TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mempersoalkan Frasa 'Kafir' adalah Tindakan yang Terkategori Melakukan Penistaan Terhadap Agama Islam


[Catatan Hukum Sidang Kriminalisasi Terhadap Ali Baharsyah, Membela Muslim Uighur Berujung Bui]

Salah satu unsur krusial dari pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah adanya ungkapan, kata atau frasa yang wajib dibuktikan sebagai satu ungkapan, kata atau frasa yang mengandung kebencian dan permusuhan terhadap individu atau kelompok masyarakat berdasarkan Suku Agama Ras dan Antar Golongan (SARA). Untuk membuktikannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) wajib menghadirkan Ahli Bahasa untuk membuktikan unsur dari aspek kebahasaan.

Pada sidang agenda pemeriksaan keterangan ahli, Kamis (17/9/2020) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, JPU menghadirkan Ahli Saudara Sriyanto MM MPD. Adapun, redaksi bahasa yang dipersoalkan oleh JPU adalah unggahan video Ali Baharsyah yang redaksinya sebagai berikut :

"...... keturunan *China Kafir* di Indonesia bebas beribadah, ada yang jadi pengusaha, pejabat...... kondisi ini berbanding terbalik dengan umat Islam Uyghur yang hidup di Xinjiang, mereka dipaksa melepaskan Aqidah nya, mereka dianiaya, disiksa........"

Saat Penasehat Hukum Ali Baharsyah, Chandra Purna Irawan memperdalam keterangan, ahli mengatakan terdakwa Ali Baharsyah terkena delik SARA karena mengucapkan frasa “Cina kafir”. Namun, saat ditanya bagaimana jika ungkapannya adalah "Cina Muslim" apakah mengandung delik SARA ? ahli menjawab lugas , “Itu tidak masuk delik SARA".

Ketika Penasehat Hukum Terdakwa mempertajam pertanyaannya, “Berarti kata kafirnya yang bermasalah ya?” Ahli bahasa dari JPU itu terlihat kebingungan, dan mendiamkannya tanda membenarkan.

Saat ditanya bagaimana terkait status di media sosial, yang mengutip Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 17, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam". Ahli bahasa dari JPU menegaskan tidak ada kalimat SARA dalam rumusan redaksi dimaksud.

Keterangan ahli ini menimbulkan dua implikasi penting secara Pidana, yaitu :

Pertama, jika frasa 'China Kafir' dianggap memenuhi unsur delik pidana SARA, maka pernyataan ini sangat berbahaya. Sebab, frasa 'Kafir' adalah frasa yang berasal dari bahasa Al Qur'an. Mempersoalkan frasa 'Kafir' berarti mempersiapkan Al Qur'an, Kalamullah yang pasti benar.

Bagi umat Islam, Al Qur'an baik sebagian maupun keseluruhannya adalah Kalamullah, yakni Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril, membacanya merupakan suatu ibadah. Mempersoalkan bahasa atau ungkapan dari Al Qur'an baik sebagian atau keseluruhannya, berarti melecehkan Al Qur'an yang dalam hal ini dapat dikategorikan menista Agama Islam.

Mempersoalkan kata 'Kafir' yang bersumber dari Al Qur'an sebagai ungkapan SARA jelas merupakan pidana penistaan terhadap agama Islam. Sebab, dalam Islam ungkapan atau frasa 'kafir' bukanlah ungkapan kebencian dan permusuhan, namun merupakan atribut yang disematkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk klasifikasi bagi golongan manusia berdasarkan keimanannya.

Didalam syariat Islam, orang kafir Ahludz Dzimah bahkan mendapat perlindungan penuh baik diri, harta dan kehormatannya. Tidak boleh mencela, membenci atau memusuhinya. Jika ada yang melakukan tindakan permusuhan kepada Kafir Ahludz Dzimah maka sama saja memusuhi Allah SWT dan rasul-Nya.

Adapun jika orang kafir itu memusuhi Islam, apalagi memerangi umat Islam, wajar saja jika umat Islam melakukan perlawanan. Sebab agama Islam memberi perintah kepada umat Islam untuk berjihad membela agama, diri, harta dan kehormatannya.

Mempersoalkan ujaran 'Cina Kafir' telah memenuhi unsur menista agama, sebagaimana diatur dalam pasal 156a KUHP yang menyatakan :

"Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan, a. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia".

Kedua, jika frasa 'Kafir' pada ungkapan 'Cina Kafir' bukan termasuk delik pidana SARA karena sejalan dengan pernyataan Ahli yang menyatakan ayat : “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam", tidak atau bukan termasuk kalimat SARA, maka demi hukum Ali Baharsyah harus dibebaskan dari dakwaan (bebas murni).

Karena itu, hakim wajib berhati-hati mengadili perkara ini. Mempersoalkan frasa 'Kafir' yang merupakan bahasa Al Qur'an, dapat dikategorikan melakukan penistaan terhadap agama Islam.

Bahaya sekali, jika sampai ada putusan pengadilan yang melegitimasi penodaan terhadap agama Islam dengan mempersoalkan frasa 'Kafir'. Dan jika itu sampai terjadi, akan menjadi presiden buruk dan pasti akan berbuntut panjang. Sebab, Umat Islam tak akan diam bahasa Al Qur'an dideskreditkan sebagai Delik pidana SARA. [].

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Advokat Pejuang Khilafah

Posting Komentar

0 Komentar