TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mencari Kebenaran di Keterasingan Zaman


Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:

بَدَأَ الإِسلامُ غريبًا، وسَيَعُودُ غريبًا كما بدَأَ ، فطُوبَى للغرباءِ

“Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut”.  

Sejak diangkatnya pemuda yang dikenal mulia dari segi nasab dan akhlaknya menjadi Nabi yang terakhir di kota Mekkah, maka pada saat itulah dikenal agama yang benar-benar asing. Penduduk Mekkah menyebut baginda yang mulia dan para Sahabat yang mengikutinya dengan julukan Ash-Sabi’. Sebuah julukan yang digunakan untuk menyebutkan orang yang keluar dari agama nenek moyang dan memeluk agama yang diserukan Rasulullah. Julukan yang tabu bahkan tidak diinginkan oleh sebagian pembesar dan warga Quraisy pada waktu itu.

Namun, orang-orang yang mencari kebenaran sematalah yang mau mengambil Islam. Meskipun mereka harus mengalami kelaparan, penyiksaan, tekanan, pemboikatan, fitnah, bahkan sampai kehilangan nyawa dan keluarga.

Hingga pada akhirnya Rasulullah Saw hijrah ke Yatsrib pada tahun pertama Hijriah. Di kota yang disebut dengan Madinah al-Munawwaroh yang merupakan Negara Islam pertama yang didirikan Rasulullah saw, Islampun kian berkembang. Dan orang-orangpun berbondong-bondong masuk Islam setelah mengetahui kebenarannya dan merasakan betapa sempurnanya ajaran ketika diterapkan oleh Negara dalam bentuk Kekhilafahan. Hal yang wajar, karena Islam berasal dari Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Layaknya Pencipta, tentu Allah-lah yang paling memahami apa yang dibutuhkan oleh manusia dan yang terbaik untuk alam semesta dan kehidupan.

Kebenaran pun kian bersinar gemilang di muka bumi sejak Rasulullah saw berhasil menerapkan aturan Islam secara menyeluruh kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin dan pemimpin-pemimpin kaum Muslimin setelahnya. Bahkan sinarnya tidak hanya meliputi wilayah arab, namun secara pasti menyinari wilayah lain sampai melebihi separuh belahan dunia. Allah telah menyatakan di dalam Alquran,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

“Dan harus ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan Islam, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; (merekalah orang-orang yang beruntung) memperoleh kemenangan.” (Tafsir Jalalain Juz I/397)

Allah pun telah mewajibkan Khalifah/ Imam untuk mencegah segala bentuk tindak keharaman. Jika untuk melaksanakan tugas tersebut dia harus menggunakan kekuatan fisik, maka dia juga wajib menggunakannya. Negara secara syar’i bertanggung jawab untuk menerapkan Islam dan memaksa masyarakat untuk terikat dengan hukum-hukum Islam. Dan hal ini berlangsung lebih dari 13 abad hingga akhirnya Negara Islam yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Saw runtuh pada tahun 1924.

Maka pada saat itulah kondisi kaum muslim menjadi kian melemah dan terasing (Ghuroba). Keberadaan mereka sekarang tak ubahnya seperti periode awal ketika Islam muncul di muka bumi. Apa yang menimpa Rasulullah dan para pengikutnya di masa awal akan kembali dirasakan oleh orang-orang yang mencari kebenaran. Kelaparan, penyiksaan, tekanan, pemboikatan, fitnah, kehilangan nyawa dan keluarga yang terjadi di masa lampau telah jelas nampak terulang pada hari ini. 

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya agama (ini) akan terhimpun dan berkumpul menuju Hijaz layaknya terhimpun dan terkumpulnya ular menuju liangnya, dan sungguh (demi Allah) agama (ini) akan ditahan (untuk pergi) dari Hijaz sebagaimana (ditahannya) panji (yang merupakan tempat kembali di mana kaum Muslim kembali padanya ) dari puncak gunung. Sesungguhnya agama ini muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku.” (Diriwayatkan oleh Umar bin Auf bin Zaid bin Milhah al-Mazani radhiyallaahu ‘anhu, Abû Issa berkata, “Hadits ini hasan”)

Al-Ghuroba dalam hadits di atas bukanlah ditujukan pada sahabat yang mengalami keterasingan pada saat awal kemunculan Islam, karena mereka datang setelah ada manusia yang merusak metode kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Sedangkan para sahabat tidak merusak metode kehidupan Rasul, dan metode tersebut belum rusak di jaman para sahabat. 

Nyatalah pada hari ini. Di tengah banyaknya penganut Islam sebagai kebenaran, namun kebenaran itu tidak mampu dihadirkan di tengah masyarakat dan Negara. Beratnya menggenggam kebenaran hari ini laksana menggenggam bara api. Namun Rasulullah Saw memuji para Ghuroba. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Abu Malik berkata, maka kami bertanya kepada Rasulullah ketika beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bukan para nabi dan syuhada tapi para nabi dan syuhada tergiur oleh mereka karena dekatnya kedudukan mereka dari Allah di hari kiamat.”

Abu Malik berkata, diantara orang-orang yang ada pada saat itu ada seorang Arab pedalaman, kemudian ia duduk berlutut dan menahan dengan kedua tangannya, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang mereka, siapa mereka itu?” Abu Malik berkata; aku melihat wajah Rasulullah menengok ke sana kemari (mencari orang yang bertanya). Kemudian beliau bersabda:“Mereka adalah hamba-hamba Allah dari negeri yang berbeda-beda dan dari berbagai suku bangsa yang berasal dari berbagai rahim; tapi mereka tidak mempunyai hubungan rahim (senasab) yang menjadi penyebab mereka saling menyambungkannya (silaturahim) karena Allah. Mereka tidak memiliki harta untuk saling memberi. Mereka saling mencintai dengan (ikatan) “ruh” Allah. Allah menjadikan wajah mereka menjadi cahaya. mereka memiliki mimbar-mimbar di hadapan ar Rahmán. Manusia terkaget-kaget tapi mereka tidak. Ketika manusia merasa takut, mereka tidak”.

Seluruh riwayat telah menyepakati bahwa mereka (Al-Ghuroba) bukanlah para nabi dan Syuhada. Namun mereka memperoleh kedudukan seperti itu semata-mata karena memilih menjadi orang yang senantiasa mencari dan menyebarkan kebenaran di keterasingan zaman. Siap untuk memperolehnya? []

Oleh: Novida Sari, Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar