TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menuntut Kesetaraan Upah, Angin Segar bagi Siapa?


Untuk pertama kalinya Indonesia turut berpartisipasi bersama PBB dalam merayakan Hari Kesetaraan Upah Internasional yang jatuh pada 18 September kemarin. Bagi PBB, perayaan tersebut sebagai bentuk komitmennya untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan menentang segala bentuk deskriminasi termasuk terhadap perempuan dan anak perempuan. 

Di Indonesia sendiri, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, dalam pernyataan persnya menyatakan bahwa untuk mempertimbangkan kesenjangan gender di pasar kerja, Kementerian Ketenagakerjaan bersama semua mitra sosial dan organisasi internasional terus mendorong aksi menentang diskriminasi berbentuk gender di tempat kerja. Ida Fauziyah menambahkan, sekarang saatnya bagi perempuan dan laki-laki untuk dihargai secara setara berdasarkan bakat, hasil kerja dan kompetensi bukan berdasarkan gender.

UN Women merilis data global yang menunjukkan bahwa perempuan memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibanding laki-laki. Menurut UN Women, perbedaan upah tersebut tentu saja akan berdampak buruk bagi ekonomi perempuan, terutama pada masa-masa sulit di tengah pandemi Covid 19 sekarang ini. Selain itu, posisi perempuan di dunia kerja juga kurang kuat. Hingga saat ini kebanyakan perempuan berada di pekerjaan informal, inilah yang ingin dicapai pegiat gender agar posisi perempuan setara dengan laki-laki dalam pekerjaan. Namun, ketika memiliki pekerjaanpun, perempuan banyak mengalami hambatan, karena ada banyak perempuan yang bekerja di industri yang terdampak Covid 19, mulai industri akomodasi, hingga penjualan dan manufaktur. 

Mereka menambahkan, Pendidikan tinggi tidak juga mampu menjamin perempuan mendapat upah yang setara dengan laki-laki, dan hal ini tidak hanya terjadi di kalangan menengah bawah atau yang berpendidikan rendah. Data tersebut menunjukkan bahwa banyak perempuan yang bergelar sarjana tapi upahnya masih lebih kecil dibandingkan laki-laki. Sehingga akhirnya mereka memandang bahwa dunia butuh adanya aksi untuk menolong perempuan meraih kemerdekaan berekonomi. Maka salah satu aksi pegiat gender adalah memunculkan salah satunya yaitu investasi layanan perawatan anak dalam bentuk Pendidikan Anak Usia Dini dan layanan perawatan yang terjangkau dengan memberikan tiga keuntungan:

Membantu perempuan untuk berpartisipasi dalam lapangan pekerjaan. Mengembangkan kesehatan nutrisi anak. Menyediakan pekerjaan yang layak di sektor perawatan berbayar.

Memang layanan ini seolah-olah adalah alternatif cerdas untuk menenangkan hati ibu yang bekerja di luar rumah, namun sejatinya ini malah dapat merampas hak anak akan pengasuhan ibunya. Justru ini tidak adil karena memaksakan perempuan agar setara dengan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang harusnya dekerjakan laki-laki.

Tuntutan Kesetaraan Upah, Angin Segar bagi Kapitalis

Kesetaraan upah seolah memang menghibur hati kaum perempuan yang bekerja di sektor publik. Namun faktanya, hingga saat ini masih banyak problematika yang tengah melanda kaum perempuan, seperti kasus KDRT, pelecehan seksual, trafficking, perselingkuhan dan lain-lain. Adapun jika perempuan memiliki upah yang lebih tinggi dari laki-laki, ini tidak menjadikan kaum perempuan lebih sejahtera. Pasalnya akar permasalahan terjadinya kesenjangan bukan karena masalah upah tapi penerapan sistem kapitalis yang mensuasanakan dan memicu kesenjangan laki-laki dan perempuan.

Tampak jelas bahwa sesungguhnya bekerjanya perempuan sangat berarti dalam sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini. Kesetaraan gender atau kesetaraan upah hanyalah ide pemanis demi mewujudkan ambisi kapitalisme, yaitu meraup untung sebesar-besarnya. Demikianlah watak asli tatanan ekonomi kapitalisme, hanya berpihak pada pemilik modal. 

Tidak Ada Kesetaraan Upah dalam Islam

Dalam Islam, ibu adalah pendidik generasi. Kewajiban mencari nafkah adalah tanggungjawab ayah/laki-laki. Oleh karena itu, menyetarakan kerja pada perempuan dengan istilah kesetaraan upah adalah langkah berbahaya.

Islam membolehkan perempuan bekerja, dan upah diberikan berdasarkan jasanya bukan gendernya. Islam memiliki aturan yang akan melindungi perempuan dengan tatanan yang sempurna dan paripurna untuk mewujudkan kesejahteraan manusia, baik laki-laki maupun perempuan.[]

Oleh: Endang Patmiasih
(Praktisi Pendidikan) 

Posting Komentar

0 Komentar