TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menghina Syiar Islam, Menolak Rahmat

Sepekan ini masyarakat dunia kembali diramaikan dengan penistaan terhadap Islam. Di Denmark para aktivis merobek Al qur'an, di Amerika seorang membakar Al Qur'an, dan majalah Charlie Hebdo di Perancis memuat ulang karikatur Rasulullah Muhammad. Umat Islam di negeri-negeri Islam bereaksi. Kemarahan yang berulang, tetapi tetap saja tak ada jalan keluarnya.

Mereka adalah orang-orang kafir. Allah telah mengabarkan kepada kita, bagaimana bencinya mereka kepada Islam. Allah menggambarkan bahwa kebencian mereka kepada Islam, di dalam hati mereka lebih besar daripada apa yang mereka tampakkan. Kebebasan berperilaku menjadi ruh hidup mereka. Kedengkian kepada Islam menjadikan mereka melakukan tindakan sehina-hina dinanya untuk menghina Islam. Jadi maklumi saja.

Yang tidak bisa kita nalar dan kita habis pikir adalah bila ada seorang muslim yang juga begitu semangatnya ikut membenci Islam. Karena seorang muslim, ketika dia bersyahadat maka loyalitas dan kecintaannya hanya kepada Allah dan Rasulullah. Wujudnya adalah mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah, dan menjauhi apa yang dilarang. Seorang muslim akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, sebagai kebaikan dunia dan akhirat.

Menista Islam bisa dilakukan dalam banyak wajah. Seperti apa yang dicantumkan dalam kitab Sullam at Taufiq bahwa menghina Allah, Rasul dan syiar-syiarnya, bisa menyebabkan pelakunya murtad.  Bila seseorang melakukannya dengan i'tiqodiy para ulama sepakat menilainya sebagai murtad. Namun apabila melakukannya tanpa i'tiqodiy maka tetap saja dia dianggap sebagai orang fasik,  melakukan maksiat dengan sengaja.

Menganggap Islam sebagai sumber keradikalan termasuk penistaan kepada syiar-syiar Islam. Mengkonotasikan Islam sebagai sumber ajaran hidup yang kontra produktif dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Stigma ini semakin lancar dibunyikan oleh pejabat pemerintahan di negeri ini, utamanya di jajaran Kementerian Agama. Umat Islam pun menjadi salah tingkah, hingga terbelah. Termakan propaganda pemerintah yang seharusnya melindungi keyakinan warga negaranya.

Dengan begitu fasihnya, pemerintah menunjuk indikasi ketaatan sebagai bentuk radikal. Tidaklah mengherankan di setiap kesempatan selalu memberi wejangan, hati-hati kepada para pemuda yang hafal Qur'an, aktivis masjid, mengidap paham khilafah, dan rajin berdakwah. Masyarakat pun diajak ikut memusuhi kaum yang dianggap radikal, dianggap berbahaya bagi negara. Bahaya yang sampai sekarang nalar kitapun tak mampu menjangkaunya, karena tak pernah ada kenyataanya.

Anehnya, pemberian stigma negatif tidak pernah diberikan kepada pelaku kejahatan. Tidak pernah pemerintah memberi peringatan akan bahaya zina, perilaku gay, dan pembunuhan. Padahal bahayanya bagi masyarakat sudah jelas terindera. Hilangnya nyawa ratusan ribu janin tiap tahunnya karena aborsi akibat kehamilan di luar nikah, pelecehan seksual yang berujung menjadi pelaku di kemudian hari bagi korbannya, atau pembunuhan sadis yang menyisakan dendam, dianggap suatu hal yang biasa.

Khilafah yang selalu diserang oleh pemerintah, sampai sekarang belum terbukti aksinya menghancurkan negara ini. Bukti sejarah, setiap jejaknya di negeri-negeri muslim di seluruh dunia adalah sebagai pembawa Rahmat. Penerapan Islam yang ditegakkannya menghilangkan kedholiman. Kehidupan tentram dan sejahtera sebagai buah ketaatan kepada Allah dan Rasulullah. Nikmat itupun pernah dirasakan oleh penduduk negeri ini, ketika kesultanan di Nusantara menerapkan Islam secara kaffah.

Kedatangan para kafir penjajah yang akhirnya memporak porandakan semua itu. Mereka mengeruk kekayaan alam Nusantara, merampasnya, membawa ke negeri mereka. Tidak cukup sampai di situ, perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam karena dorongan akidahnya, dijawab dengan penindasan kaum kafir kepada umat Islam dan menghina ajaran Islam sebagai ajaran yang mundur dan radikal. 

Kita sudah merdeka. Seharusnya umat Islam kembali memahami kemuliaan agamanya, tidak seperti apa yang ditanamkan oleh penjajah.[]

Oleh: Khamsiyatil Fajriyah

Posting Komentar

0 Komentar