TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 dengan Islam

Pandemi Covid-19 belum berakhir, hal ini dibuktikan dengan penambahan kasus Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah sedangkan tanda-tanda kurva melandai pun belum ada. Per tanggal 7 September 2020, kasus positif sudah mencapai angka 196.989, pasien sembuh 140.652, dan meninggal mencapai 8.130 (covid19.go.id). Di antara yang meninggal pun banyak tenaga kesehatan yang telah gugur dalam menjalankan tugasnya memberantas Covid-19. Bahkan, kematian tenaga kesehatan Indonesia akibat Covid-19 masuk daftar salah satu yang tertinggi di dunia (tempo.co/05/09/2020). 

Berbagai regulasi telah ditetapkan dan dilaksanakan sejak awal wabah Covid-19 melanda Indonesia. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Social Distancing, penggunaan masker, hingga pembiasaan mencuci tangan telah diterapkan di Indonesia, namun itu semua tak mempengaruhi angka penurunan kasus Covid-19. Pandemi belum berakhir, pemerintah malah menerapkan New Normal yang digadang-gadang mampu menyelamatkan perekonomian yang lumpuh akibat Covid-19 di Indonesia . Namun, alih-alih ingin memulihkan ekonomi yang lumpuh, justru kasus Covid-19 tak semakin menurun.  

Angka kasus yang terus meningkat akhir-akhir ini lebih didominasi oleh orang-orang yang tak bergejala (OTG). Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus positif virus Corona yang baru ditemukan kebanyakan berstatus sebagai OTG. Yurianto juga menyatakan pasien dengan status OTG sama sekali tak merasakan sakit apapun meski sudah dinyatakan positif Covid-19. (cnnindonesia.com, 12/07/2020)

Penanganan pada pasien OTG selama ini di beberapa wilayah adalah dengan melakukan isolasi mandiri di rumah yang diharapkan mampu mengurangi beban tenaga kesehatan dan juga efisien waktu dan tempat. Namun, tidak semua pasien OTG memiliki kesadaran untuk melakukan isolasi mandiri di rumah, bahkan tidak semua mampu mengisolasi diri dengan baik di rumah. Beberapa epidemiologi pun juga pernah melontarkan kritik atas isolasi mandiri karena dianggap tidak bisa menjamin apakah pasien akan benar-benar bisa melakukan isolasi mandiri dengan baik apalagi tanpa pengawasan ketat. 

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan melarang melakukan isolasi mandiri di rumah bagi pasien Covid-19 yang bergejala ringan dan OTG di Ibu Kota. Mereka yang bergejala ringan dan OTG akan diisolasi di tempat isolasi milik pemerintah. 

Namun, rencana Pemprov DKI mengkarantina semua warga positif Covid-19 baik yang bergejala maupun tak bergejala ternyata dianggap buruk oleh sebagian anggota DPRD DKI Jakarta karena menabrak realita kegagalan pemerintah menyiapkan tenaga kesehatan, anggaran, dan fasilitas kesehatan yang memadai. Anggota DPRD DKI Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak mengecam kebijakan ini karena menurutnya akan menambah beban tenaga medis (akurat.co/04/09/2020). Padahal secara logis, inilah pilihan terbaik yang seharusnya diambil sejak awal wabah menimpa negeri ini untuk menghentikan sebaran virus. Sebab secara ilmiah, isolasi mandiri memang tidak efektif untuk menghentikan sebaran virus. 

Berkaca dari apa yang terjadi, sungguh Islam telah memiliki solusi yang tuntas. Tentu karena Islam adalah agama yang paripurna, agama yang tak sekedar mengajarkan ibadah ritual namun juga menjadi ideologi yang lengkap, sebab islam mengatur segala hal dan memberikan solusi. Islam terlebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. 

Dalam sejarah, wabah penyakit menular juga pernah terjadi pada masa Rasulullah 
saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda: 
Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta. (HR 
al-Bukhari).

Dikutip dalam buku berjudul, Rahasia Sehat Ala Rasulullah saw : Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi karya Nabil Thawil, pada zaman Rasulullah saw, jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari).

Namun, tentu saja karantina yang diterapkan adalah hanya untuk para penderita, sedangkan yang sehat tetap bisa melakukan aktivitas kesehariannya tanpa perlu dikarantina. Inilah metode yang benar dan tepat, bukan malah menerapkan lockdown total (blanket lockdown). Diberlakukannya lockdown total justru tidak menyelesaikan masalah, sebab yang sehat pun terhambat aktivitasnya, sehingga perekonomian macet total yang tentu akan berdampak pada yang lain. Urusan kesehatan belum selesai, ditambah dengan masalah ekonomi yang macet akan semakin menambah rumit permasalahan yang terjadi dan berpotensi mengalami krisis. 

Selain menerapkan karantina bagi penderita wabah, negara juga wajib menjamin kebutuhan sehari-hari para penderita yang dikarantina. Di samping itu, negara juga harus memastikan fasilitas kesehatan serta sarana yang memadai selama karantina. Mulai dari menjamin kebutuhan tenaga medis yang mengobati para penderita selama bertugas, yaitu menyediakan APD yang lengkap dan sesuai standar kesehatan, memberikan suplemen kesehatan, menyediakan fasilitas kesehatan yang sesuai standar serta mencukupi kebutuhan obat-obatan. Pemenuhan semua fasilitas dan sarana ini bisa diwujudkan dengan sumber anggaran yang ditetapkan oleh syariat islam. Jika sumber anggaran tersebut tidak mencukupi maka negara berhak dan boleh mengumpulkan harta dari rakyat yang mampu untuk menutupi kekurangan dana tersebut. 

Demikianlah Islam secara sempurna telah terbukti mampu menyelesaikan masalah wabah tanpa menambah masalah lagi. Maka sudah seharusnya umat sadar untuk kembali kepada aturan Islam dengan menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi dalam setiap masalah dan sebagai aturan dalam hidup dan bernegara.[]

Oleh: Yuchyil Firdausi, S.Farm.,Apt
(Apoteker Praktisi Kesehatan)

Posting Komentar

0 Komentar