TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

LBH Pelita Umat: Alat Bukti yang Ditunjukkan Saksi Ahli Bahasa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Masih Kabur

Foto: screenshot pembacaam sikap LBH Pelita Umat, Kamis (17/9/2020)


TintaSiyasi.com-- Kuasa hukum Ali Baharsyah menganggap alat bukti yang ditunjukkan ahli bahasa dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dinilai masih kabur. "Kami juga soroti, bahwasannya, apa yang terjadi? Itu yang ditunjukkan masih kabur. Karena apa? Ini bentuknya video tapi ahli bahasa itu tidak melihat videonya secara langsung, yang beliau lihat hanya screenshot-nya," tutur Ricky Fattamazaya Munthe, mewakili Lembaga Badan Hukum (LBH) Pelita Umat usai menghadiri persidangan Ali Baharsyah, Kamis (17/9/2020) di Pengadilan Negri Jakarta Pusat.

Ricky juga mempertanyakan mengapa kata kafir yang dipersoalkan JPU dalam kasus aktivis Islam dan aktivis kemanusiaan Ali Baharsyah itu. Menurutnya, jika kata kafir yang dipersoalkan, hal itu tidak wajar, karena  kata kafir adalah ajaran Islam yang tertera dalam Al-Qur'an dan sunnah.

Ia menjelaskan, ungkapan kafir itu wajar, karena itu penyebutan bagi orang-orang di luar Islam. " Kami juga menolak ketika ada bahasa "Cina kafir" dianggap hal yang negatif. Karena apa? Ini untuk menyikapi kejahatan yang terjadi di Muslim Uighur sana," tegasnya.

Oleh karena itu, ia menghimbau kepada seluruh masyarakat dan kalangan ulama untuk terus mendakwahkan ajaran Islam. "Terus membela, mendukung, mendoakan klien kami, Alimuddin Baharsyah," pungkasnya.


Bukan Ujaran Kebencian

Sebelumnya, pada 5 Agustus 2020, JPU mendakwa Ali Baharsyah dengan Pasal 28 ayat (2) UU ITE terkait ujaran kebencian yang dilakukan di media sosial dengan barang bukti berupa rekaman video orasi pembelaan Ali Baharsyah terhadap Muslim Uighur yang dizalimi rezim negara Cina.

Kalimat yang terkena delik dalam video yang diunggah Ali di Facebooknya pada 2019 tersebut adalah, “… keturunan Cina kafir di Indonesia bebas beribadah, ada yang jadi pengusaha, pejabat… kondisi ini berbanding terbalik dengan umat Islam Uighur yang hidup di Xinjiang, mereka dipaksa melepaskan akidahnya, mereka dianiaya, disiksa…”

Menurut Chandra Purna Irawan, kuasa hukum Ali Baharsyah, pernyataan kliennya terkait frasa “Keturunan Cina kafir di Indonesia…” harus disimak secara keseluruhan dari isi video. Dan apabila dilihat tidak terdapat ujaran berupa ajakan atau provokasi untuk melakukan kejahatan terhadap etnis dan kata “kafir” bukanlah ujaran kebencian, melainkan istilah agama.

“Jangan sampai istilah agama dipermasalahkan karena dikhawatirkan berpotensi menistakan ajaran agama,” pungkas Ketua LBH Pelita Umat tersebut.[]

Reporter: Rasman

Posting Komentar

0 Komentar