TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Marhalah At-Tafa’ul wa Al-Kifah



Dakwah secara rahasia dilakukan oleh Rasul Saw selama kurang lebih 3 tahun. Dalam kurun waktu tersebut sebanyak 40 orang telah menerima Islam. Termasuk Hamzah bin Abd al-Muththallib telah masuk Islam, kemudian disusul Umar bin al-Khaththab setelah tiga hari keislaman Hamzah. Sehingga dukungan terhadap kaum Muslim semakin kuat dan turunlah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan.

Allah SWT berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَ اَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

"Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 94)

Setelah turun ayat tersebut, Rasul segera menyampaikan perintah Allah dan menampakkan keberadaan kutlah ini kepada seluruh masyarakat secara terang-terangan, meski sebagian kaum Muslim masih menyembunyikannya dan sebagian lagi masih menyembunyikannya hingga penaklukan kota Makkah. 

Uslub (cara) yang digunakan Rasul untuk menampakkan keberadaan kutlah, adalah dengan keluar bersama-sama para sahabat dalam dua kelompok. Pemimpin kelompok pertama adalah Hamzah bin Abd al-Muththallib dan untuk kelompok kedua adalah Umar bin al-Khaththab. Rasul pergi bersama mereka ke Ka’bah dengan (barisan yang) rapi, yang sebelumnya tidak diketahui oleh bangsa Arab. Beliau melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersama-sama mereka.

Ini berarti Rasul saw bersama para sahabatnya telah berpindah dari tahap dakwah secara sembunyi-sembunyi (daur al-istikhfa’) kepada tahap dakwah secara terang-terangan (daur al-i’lan). Dari tahap kontak dengan orang-orang yang simpati dan siap menerima dakwah, menuju tahap menyeru seluruh masyarakat. 

Sejak saat itu mulai terjadi benturan antara keimanan dengan kekufuran di tengah-tengah masyarakat, dan terjadi gesekan antara pemikiran-pemikiran yang benar dengan yang rusak. 

Ini berarti dakwah mulai memasuki tahapan dakwah yang kedua, yaitu tahap interaksi dan perjuangan (marhalah al-tafa’ul wa al-kifah). Kaum kafir mulai memerangi dakwah dan menganiaya Rasul saw serta para sahabatnya dengan segala cara. Perioda ini -yaitu tafa’ul dan kifah- adalah perioda yang dikenal paling menakutkan di antara seluruh tahapan dakwah.

Pada tahapan ini, tempat-tempat yang biasa disinggahi Rasul sering dilempari orang-orang kafir. Ummu Jamil, istri Abu Lahab, melemparkan najis ke depan rumah beliau, dan Rasul cukup meladeninya dengan membersihkan kotoran-kotoran itu. Abu Jahal melempari beliau dengan kotoran kambing yang telah disembelih untuk sesembahan berhala. 

Beliau hadapi tindak keji tersebut dan pergi ke rumah putrinya, Fatimah, agar dia dapat membersihkan dan menyucikannya. Semua itu tidak berpengaruh apapun pada Rasul, selain bertambah kesabarannya dan lebih berkonsentrasi pada dakwah. 

Kaum Muslim juga diteror dan dianiaya. Setiap kabilah melakukan teror dan penyiksaan atas orang yang memeluk Islam. Bahkan orang tersebut dipaksa untuk keluar dari Islam, sampai-sampai salah seorang dari mereka menyiksa budaknya yang berasal dari Habsyi, yaitu Bilal, di atas pasir di bawah terik matahari yang panas. Dadanya ditindih dengan batu, lalu ditinggalkan begitu saja agar dia mati. Tindakan itu dilakukan bukan karena hal lain selain karena dia tetap bertahan dalam Islam. Dalam kondisi seperti ini, Bilal tidak melakukan apa pun selain mengulang-ulang kata “ahad ... ahad”, sambil menahan siksaan di jalan Allah. 

Seorang wanita juga telah disiksa hingga mati, karena dia tidak rela keluar dari Islam dan kembali ke agama nenek moyangnya. Kaum Muslim seluruhnya didera dengan berbagai macam siksaan. Mereka dihadapkan dengan berbagai bentuk penghinaan yang sangat menyakitkan. Mereka tetap sabar menghadapi semua itu, semata-mata karena mencari keridhaan Allah.

Orang-orang Arab Quraisy sebelumnya adalah para penyembah berhala. Mereka suka membunuh anak laki-Iaki dan menanam hidup-hidup anak perempuan. Mereka mudah membunuh sebagian yang lain hanya karena hal-hal yang sepele. 

Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad mengajak mereka untuk menyembah Allah yang Esa, meninggalkan kepercayaan mereka, mereka marah besar. Mereka yang semula cinta kepadanya berubah menjadi kebencian dan kemarahan. Sedangkan mereka yang semula membenarkan Nabi Muhammad, berubah menjadi orang-orang yang mendustakannya.[]


Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Referensi:
Taqiyuddin An Nabhani, Ad Daulah Al Islamiyah, 2002



Posting Komentar

0 Komentar