TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Memahami Manuver Politik Internasional


Hubungan internasional dipengaruhi oleh kompetisi antar negara. Kompetisi dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan pertahanan keamanan. Kompetisi tersebut dipengaruhi oleh faktor interest nasional masing - masing negara dan internasional dalam jangka yang lebih panjang dan luas. 

Faktor interest negara - negara besar menjadi dominan dalam hubungan internasional. Tentunya negara - negara lain akan memposisikan dirinya untuk mengikut orbit negara - negara besar. Perubahan - perubahan yang cepat dan tak diduga dalam hubungan internasional seringkali membingungkan banyak orang, tak terkecuali para pengamat politik dan akademisi. Akhirnya muncul kesimpulan - kesimpulan yang kabur, bahkan cenderung terjebak dalam kesalahan.

Sesungguhnya di dunia ada 3 ideologi yang berpengaruh, yakni Kapitalisme, Komunisme, dan Islam. Negara - negara besar memainkan hegemoninya menggunakan salah satu ideologi tersebut. Dengan berpijak pada ideologi ini, mereka mampu survive mempengaruhi setiap kesepakatan dan keputusan internasional. Jadi dengan berpijak pada ideologi, analisis politik tidak akan tersesat walaupun yang ada di permukaan muncul fenomena yang beragam dan seolah saling bertentangan.

Sebuah ideologi itu mempunyai faktor yang fix dan faktor yang dinamis. Fikroh (konsepsi sistem) dan thariqah (metode mewujudkan fikroh) merupakan faktor yang fix dalam ideologi. Sedangkan strategi dan uslub (tata cara) menjadi hal yang dinamis. Strategi dan uslub ini merupakan manuver yang dijalankan guna mewujudkan fikroh dan thariqoh. 

Setiap negara besar yang mengadopsi ideologi akan bermanuver. Negara yang mengemban Kapitalisme seperti AS, akan bermanuver guna mewujudkan penjajahan sebagai thariqoh ideologinya. Akan dapat kita lihat berbagai manuver AS adalah penuh tipuan dan kebohongan. Aksi false flage tidak segan dijalankan guna meraih hegemoni ideologinya.

Pada perang dunia ke-2, AS bergabung dengan Uni Soviet. Waktu itu Uni Soviet sedang berkonflik dengan Jerman yang dipandang mengkhianati pakta Jerman - Uni Soviet. Setelah Jerman kuat dengan menguasai Polandia, Jerman merencanakan menyerang Uni Soviet. Keuntungan yang didapat AS adalah AS bisa mengontrol laju invasi Uni Soviet yang notabenenya berideologi Komunisme, terhadap wilayah Eropa. AS bisa tetap mempertahankan bercokolnya Kapitalisme di Eropa. Pada saat yang bersamaan, AS bisa menjalankan misi melemahkan Uni Soviet di tahun 1991 dengan Prestroika dan Glasnot. Di samping itu, AS bisa menyeret Soviet menjadi sekutunya melawan Jerman dan Jepang.

Contoh yang lain, adalah manuver AS dalam perjanjian Renville tahun 1947. KTN (Komisi Tiga Negara) hanyalah kamuflase seolah terjadi perundingan yang fair menyelesaikan konflik Belanda - Indonesia pasca agresi Belanda I. Australia sebagai wakil Indonesia sebenarnya dalam posisi yang lemah. Belgia sebagai wakil Belanda sebenarnya mendapat dukungan AS yang waktu itu memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Di forum DK PBB, AS mendukung tuntutan Belanda sesuai garis Van Mook bagi Indonesia. Inggris dan Perancis selanjutnya mendukung AS. Australia pada posisi yang lemah. Akhirnya hasil perjanjian Renville adalah wilayah Indonesia hanya meliputi Jateng, Yogyakarta dan Sumatera. Sedangkan Belanda menguasai Sumatera Timur guna mengontrol Indonesia Jadi AS mempunyai kepentingan agar Indonesia yang merdeka tetap dalam orbitnya dan sebagai negeri jajahannya.

AS berusaha untuk menumpas upaya - upaya yang ingin tampilkan Islam Ideologi. Di tahun 2001, tragedi WTC dan Pentagon dijadikan kendaraan untuk program War on Terorisme. Dalam kasus Suriah, ISIS menjadi kendaraan bagi AS guna memperpanjang usia Rejim Bashar Asad. AS belum menemukan boneka baru guna menggantikan Bassar Asad. Arab Spring dibajak AS guna mengamankan hegemoni Kapitalismenya di Timur Tengah. Memang hanya Ideologi Islam yang dipandang sebagai rival sejati oleh Kapitalisme. Sedangkan Komunisme sudah berhasil dijinakkannya melalui Prestroika dan Glasnot. Di samping itu, bukankah Islam menjadi common enemy bagi kedua ideologi tersebut?!

Adapun Komunisme, dalam mewujudkan sistem masyarakat tanpa kelas, menggunakan metode dialektika materi dan materialisme historis, bentuknya perjuangan kelas di masyarakat. Kebohongan, kamuflase, pertikaian dan menciptakan ketidakstabilan menjadi strategi politiknya.

