TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Membungkam Mahasiswa Dengan Pakta Integritas




Awal perkuliahan ajaran tahun 2020/2021 seharusnya menjadi awal yang bahagia bagi mahasiswa baru, karena mereka kini telah resmi berkuliah di PTS maupun PTN yang mereka inginkan, namun tahun ajaran baru ini harus dihebohkan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh kampus, yakni Universitas Indonesia yakni adanya aturan baru, yang mana mahasiswa baru harus menandatangi dokumen Pakta Integritas. 

Hal tersebut mendapat respon dari berbagai kalangan, salah satunya dari ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI Fajar. Fajar menyangkan dengan adanya Pakta Integritas tersebut, karena ada beberapa poin dimana mahasiswa tidak boleh terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara. Mahasiswa juga disebut tidak boleh mengikuti kegiatan yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang tidak mendapat izin resmi pimpinan fakultas atau kampus. 

Poin tersebut dinilai mengekang kehidupan dalam berdemokrasi mahasiswa, salah satunya yakni mahasiswa tidak dapat mengkritik kebijakan pemerintah atau melakukan aksi demokrasi. (Dilansir CNN Indonesia 13/09/2020). 

Dengan adanya pakta tersebut yang mewajibkan mahasiswa baru untuk menandatangi diatas materai, menunjukkan semakin otoriternya sikap kampus terhadap mahasiwa. Kebijakan tersebut digunakan untuk membungkam sikap kritis mahasiswa bukan kali ini saja kampus mencoba untuk membungkam suara mahasiswa, pada tahun 2019, dimana seorang mahasiswa bernama Hikma Sanggala harus di DO dari kampus karena menyuarakan Khilafah. Dengan alasan menyebarkan konten-konten yang mencederai sehingga terkena pasal yang berkaitan dengan kode etik. Kemudian, di UGM acara diskusi dirusak dan pembicara diintimidasi serta diteror. 

Aturan tersebut tidak lain untuk memberangus kritis mahasiswa dengan stigma radikalisme fundamentalis kelompok yang tidak sesuai dengan pemerintah. Adanya pakta ini kampus bertindak semakin represif kualitas mahasiswa yang terbentuk mahasiswa apatis, apolitis dan pragmatis terhadap kebijakan rezim. Dengan pakta tersebut, kedzaliman rezim akan berjalan tanpa kritik, korupsi bebas, kebijakan rezim pro asing-aseng. Hingga pada akhirnya penderitaan rakyat kecil semakin bertambah.

Munculnya pakta integritas ini, menunjukkan semakin bobroknya sistem pendidikan saat ini yang tidak dapat mengoptimalkan potensi mahasiswa sebagai agen perubahan. Sistem Pendidikan dalam sistem Kapitalis dijadikan lahan bisnis, terjadinya perkawinan antara pendidikan dengan industri, sehingga kurikulum harus disesuikan dengan kebutuhan industri yang saat ini terus berubah. Mengakibatkan mahasiswa bersikap individualis tanpa memperdulikan permasalahan rakyat.

Seharusnya kampus melakukan pembinaan politik tehadap mahasiswa, bagaimanapun kita sebagai mahasiswa salah satu bagian dari masyarakat tetap bersinggungan dengan politik entah sebagai subyek maupun obyek. 

Memahamkan politik kepada insan akademis dalam pendidikan hanya bisa dirasakan jika sistem yang adalah Khilafah. Didalam Khilafah politik bukan diartikan pertarungan kekuasan sebagaimana sistem demokrasi saat ini. politik dalam Islam bermakna mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syariat Islam. Memikirkan umat Islam hukumnya fardlu ain (wajib).

Inilah makna politik dalam Islam yang akan dibentuk dalam Khilafah termasuk dalam instansi perguruan tinggi, hal tersebut akan direalisasikan melalui kurikulum dan materi pelajaran yang memuat dua tujuan pokok pendidikan Islam yaitu:

1) Membangun kepribadian Islami, pola pikir atau akliah serta jiwa atau nafsiah umat yaitu dengan menanamkan staqofah Islam berupa aqidah Islam, pemikiran serta perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak didik.

2) Mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar diantara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli disetiap aspek kehidupan, baik dalam ilmu keislaman (ijtihad, fiqih, peradilan dll) maupun ilmu terapan seperti (teknik, kimia, fisika, kedokteran, arsitek). 

Ulama-ulama yang mumpuni akan membawa negara dan umat Islam keposisi puncak diantara bangsa-bangsa lain bukan sekedar pengekor maupun agen pemikiran negara lain dengan mekanisme kurikulum seperti ini mahasiswa akan didorong terlibat didalam menghadirkan solusi permasalahan didalam masyarakat. Hasil sistem pendidikan didalam Khilafah akan menghasilkan para intelektual yang kritis dan paham bagaimana urusan kebutuhan umat. 

Baik mahasiswa, pengemban dakwah mengambil bagian perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah, dan janganlah takut untuk tetap kritis menyuarakan kebenaran. Sungguh telah jelas kerusakan menimpa kita karena kita jauh dari kehidupan Islam. Islam mengajak kita kepada petunjuk Allah Subhanahu wa ta’ala dan penerapan Islam dalam Khilafah membawa keberkahan dunia-akhirat.[]

Oleh: Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar