TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menanti Kepak Sayap dan Janji Merpati


Ibarat peribahasa Merpati Tak Pernah Ingkar janji, begitulah kira-kira harapan eks karyawan PT. MNA (Merpati Nusantara Airlines) sejak perusahaan ini ditutup operasional penerbangannya tahun 2014 lalu. Karena sampai tulisan ini diangkat pesangon karyawan yang dijanjikan belum turun sepenuhnya ketangan mereka.

Seperti yang dilangsir kompas.tv, 02/09/2020, PT. MNA yang kini menyisakan bisnis Maintenance Repair and Overhaul (MRO), Training Centre dan Kargo, baru-baru ini mengabarkan akan mendatangkan beberapa pesawat buatan Airbus. Airbus A320neo dan Airbus A321neo. Namun sekali lagi pesawat yang dikabarkan akan datang dari pertengahan Agustus lalu, hingga detik ini belum ada menampakkan tanda-tanda telah parkir di bandara manapun juga di negeri ini.

Banyak kalangan dari pihak eks karyawan PT. MNA mengharapkan jika memang perusahaan akan bangkit kembali dari mati suri, hendaknya terlebih dahulu membayar hutang pesangon  yang belum ditunaikan kepada mereka. Beberapa kalangan juga ada yang pesimis PT. MNA akan bangkit kembali dari kuburnya. Ada beberapa hal menarik yang bisa dianalisis dari fenomena bangkitnya perusahaan yang notabene adalah perusahaan BUMN ini:

Pertama, ditengah masih berlangsungnya pandemi saat ini yang mengakibatkan resesi ekonomi global dan bangkrutnya beberapa maskapai raksasa dunia, wacana menggeliatnya PT. MNA dari tidurnya seolah-olah menjadi semacam angin segar bagi masyarakat penerbangan Indonesia pada umumnya. Dimana jika ini terealisasi maka akan mampu menyerap SDM yang cukup banyak. Namun perlu dipertanyakan, dari mana sumber dana akan diperoleh. Apakah dari dukungan beberapa BUMN lagi ataukah dari investor swasta. 

Seperti yang sudah diketahui bahwa operasional Kargo yang dijalankan PT. MNA sejak 10 November 2019 adalah dukungan dari 10 BUMN. Dan wacana akan terbangnya PT. MNA kembali besar kemungkinan akan dilepas ke investor swasta. Jika tidak negara akan kembali menghidupkan PT. MNA dengan berbasis pinjaman hutang berbunga luar negeri. Mengingat resesi yang tengah menghantui dunia termasuk Indonesia sendiri mungkinkah ini terealisasi dalam waktu dekat ini?

Kedua, jangankan untuk mengepakkan sayapnya untuk terbang lagi, membayar pesangon eks karyawannya saja PT. MNA masih belum berdaya. Apalagi investor yang digadang-gadang akan menggandeng perusahaan ini adalah investor yang sama pernah menggandeng airlines swasta yg lain namun bangkrut juga ditangan investor ini. Bisa dikatakan nasib PT. MNA masih diujung tanduk. Jangan sampai keluar kandang harimau lalu terperosok ke lubang buaya.

Ketiga, jika mengingat awal mula bangkrutnya PT. MNA selain buruknya tata kelola perusahaan juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang membuka lebar perusahaan-perusahaan penerbangan swasta sehingga menjamur kala itu. Seharusnya PT. MNA sebagai perusahaan milik negara bisa dipertahankan keberadaannya. Ini membuktikan negara gagal mempertahankan fasilitas publik dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan transportasi yang memadai. Belum lagi besarnya animo masyarakat dan keinginan agar PT. MNA dihidupkan lagi karena sebagai maskapai legendaris Merpati cukup mendapat tempat dihati para pelanggannya.

Keempat, manajemen perusahaan yang buruk dan besarnya hutang hingga hampir mencapai 7 Trilyun telah membuat PT. MNA menjadi perusahaan penerbangan pesakitan. Keputusan pengadaan pesawat dari China berupa beberapa buah  pesawat MA 60 dengan jalan hutang juga disebut-sebut menjadi salah satu kegagalan perusahaan. Pameo politis berupa istilah hutangkan, bikin rugi dan biarkan mati agar bisa dikuasai agaknya juga dialami PT. MNA.  

Kelima, sistem politik pemerintahan yang dijalankan di negeri ini juga telah mengambil porsi yang tidak sedikit atas upaya pembunuhan PT. MNA dimasa lalu. Pemerintah sebagai pihak yang harusnya  mendahulukan kebutuhan rakyat akan fasilitas umum berupa moda transportasi udara, dalam hal ini telah berlepas tangan. PT. MNA dibiarkan mengurus dirinya sendiri bahkan kehabisan udara untuk bernapas hingga mati lemas seperti nasib BUMN yang lain.

Lantas bagaimana menyikapi hal ini, haruskah satu persatu perusahaan negara mengalami hal serupa. Adakah pandangan politis ideologis lain yang sanggup memecahkan polemik dunia penerbangan khususnya, apalagi ditengah situasi pandemik ini.

Pandangan Syari'ah Tentang Transportasi Umum

Islam mempunyai pandangan yang khas terutama kepada hal yang menyangkut kebutuhan  rakyat. Islam dengan aturannya yang kompleks meliputi seluruh sendi kehidupan, termasuk mengajarkan agar negara  bertanggung jawab mengelola fasilitas umum dengan sebaik-baiknya bahkan sampai tingkat cuma-cuma alias gratis. Karyawan digaji oleh negara dan perusahaan tidak menargetkan keuntungan dari rakyat. Dalam hal ini negara tidak menempatkan rakyat sebagai sasaran bisnis. Namun sebagai tanggung jawab untuk dipenuhi kebutuhannya selain dari beberapa kebutuhan pokok lainnya.

Adalah negara Turki Utsmani negara adidaya masa kekhilafahan Islam telah menjadi role model negara yang menyediakan fasilitas umum dan transportasi yang terdepan dizamannya. Negara superpower masa itu yang mampu menyediakan transportasi tercanggih kala itu bahkan gratis. Berbanding terbalik dengan peradaban barat yang sedang menguasai dunia saat ini. Terbukti belum ada negara adikuasa saat ini yang mampu menandingi dan menyediakan fasilitas berupa transportasi yang gratis untuk warga negaranya.

Turki Utsmani dengan basis negara yang menempatkan warga negara sebagai pertanggungjawabannya kepada Allah semata, telah berhasil membangun moda transportasi berupa kereta api Hijaz sampai ke Mekah. Sehingga keberangkatan Haji dapat ditempuh dengan lebih cepat tanpa dipungut biaya. Sampai saat ini jejak peninggalan sejarah kereta api Hijaz ini masih bisa ditemukan.

Dengan demikian tak ada jalan lain untuk membangun fasilitas transportasi yang layak di masa depan, selain merubah paradigma berpikir negeri ini dari paradigma kapitalis ke paradigma Islam. Karna dalam Islam fasilitas umum bukan untuk dikapitalisasi. Wallahua'lam.[]

Oleh: Eqhalifha Murad
Eks Pramugari, Analis Data dan Pemerhati Sosial Politik Islam



Posting Komentar

0 Komentar