perceraian di Indonesia di bawah 20.000 kasus. Namun pada bulan Juni dan Juli 2020, jumlah perceraian meningkat menjadi 57.000 kasus (lombokpost.jawapos.com, 30/08/2020).

Di beberapa wilayah seperti Banyuwangi, kasus perceraian selama pandemi tergolong tinggi. Selama lima bulan virus corona mewabah, april hingga agustus, tercatat total 2.933 perempuan menyandang status janda. (faktualnews.co, 03/09/2020). Pengadilan Agama Jakarta Timur mencatat ada 900 laporan perceraian yang masuk selama pandemi covid-19. Sebuah angka yang meningkat 50 persen dari sebelumnya. (megapolitan.kompas.com, 03/09/2020). 

Termasuk viralnya antrean orang yang mengajukan pendaftaran gugatan cerai ke Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung di media sosial Instagram baru-baru ini. Panitera Pengadilan Agama Soreang Ahmad Sadikin mengungkapkan, per harinya sidang gugatan perceraian bisa mencapai 250 kasus, 75 yang mendaftar serta 90 orang yang mengambil produk gugatan. (republika.co.id, 26/08/2020).

Meningkatnya jumlah pelaku gugat cerai di masa pandemi, menunjukkan fenomena rapuhnya ikatan rumah tangga. Pandemi telah merumahkan banyak kepala keluarga, menutup banyak lapangan pekerjaan, menyebabkan ketegangan hubungan anggota keluarga berupa cekcok suami istri hingga menyeret pada tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bagaimana tidak, kebutuhan hidup yang kian tinggi, penghasilan kepala keluarga yang menurun drastis sehingga berbagai macam ketidaknyamanan yang ditimbulkan menyebabkan keluarga berfikir untuk bercerai. Bahkan kebanyakan gugatan dilakukan oleh pihak istri yang rata-rata masih muda, berusia di bawah 35 tahun. Dan penggugat perceraian terbanyak dari pulau Jawa. 

Peran Suami Istri

Sucinya ikatan pernikahan yang mengikat antara laki-laki dan perempuan harus dirawat. Meskipun suami dan istri berasal dari latar belakang, karakter, dan fitrah yang berbeda, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih sakinah, mawaddah dan warohmah. Rasa cinta dan kasih sayang yang menjadi pondasi mutlak pernikahan antara suami dan istri harus semakin dipupuk. Hingga tercipta rasa ridho dan syukur yang akan memudahkan berjalannya bahtera rumah tangga. 

Menikah adalah ibadah yang paling lama, tentu diperlukan ilmu dalam menjalaninya. Penempatan kodrat antara suami dan istri yang sesuai agar tidak terjadi pertukaran peran. Allah Swt berfirman,

وَ لَیۡسَ الذَّکَرُ کَالۡاُنۡثٰی…

“….dan laki-laki tidaklah seperti perempuan…” (TQS Ali Imran: 36)

Ayat ini menegaskan tentang perbedaan antara suami dan istri. Perbedaan hak, kewajiban, berbicara, berfikir, menyelesaikan masalah hingga berkomunikasi. Kegagalan dalam memahami perbedaan mutlak ini bisa berakibat fatal. Oleh karenanya, suami istri harus memahami perbedaan mendasar ini agar semakin mudah dalam meraih kebahagiaan dalam berumah tangga. Salah perlakuan oleh pasangan suami istri bisa menimbulkan cekcok, stress, kecewa, hingga perceraian sebagaimana yang terjadi di masa pandemi ini. 

Suami sebagai pemimpin di dalam keluarga, menjalankan rumah tangga sesuai dengan syariat. Mendidik dan menempatkan istri pada perkara yang diwajibkan oleh Allah swt seraya menjalankan perannya sebagai kepala keluarga, sohibul qawwam. Sebagaimana sabda Rasul saw dengan lisannya yang mulia,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى أَهْلِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Seorang laki-laki (suami) adalah adalah penggembala di tengah keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas gembalaannya.” (HR Mutafaq ‘alaih).

Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari saat menyebutkan bahwa seorang Penggembala (ra’in) adalah penjaga yang dipercaya yang harus memiliki kelayakan pada hal yang dipercayakan untuk dijaga, sehingga ia dituntut untuk adil dalam perkara tersebut dalam menjalankan kepentingan-kepentingannya. Di dalam rumah tangga, suamilah ra’in tersebut. Ia bertanggung jawab atas kemaslahatan setiap anggota keluarganya, memastikan anggota keluarganya tidak terjerumus dalam kemungkaran sebagaimana seorang penggemba harus memastikan domba-dombanya tidak tergelincir masuk ke jurang, diterkam binatang buas ataupun masuk menyeruak ke kebun orang lain. 

Sementara istri berperan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya, menjaga keutuhan keluarga, memperlakukan dan memberikan hak anak dan suami sesuai dengan syariat. Meraih ridho sang Pencipta dengan berkhidmat pada suami merupakan tujuan mulia dari seorang istri. Karena ketaatan istri terhadap suami dalam perkara yang diperbolehkan syariat merupakan jaminan surga. 

Dari Abu Hurairoh ra, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki”. (HR Ibnu Hibban)

Pentingnya Peran Negara dalam Melindungi Keutuhan Keluarga

Problematika keluarga di tanah air yang sedemikian kompleks, tidak mungkin mampu dihadapi oleh lapisan keluarga saja. Banyaknya persoalan kehidupan di hampir semua lini kehidupan menunjukkan bahwa sekularisme dalam tatanan demokrasi telah gagal memberikan solusi tuntas dalam menjaga keutuhan keluarga. 

Islam menempatkan Negara sebagai penanggung jawab terbesar, setelah suami/ ayah. Negara harus melindungi setiap anggota masyarakatnya, termasuk suami istri dan anak-anak mereka dan mengembalikan kembali peran yang telah diciptakan oleh Allah swt. Peran yang pasti sesuai dengan segala zaman dan kondisi. Sehingga tercipta keutuhan keluarga dengan atau tanpa adanya pandemi. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Novida Sari
(Alumni Komunitas Istri Strong)

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Kembali kepada sistem islam adalah solusi segala permasalahan umat saat ini.

    BalasHapus