TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah di Nusantara, Biarkan Umat Bicara



Hijrah menuju syariah kaffah, hijrah selamatkan Indonesia! Yel-yel inilah yang digaungkan oleh para peserta aksi dalam rangka menyambut tahun baru 1441 Hijriyah pada awal September tahun lalu. Kala itu, di dunia maya, beberapa tagar yang sempat menjadi trending topic nasional adalah #HijrahSelamatkanIndonesia dan #HijrahMenujuSyariahKaffah. Selain itu, tagar #KhilafahWillBeBack juga sempat menjadi trending topic dunia di Twitter. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah lebih aware mengenai perkara penerapan syariah kaffah di muka bumi. (Kompasiana.com, 8/9/19)

Setahun berlalu, memasuki tahun baru 1442 Hijriyah, istilah syariah kaffah dan juga khilafah semakin menggema. Hari ini makin banyak orang yang menyebut-nyebut kata khilafah, bahkan media massa pun terus mengulang-ngulang penyebutan khilafah dalam berbagai pemberitaan. Dengan berbagai kontroversi yang ada, namun yang pasti adalah semakin sering khilafah disebut, akan semakin familiar di telinga masyarakat.
 
Namun yang patut disayangkan, masih ada sekelompok orang yang gagal paham terhadap khilafah. Akibatnya informasi yang beredar mengenai khilafah ini banyak yang masih keliru atau baru sebatas dugaan. Banyak tuduhan macam-macam yang tidak berhubungan dengan kebenaran khilafah itu sendiri. Pasalnya sudah jelas bahwa khilafah bagian dari ajaran agama Islam. Materi khilafah dibahas di buku-buku fikih bahkan pada buku pelajaran yang diajarkan di sekolah madrasah. 

Beberapa waktu lalu pun, film Jejak Khilafah di Nusantara ramai diperbincangkan netizen. Di luar kontroversi yang bergulir di tengah publik, apakah benar Nusantara dan Khilafah mempunyai hubungan?

Apabila merujuk pada pendapat "Prof. Dr. Buya Hamka dalam Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia di Medan (1963) lebih menggunakan fakta yang diangkat dari Berita Cina Dinasti Tang. Adapun waktu masuknya agama Islam ke Nusantara terjadi pada abad ke-7 M. 

Dalam Berita Cina Dinasti Tang tersebut menuturkan ditemuinya daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatera maka disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab. Dibawa oleh wiraniagawan Arab. Sedangkan Kesultanan Samudra Pasai yang didirikan pada 1275 M atau abad ke-13 M, bukan awal masuknya agama Islam, melainkan perkembangan agama Islam". (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, hal. 99)

Kemudian, pengakuan terhadap kebesaran pengaruh negara khilafah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan oleh Maharaja Sriwijaya waktu itu kepada khalifah yang hidup pada masa Bani Umayyah. Surat pertama dikirimkan kepada Muawiyyah dan surat kedua dikirimkan kepada Umar bin Abdul Aziz. 

Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (arsip) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umair, yang disampaikan kepada Abu Ya'qub at-Tsaqafi, yang kemudian disampaikan kepada al-Haitsam bin Adi. Al-Jahizh, yang mendengar surat itu dari al-Haitsam, menceritakan pendahuluan surat itu sebagai berikut: "Dari Raja al-Hind, yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah..."

Surat kedua didokumentasikan oleh And Rabbih (246-329 H/860-940 M) dalam karyanya yang berjudul al-'Iqd al-Farid. Potongan surat tersebut sebagai berikut:
"Dari Raja di Raja...; yang adalah keturunan seribu raja ... Kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Aku telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tidak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Dan aku ingin Anda mengirimkan kepadaku seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepadaku, dan menjelaskan kepadaku hukum-hukumnya."  (Anonim, Khilafah dan Jejak Islam Kesultanan Islam Nusantara, hal. 13)

Selanjutnya, penyebaran agama Islam di Nusantara ini selain dilakukan oleh para pedagang, Islam juga didakwahkan oleh para ulama yang memang berniat datang atau ditugaskan untuk mengajarkan ajaran tauhid. Tidak saja para ulama dan pedagang yang datang ke Nusantara, tapi orang-orang Nusantara sendiri banyak pula yang mendalami Islam dan datang langsung ke sumbernya, terutama di Makkah dan Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh, terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke-16 M. Bahkan pada tahun 974 Hijriyah atau 1566 M, dilaporkan ada lima kapal dari Kesultanan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah.

Ukhuwah yang terjalin erat antara Aceh dan kekhilafahan Islam itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Makkah. Puncak hubungan baik antara Aceh dan pemerintahan Islam terjadi pada masa kekhilafahan Turki Utsmani, tidak saja dalam hubungan dagang dan keagamaan, tapi juga hubungan politik dan militer telah dibangun pada masa ini. Hubungan ini pula yang membuat angkatan perang Khilafah Utsmani turut membantu mengusir Portugis dari pantai Pasai yang dikuasai sejak tahun 1521 M. 

Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya, Portugis juga sempat digemparkan dengan kabar Pemerintahan Utsmani yang akan mengirim angkatan perangnya untuk membebaskan Kerajaan Islam Malaka dari cengkeraman penjajah Portugis. Pemerintahan Utsmani juga pernah membantu mengusir Parangi (Portugis) dari perairan yang akan dilalui Muslim Aceh yang hendak menunaikan ibadah haji ke tanah suci". (Anonim, Khilafah dan Jejak Islam Kesultanan Islam Nusantara, hal. 17)

Inilah beberapa potongan sejarah yang membuktikan bahwasanya terdapat jejak khilafah di Nusantara. Melalui kumpulan bukti-bukti sejarah ini, tak bisa dikatakan bahwa khilafah ahistoris. Kita menyaksikan betapa kaitan antara Nusantara dan khilafah sangatlah erat. Dan bisa dikatakan, kaum muslim di Nusantara dapat menikmati keislamannya hari ini merupakan bukti bahwa ada yang mendakwahkan Islam di Nusantara. 

Umat Islam harusnya diberikan edukasi yang benar dari sumber-sumber yang sahih tentang bagaimana gambaran utuh terkait khilafah ini. Agar tidak ada lagi yang gagal paham mengenai khilafah dan tidak termakan islamophobia. Kejayaan dan keberhasilan khilafah dalam mengurusi rakyat tak bisa dibantah karena banyak bukti yang mengungkapkan hal itu. Maka berikanlah ruang diskusi terhadap pembahasan khilafah ini agar umat bisa menilainya. Wallahu a'lam bi ash-shawwab.[]

Oleh: Ummu Khalid

Posting Komentar

0 Komentar