TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menelisik Program Pengarusutamaan Moderasi Beragama

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, membentuk Seuramoe Moderasi Beragama, Senin (21/9/2020). Seuramoe Moderasi Beragama merupakan unit kajian khusus yang disiapkan untuk mengkaji isu-isu terkait moderasi beragama di Aceh dan Indonesia.

Pembentukan Seuramoe Moderasi Beragama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh ditandai dengan Webinar sesi 9 “Moderasi Beragama dan Tantangan di Era Disrupsi.” Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Reza Idris yang menjadi salah satu pemateri mengatakan, moderasi beragama yang dipromosikan pemerintah saat ini merupakan satu konsep tidak hanya ditujukan bagi umat Islam saja, namun untuk semua pemeluk agama.

Menurutnya, ketika berbicara moderasi beragama di Aceh, tidak bisa dilepaskan dari stereotype yang berkembang di Indonesia dalam cara melihat Aceh dan informasi yang dikembangkan secara global di media nasional dan internasional. Di mana Aceh, diproyeksikan sebagai daerah yang fanatik dan radikal (www.basajan.net,21/09/2020).

Mengapa pengarusutamaan moderasi beragama begitu gencar dilakukan? Seakan negeri ini mengalami krisis dan teror akibat dari paham radikal dan sikap intoleran? 

Moderasi Beragama, Rancangan Global Barat

Menurut kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Nifasri mengatakan, moderasi beragama menjadi salah satu upaya pemerintah menekan arus intoleransi dan radikalisme pada masyarakat Indonesia.

Ia menyampaikan, isu kerukunan umat beragama yang muncul beberapa tahun terakhir menjadi perhatian dunia internasional. Karena itu, pentingnya upaya pemerintah dalam membangun moderasi beragama di kalangan masyarakat.

Di dalam buku Moderasi Beragama (Kemenag, 2019), pengertian moderasi beragama  berarti cara beragama jalan tengah sesuai pengertian moderasi tadi. Dengan moderasi beragama, seseorang tidak ekstrem dan tidak berlebih-lebihan saat menjalani ajaran agamanya. Orang yang mempraktikkannya disebut moderat.

Tak dipungkiri, makna moderat sendiri bukanlah sesuatu yang pernah dipraktekan dalam Islam. Para pemikir Islam maupun para ulama fikih selama berabad-abad tidak pernah memunculkan istilah Islam moderat. Demikian pula para ulama siyasiyah Islam. 

Istilah 'Islam moderat' ini tak lain dimunculkan oleh para pemikir dan politisi Barat. Seorang pemikir Amerika Serikat, Noam Chomsky membuka kedok AS. Dia mengungkapkan bahwa AS memberikan predikat 'moderat' pada pihak-pihak yang mendukung kebijakan AS dan sekutunya. 

Sementara predikat 'ekstrimis, radikal, dan teroris' disandangkan pada pihak-pihak yang menantang, mengancam, dan mengusik kebijakan AS dan sekutunya. (Noam Chomsky dalam Parates and Emperors, Old and New International Terorism in The Real World, 2002)

Rand Corporation, sebuah badan kajian strategis yang disponsori Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) pada tahun 2007 terang-terangan menerbitkan lagi dokumen Building Moderate Muslim Networks, yang juga didanai oleh Smith Foundation. Dokumen terakhir ini memuat langkah-langkah membangun Jaringan Muslim Moderat pro-Barat di seluruh dunia.

Menurut Angel Rabasa (peneliti politik senior di RAND Corporation, penulis tentang ekstrimisme dan terorisme), sikap muslim moderat yang diinginkan Barat adalah menerima demokrasi dan menerima sumber hukum apapun, tidak fanatik pada hukum agama (syariat Islam). 

Jika syariat Islam dianggap tidak cocok dan melanggar HAM, maka mereka akan menghujatnya dan mempromosikan hukum positif ciptaan manusia sebagai pengganti syariat. Selanjutnya, muslim moderat harus menerima pluralisme, feminisme (kesetaraan gender), tidak membeda-bedakan manusia (humanis), dan memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Situs www.muslimagainshariah.com menambahkan sikap moderat yang diharapkan barat adalah tidak anti Yahudi, menentang khilafah, kritis terhadap Islam, menganggap Muhammad Saw bukan uswah hasanah, menolak jihad, pro atau netral terhadap Israel, tidak marah ketika Nabi dihina, juga menentang jilbab (syariat) dan terorisme.

Jelas bahwa program moderasi beragama di Indonesia bagian dari rancangan global dalam membentuk sosok muslim yang diinginkan Barat. 

Islam Membendung Arus Moderasi 

Menelisik efek buruknya bagi umat Islam, program ini mesti dibendung dengan pemahaman yang benar. Pun secara epistemologi, apa yang digunakan sebagai dasar gagasan moderasi beragama tidak jelas. 

Atas dasar apa dan mengapa harus melakukan moderasi, padahal Islam  mengajarkan untuk menjadi seorang muslim yang kafah. Pemikiran moderasi beragama tak terlepas dari pemikiran sekuler yang kian mengikis keimanan seorang muslim. Dengan mencampakkan aturan Islam  kafah  dijadikan sebatas aturan beribadah.

Berikut ini beberapa hal yang harus dipahami  muslim agar dapat membendung program moderasi beragama dengan pemahaman benar. Pertama, seorang muslim harus memahami bahwa Islam adalah mabda (ideologi). Bukan sekadar agama ritual, namun memiliki seperangkat aturan yang harus diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. 

Kedua, menjadikan Alquran dan Assunnah sebagai tolak ukur, bukan berdasarkan penilaian Barat. Bagaimana mungkin seorang muslim menjadikan penilaian orang-orang kafir sebagai standar dalam melakukan perbuatan, sedangkan mereka bukanlah orang  beriman. 

Ketiga, sebagai seorang muslim harusnya menyadari bahaya di balik moderasi beragama yaitu menjauhkan umat dari Islam kafah. Padahal Allah memerintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara kafah. 

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).[]

Oleh: Trisnawati

Posting Komentar

0 Komentar