TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mengapa Bukan Khilafah yang Dikenang?


Ketika aturan Islam diterapkan di seluruh aktivitas kehidupan, maka kesejahteraan yang umat rasakan. Kalau pun terjadi penyimpangan, bukan aturan Islam yang disalahkan. Namun individu yang menerapkan belum sampai pemahaman. Meski demikian, kesejahteraan umat masih diutamakan.

Sungguh sesuatu yang sangat layak untuk dikenang. Bagaimana indahnya suasana saat itu. Pendidikan umat diutamakan, biaya murah bahkan gratis, dengan fasilitas lengkap. Kesehatan terjamin, agar pasien fokus pada kesembuhan, tidak memikirkan biaya pengobatan. Kebutuhan hidupnya terjamin, keamanan terjaga. Semuanya mendukung untuk menjalankan ketaatan.

Saat pemerintahan Islam itu diruntuhkan oleh musuh yang tak rela Islam berjaya. Maka umat mengalami kesedihan luarbiasa, bagaikan ayam kehilangan induknya. Tak ada penjaga, tak ada yang melayani kebutuhannya. Umat hidup sendiri-sendiri, mencari kebutuhan pokok dan segala kebutuhan hidup yang semakin mahal tak terkendali. 

Apalagi dalam suasana pandemi, semakin susah yang dirasakan umat. Perekonomian merosot tajam, pengangguran banyak terjadi di mana-mana. Kejahatan meningkat. Korban akibat virus covid-19 juga semakin tak terkendali.

Semua terjadi karena aturan Islam tidak diterapkan. Pemerintahan Islam yang dulu menerapkan sudah hancur berantakan. Patah berkeping-keping hingga tak ada lagi kekuatan. Hingga kesejahteraan umat tak lagi dirasakan. Umat merana, berpacu mencukupi kebutuhan hidupnya. Jarak antara orang kaya dan miskin makin menganga.

Dalam kondisi umat berduka karena banyak masalah menimpa negerinya. Seyogyanya pemimpin negeri merangkul, mencari jalan keluar terbaiknya. Umat diajak bangkit berjuang mengembalikan "induk"nya yang hilang.

Umat diajak nostalgia, membayangkan indahnya ketika masih dalam naungan khilafah, pemerintahan Islam nan mulia. Umat diajak berfikir mencari solusi dengan tetap menjalankan ketaatan kepada Allah. Sambil terus berjuang agar umat ikut bersemangat mewujudkan kembali pemerintahan yang sudah cukup lama diruntuhkan.

Jika ingat sejarah keruntuhan khilafah (pemerintahan Islam),  terjadi pada tahun 1924. Berarti hingga kini belum sampai 100 tahun. Namun kenangan itu seperti dilupakan. Jangankan rakyat kecil yang hidupnya dipenuhi semangat mencari kebutuhan hidup, hingga lupa berfikir apa yang menimpa negerinya. Orang intelek pun banyak yang lupa, atau tak menyadari bahwa "induk"nya hilang belum kembali. Hingga tak ada upaya untuk berjuang mengembalikannya.

Ketidaksadaran bahwa pemerintahan Islam sudah luluh lantak sejak tahun 1924. Hingga kini hampir satu abad lamanya. Intelektual dan pejabat-pejabat tinggi tak kunjung berjuang mengembalikan khilafah. Justru terkesan santai, tak mau tahu, menganggap itu pemerintahan kuno, tidak up to date lagi.

Bahkan bisa saja mereka terlena dalam zona nyaman dalam sistem kapitalis liberalis. Hidup bebas tanpa banyak aturan. Boleh menjalankan aktivitas apa saja, yang penting mendapatkan keuntungan materi. Tak peduli halal haram diserbu tanpa merasa berdosa.

Dalam kondisi carut marut pemerintahan sekarang. Umat dibelokkan masalah besarnya agar terhibur dengan K-Pop dan Drama Korea. Umat terhibur sejenak, teralihkan dari masalah sesungguhnya. Setelah hiburan usai, kembali merasakan masalah yang menimpa. Kebutuhan hidup  sulit terpenuhi, biaya kesehatan mahal, dan banyak masalah lainnya.

Saat kondisi darurat seperti ini, jeritan umat menggema di seluruh antero dunia. Kepedulian pemerintah hampir tak ada. Kalaupun ada sangat kecil perannya. Justru sang pemimpin negeri ini mengajak kita berakrab ria dengan hiburan tak mendidik itu.

Segala aturan Islam diterjang. Sistem pergaulan diabaikan, hijab, aurat, model pakaian, sistem yang diterapkan, semua diterjang dengan alasan agar generasi muda bisa belajar pada generasi K-Pop yang tak memahami aturan Islam.

Seperti yang dilansir detiknews, Wakil Presiden Ma'ruf Amin berbicara hubungan erat Indonesia dan Korea Selatan. Ma'ruf ingin kemesraan Indonesia dan Korea Selatan bisa terus dilanjutkan.
"Indonesia bisa banyak belajar dari Korea. Investasi dan alih teknologi diharapkan bisa membuat produk Indonesia semakin meningkat kualitasnya, bisa diekspor ke luar negeri. Hingga diharapkan juga makin banyak produk-produk Indonesia bisa diterima di Korea," ujar Ma'ruf Amin acara Peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia melalui konferensi video, dalam keterangan tertulis, Minggu (20/9/2020).

Wapres Ma'ruf menilai banyaknya produk Korea yang diproduksi di Indonesia dapat menjadi momentum pembelajaran bagi anak-anak bangsa untuk menciptakan produk berkualitas baik dan berdaya saing sehingga dalam jangka panjang diharapkan dapat mendorong proses industrialisasi Indonesia.

Tampak jelas pendapat orang nomor dua di Indonesia, kita diajak berhubungan mesra dengan Korea Selatan. Belajar investasi dan tehnologi agar produk Indonesia meningkat kwalitasnya dan bisa diekspor.

Seolah ide bagus, namun tak dipikirkan secara mendalam. Bagaimana efek atas interaksi dan sistem pergaulan di antara para muda tersebut? Siapa yang menjamin bisa tetap aman terkendali tak terkontamonasi ideologi dan peradabannya.

Apalagi sangat disadari bahwa pembekalan aqidah terhadap para generasi muda negeri ini masih sangat jauh dari cukup. Terbukti masih banyak terjadi kejahatan di negeri ini dan pelakunya anak-anak muda yang tak dibentengi iman di dada.

Bahkan terkesan ada ikatan batin yang kuat hingga wapres lebih terkesan dengan peringatan seratus tahun kedatangan warga korea. Seratus tahun? Lebih lama orang korea daripada runtuhnya khilafah, pemerintahan Islam? Mengapa lebih dikenang orang Korea yang datang ke Indonesia? Mengapa tak ingat dan tidak lebih dikenang saat hilangnya khilafah pemerintahan Islam?

"Ke depan, diharapkan hubungan baik ini semakin memberi manfaat bagi warga kedua negara. Peringatan 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia ini merupakan momen penting untuk semakin meningkatkan hubungan dan kerja sama yang baik antara kedua negara," sebut Ma'ruf.

Sungguh, sebuah keanehan mendalam. Sulit dinalar dengan akal pikiran. Benarkah itu pernyataan sang kyai yang sekarang didapuk jadi wapres? Sebuah berita yang rasanya menghantam sampai hati terdalam. Bagaimana mungkin sang kyai memiliki pemikiran serendah itu? 

Teramat kejam musuh memberi bisikan. Hingga para ulama negeriku banyak berubah pemikiran. Islam tak lagi dijadikan pedoman hidup. Islam hanya sebatas ibadah ritual. Itupun tak semua menunaikan ibadah ritual itu. Banyak yang sibuk urusan dunia, hingga lupa bahwa ada akherat nantinya. Ada hisab, ada pertangggungjawaban. Ada hari perhisaban. 

Bagaimana nasib negeriku, jika pemimpin negeri ini terkontaminasi bisikan mesra dari musuh Islam? Ya, bisikan itu lebih mesra, syahdu, mengaysikkan. Bisikan musuh teramat mempesona. Hingga tanpa disadari setapak demi setapak, generasi bangsa terkontaminasi.

Lantas tanggungjawab siapa ini? Seharusnya tanggung jawab negara. Namun ketika negara tak ada, maka tiada pilihan kita harus berjuang bersama umat untuk mengembalikam Islam. Sulit dan sangat berat. Namun yakin dengan menjalankan pertaubatan dan senantiasa dalam ketaatan, maka pertolongan Allah akan datang. 
Islam kembali berjaya atas ijin Allah Sang pemilik alam semesta. Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh: Lilik Yani
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar