TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Memahami "Perselingkuhan" Ideologi Kapitalisme-Sosialisme

Di seluruh dunia saat ini, tidak ada satupun Negara Kapitalis ataupun Sosialis sejati yang totalitas menerapkan prinsip dasar ideology masing-masing. Terjadi tambal sulam alias perselingkuhan ideologi Kapitalisme-sosialisme

Contoh yang paling sederhana adalah kebijakan pajak. Pajak merupakan bentuk penguasaan asset individu oleh Negara. Ini merupakan konsep ideology sosialis. Di Negara Sosialis, pada titik yang paling ekstrim semua asset individu harus diserahkan kepada Negara, alias pajak 100%.

Sebaliknya di Negara Kapitalis pada titik paling ekstrim tidak ada pajak. Hidup matinya individu tergantung pada kemampuan; yang kuat bertahan yang lemah mati, sesuai hukum seleksi alam. Semua diserahkan pada masing-masing individu yang bebas melakukan apa saja untuk bertahan hidup.

Hari ini, hampir seluruh Negara di dunia mengenakan pajak yang sangat besar. Bahkan negara Kapitalis terkemuka justru pajak semakin besar. Bisa lebih dari 50% seperti Swedia, Jepang, Austria, Belanda, Belgia dan Denmark. Diatas 40% di Irlandia, Australia, Perancis dan Jerman.

Di China pajak diatas 40%, tentu bisa difahami sebab dunia menganggap China sebagai representasi Negara sosialis, yakni sosialis parlente, yang jauh dari rupa kusam ala kaum proletar seperti bayangan Marx.

Situasi ini menjelaskan bahwa telah terjadi “perselingkuhan” ideology Kapitalis – Sosialis. Kenapa terjadi Perselingkuhan Ideologi tersebut? Penulis mengurai setidaknya dengan 3 (tiga) sebab:

Pertama, ide dasar (Aqidah) Ideologi Sosialis adalah Atheis. Diatas ide dasar atheis, manusialah yang berperan membuat aturan/undang-undang kehidupan. Kondisi ini sebetulnya tidak berbeda dengan Kapitalisme dengan ide dasar sekuler yang juga meniscayakan aturan kehidupan dibuat oleh manusia. 

Meskipun secara aqidah nampak berbeda, yang satu Atheis dan yang satunya sekuler. Namun, keduanya tidak pernah memandang “haram” terjadinya perselingkuhan ide tentang peradaban. Sehingga corak peradaban yang dihasilkan sama saja. 

Terbukti, kritik keras Karl Marx kepada Kapitalis, sedikitpun tidak menggoyahkan apalagi menggeser dominasi ideology Kapitalis terhadap dunia. Justru ide-ide yang lahir dari Karl Marx (Sosialis) kemudian diadopsi oleh Kapitalis untuk menutupi bobrok ideology. 

Maka, Karl Marx lebih cocok disebut sebagai kontributor utama terhadap kapitalis yang hampir jatuh. Namun karena “masukan” Karl Marx kembali mapan dan bertahan hingga kini.

Kedua, baik Sosialis maupun Komunis sama-sama menjadikan standar manfaat sebagai tolok ukur perbuatan. Dengan standar manfaat ini maka keduanya melakukan apa saja yang dipandang mendatangkan maslahat. 

Tidak peduli halal-haram, melanggar prinsip atau tidak. Pelanggaran terhadap prinsip akan dibungkus dengan istilah-istilah baru untuk mengelabui. Welfare state untuk Negara Kapitalis yang mangadopsi ide distribusi ekonomi ala sosialis. Kebijakan “ekonomi terbuka” untuk Negara sosialis yang akan mengadopsi ide privatisasi ekonomi ala Kapitalis. 

Ketiga, sama-sama terinspirasi dari Eropa pagan. Pagan dapat diartikan sebagai peradaban yang belum mengenal Agama. Kapitalis dan Sosialis lahir di Eropa pada masa Renaissance. Renaissance dapat juga didefenisikan sebagai paganisasi kembali Eropa seiring dengan memudarnya pamor gereja mengatur urusan Negara.

Ide kedua ideology ini banyak terinspirasi oleh para pemikir Yunani kuno yang hidup pada masa pagan seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Epicurus, Tales, dll. Artinya keduanya sama-sama berasal dari sumber ilmu yang sama.

Dua pihak yang memiliki “sanad” ilmu yang sama akan banyak bersepakat pada persoalan-persoalan mendasar. Kalaupun mereka bertengkar, itu lebih kepada persoalan-persoalan yang bersifat teknis. 

Jika Negara Barat lebih suka memakai istilah Demokrasi sebagai bentuk pemerintahan, maka negara Sosialis lebih nyaman dengan istilah “Republic”. Tapi esensi keduanya sama saja, yakni eksploitasi rakyat atas nama rakyat.

Maka tidak perlu heran, perselingkuhan konsep tentang peradaban akan terus terjadi. Bongkar pasang ide akan terus dilakukan, yang menghabiskan energy, destructive tentunya mengorbankan nyawa manusia yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, fikiran waras tidak akan membiarkan kondisi ini terus terjadi. Fitrah manusia menolak penindasan, eksploitasi dan kehancuran tatanan kehidupan. Maka solusinya haruslah kembali pada sudut pandang (ideology) yang sesuai fitrah manusia yakni Islam. Islam merupakan kebalikan dari 3 hal tersebut, yakni: 

Pertama, aqidah Islam. Aqidah Islam yang bening mengharuskan penganutnya menjadikan aturan Islam sebagai satu-satunya aturan yang mengatur seluruh lini kehidupan. Diatas aqidah Islam akan lahir corak peradaban yang sama sekali berbeda dengan peradaban Kapitalis. 

Perilaku dan kecenderungan manusia yang beraqidah Islam jelas sangat berbeda dengan perilaku manusia panganut Kapitalisme. Misalnya, mukmin sejati menolak transaksi ribawi karena haram, sedangkan dalam Kapitalisme transaksi ribawi merupakan salah satu pilar ekonomi. 

Bisa dibayangkan jika seluruh kaum muslim di dunia menghentikan transaksi ribawi, dapat dipastikan saat itu juga kapitalis menemui ajal.
 
Jadi, akidah sekuler kapitalis terlihat sangatlah ringkih jika dihantam dengan aqidah Islam bukan dengan atheis Marxis. 

Kedua, sebagai konsekwensi point 1, dengan sendirinya standar halal haram menjadi acuan dalam mengatur kehidupan, bukan standar manfaat.

Betapa banyak sesuatu yang bermanfaat menurut fikiran manusia justru sangat destruktif. Seperti konsep kebebasan kepemilikian yang melahirkan ketimpangan kaya miskin atau kepemilikan bersama sosialis yang mematikan keinginan berkarya. 

Islam juga mengharamkan terjadinya tambal sulam ide tentang kehidupan. Sebab Allah memberikan batasan yang jelas antara haq dan bathil. Allah juga menolak amalan haq yang bercampur dengan kebathilan.

Manfaat/ kenikmatan tertinggi akan diperoleh dengan ketaatan total pada syari’ah. Menjadikan halal haram menjadi pedoman dengan sendirinya lahir manfaat bahkan rahmat melimpah akan keluar dari bumi dan turun dari langit sesuai janji Allah dalam Alqur’an. 

Ketiga, kebalikan dari ideology pagan, Islam adalah ideology yang berasal dari Allah, Tuhannya manusia. Dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh dimensi kehidupan Ideologi buatan manusia akan terkubur dengan sendirinya.

Islam merupakan system kehidupan yang sempurna, mengatur seluruh dimensi kehidupan meliputi ekonomi, politik, social, hukum dan peradaban lainnya. 

Jika ada bagian yang tidak diatur lebih kepada aspek sains murni seperti teknis membangun industry dengan berbagai turunannya. Tidak diaturnya aspek ini bukan karena Islam tidak sempurna tapi sebagai rahmat dari Allah agar akal manusia senantiasa berfikir memecahkan problem teknis untuk mendukung kehidupan.

Meski saat ini aspek sains murni sudah mengalami perkembangan luar biasa mulai dari Teknologi Informasi Komunikasi, transportasi, kesehatan, perkapalan, militer, dll. Fitrah manusia tetap membutuhkan keadilan, tidak menyukai eksploitasi, menolak penindasan. Semua ini hanya tersedia dalam Islam, tidak tersedia dalam kapitalis atau sosialis atau gabungan keduanya.

Dengan penerapan Islam kemajuan teknologi menghasilkan bumi yang dipenuhi keberkahan, tanpa Islam kemajuan teknologi akan menghasilkan eksploitasi dan penjajahan. []

Oleh: Dr. Erwin Permana
(Peradaban Muda Institut)

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Akar permasalahan ini menurut saya adalah kepentingan pribadi dengan masyarakat/jamaahnya, atau yang lebih besar dengan negaranya. Ujungan-ujungnya masalah pengelolaan terhadap sesuatu/bisnis itu lebih baik dikelola Negara atau Swasta(pribadi/ormas).

    jika diibaratkan dengan kisah Lukman Al Hakim dan anaknya beserta Keledainya jadi lebih mudah dipahami, Negara diibaratkan Bapak(Lukman al Hakim), Swasta(pribadi/ormas) diibaratkan anaknya, dan Keledai diibaratkan sesuatu/bisnis yang dikelola. berputar sesuai dengan asumsi masing-masing.

    entah kenapa di jaman sekarang yg dikelola negara diidentikan komunisme/sosialisme? yang dikelola swasta/pribadi diidentikan kapitalisme? yg dikelola negara dan swasta diidentikan pancasila? yg tidak mengelola apa-apa diidentikkan gigit jari/akar di hutan?

    BalasHapus