Sepak terjang para ideolog komunis di Indonesia melalui PKI adalah wujud riilnya. Di tahun 1927, PKI memanfaatkan sentimen anti penjajah dengan melakukan pemberontakan pada pemerintah Hindia Belanda. Aksi ini gagal. Ganjarannya tokoh dan simpatisan PKI diasingkan ke Boven Digul, Papua.

Saat Jepang menduduki Indonesia di tahun 1943, para tahanan komunis di Digul dideportasi ke Australia. Harapannya Belanda bisa menggandeng para tahanan ini demi kepentingannya. Tentunya ini mirip dengan strategi AS dengan menggandeng Uni Soviet yang komunis untuk menghadapi Jepang. Akhirnya terbentuklah SIBAR (Serikat Indonesia Baru) dipimpin Sardjono dari PKI. Akan tetapi di saat tercium aroma konspirasi agitasi melawan Belanda, Belanda menetapkan sebagai organisasi terlarang bagi SIBAR. 

Komunisme di Indonesia berusaha menyusup ke dalam pemerintahan. Kebijakan Nasakom menjadi kunci pelemahan terhadap Islam. Kalangan nasionalis diarahkan untuk membenci Islam dan menghambat kebangkitan Islam di Indonesia. Pada puncaknya PKI pun melakukan pemberontakan di tahun 1965. AS mencium hal tersebut sebagai upaya menggeser dominasinya di Indonesia. Sementara waktu itu, AS belum berhasil menjinakkan Komunis. Pada saat itulah AS memainkan sentimen anti PKI dari umat Islam di Indonesia. Tujuannya guna membabat PKI di Indonesia. 

Jadi sangat terlihat bahwa Kapitalisme dan Komunisme saling bekerja sama dalam melakukan manuver menjadikan dunia berada dalam orbitnya. Upaya China sendiri misalnya dengan OBOR ingin menjadi raksasa ekonomi di kawasan. Seolah China melawan AS misal dalam perang dagangnya dengan AS. Padahal itu adalah kamuflase guna memainkan sentimen anti AS di dunia Islam. Walaupun di satu sisi, AS belum memandang China membahayakan kepentingan ideologinya. China masih memainkan one state two system. Keluar menggunakan pola - pola kapitalisme dalam ambisi OBOR-nya.

Manuver Politik Islam

Islam adalah ideologi paripurna yang diturunkan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam menjadikan dakwah dan jihad sebagai metode dalam menyebarkan Islam. Sedangkan dalam manuver politiknya prinsip Islam adalah al - ghoyatu la tubarraril wasilah (tujuan diraih dengan tidak menghalalkan segala cara). Walhasil manuver politik dalam Islam ada yang baku hukumnya dan ada yang mubah sebagai bentuk seni dalam memahami berbagai kemungkinan. 

Hadits kunna la nastadhiuu bi naaril musyrikin (kami tidak meminta pertolongan dengan api kaum musyrik), menjadi pegangan dalam melakukan manuver politik. Karena meminta pertolongan dengan api kaum musyrik adalah bunuh diri politik. Justru Islam telah memberikan ruang bagi institusi kekufuran untuk hidup. 

Dalam perjanjian hudaibiyah, bani Khuza'ah memang berada di pihak Madinah. Hanya saja yang perlu dicatat, Bani Khuza'ah meminta pertolongan kepada Madinah saat dibantai musafirnya oleh Bani Bakr. Rasul Saw dengan manuver politiknya justru menjadikan dunia hanya mempunyai 2 pilihan, yakni memihak Islam dan atau memihak kekufuran. Garis tegas dalam Islam, bukan abu - abu. 

Bahkan saat terjadi Perang Mu'tah, Rasul Saw tidak meminta bantuan dari negara - negara kafir rival Romawi, misal meminta bantuan Persia. Tidak! Rasul Saw ingin menunjukkan bahwa Daulah Islam mampu untuk memimpin dunia menuju pembebasan manusia dari penjajahan. Hasilnya, Romawi tidak berani melawan Madinah saat Perang Tabuk. Terbukti, negeri - negeri di semenanjung bersedia berada dalam perlindungan Madinah. 

Di samping itu, dalam melakukan manuver politiknya, Islam memerintahkan agar kaum muslimin bisa berbuat adil bahkan kepada musuhnya. Lihatlah fenomena di abad 18, Khilafah Utsmaniyah memberikan bantuan kemanusiaan kepada Amerika. Tapi di kemudian hari justru madu itu dibalas dengan tuba oleh Amerika. 

Demikianlah manuver politik Islam. Hal tersebut dilakukan agar seruan keadilan Islam bisa didengar manusia dengan cara yang elegan. Bahkan strategi dalam dakwah ini pun menjadi bagian dari manuver politik yang dijalankan Islam. Sesungguhnya kepentingan Islam adalah menjadi Rahmat bagi seluruh alam semesta. Tentunya Islam tidak akan mentolelir Kapitalisme dan Komunisme, karena keduanya justru menjajah dan menyengsarakan manusia. Melalui tegaknya Khilafah, manuver politik Islam akan bisa dijalankan guna membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT. []

Oleh: Ainul Mizan
(Peneliti LANSKAP) 

Posting Komentar

0 Komentar