TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Arah Baru Halu


Sedang ramai membahas pelopor gerakan arah baru yang kini merapat dalam lingkaran dinasti politik rezim. Partai baru yang digadang-gadang menawarkan arah baru politik Indonesia kini berbeda. Lain kata, lain pula perbuatan. Jika dulu ia begitu getol mengkritik pemerintahan Jokowi. Kini partainya berbalik mendukung Gibran Rakabuming Raka sebagai calon walikota Solo dan Bobby Nasution sebagai calon walikota Medan. Keduanya adalah anak dan menantu Jokowi. 

Konon, kalau sudah pernah menginjakkan kaki di Istana Raja, isi kepala bisa berubah. Faktanya sudah banyak. Awalnya garang bagai singa. Setelah bertemu Raja di Istana, melembek seperti kucing manja. Ada komentar netizen yang cukup menggelitik nurani politik hari ini. "Sisakan rasa ketidakpercayaan kepada politisi oposisi dan tokoh oposisi lainnya." Memang tidak mudah membangun kepercayaan dalam politik demokrasi. Karena dalam demokrasi tidak ada kawan atau lawan abadi. Kalaupun ada yang bertandang ke kandang lawan, itu hanya karena mereka memiliki kepentingan bagi diri dan partainya. Pun sebaliknya. 

Jika ada kawan berubah menjadi lawan, itu juga termotivasi kepentingan diri dan partai mereka. Tidak lebih. Dalam kamus politik demokrasi, tidak ada prinsip keikhlasan saling memberi. Karena saling memberinya mereka lantaran ada kepentingan yang hendak diraihnya. Jadi, tidak perlu heran bila semakin banyak politisi didikan demokrasi berpindah haluan. Ibarat kata orang jawa, "Isuk dele sore tempe. Ngomonge mencla mencle. Abang-abang lambe". (Pagi kedelai, sore tempe. Bicaranya plin plan. Hanya membual) 

Meski berkali dikibuli, umat masih saja tertipu dengan sosok dan ucapan berapi-api politisi sistem demokrasi. Seolah mereka garda terdepan membela kepentingan rakyat. Padahal, mestinya umat semakin sadar. Berharap pada politik demokrasi itu hanya membuat kekecewaan berulang. Fokus pada perbaikan sosok. Namun luput dari perubahan untuk mengganti sistem demokrasi yang sudah reot. Apa baiknya demokrasi? Vox populi vox dei itu hanya tong kosong nyaring bunyinya. Saat pemilu, mereka butuh suara. Saat menang, mereka berkata telah memenangkan suara rakyat. Tapi ketika sudah berkuasa, mereka melupakan suara rakyat yang memilihnya. 

Politik demokrasi tidak bisa melahirkan pemimpin amanah. Mereka hanya 'amanah' pada pemilik modal kampanyenya. Mereka hanya loyal pada kepentingan partainya. Bukan kepentingan rakyat. Menetapkan arah baru bukan  dengan narasi halu. Sekadar menggebu-gebu tapi ia bagai debu. Yang begini disebut arah baru palsu. 

Arah baru yang hakiki itu manakala kita melakukan perubahan mendasar. Perubahan dari sistem usang menuju sistem gemilang. Sistem yang tidak rentan kepentingan. Sistem yang hanya dijalankan oleh mereka yang beriman pada Tuhannya. Sistem yang sudah teruji ketahanannya. Perubahan dengan sistem Islam. 

Islam sebagai napas dalam berpolitik. Sebab, politik dalam Islam bukan sekadar meraih kekuasaan. Politik dalam Islam adalah riayah su'unil ummat (mengurusi urusan umat). Bukan untuk berbagi kue kekuasaan. Sebab, politisi Islam sejati adalah dia berjuang untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada umat. Ia berjuang untuk melanjutkan kehidupan Islam. Arah baru itu harusnya orisinil. Tanpa embel-embel kepentingan dan nafsu kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Masih percaya demokrasi? Saya sih ogah. Bagaimana dengan Anda?

Oleh: Chusnatul Jannah - Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar