TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah Ajaran Islam, Wajib Mendakwahkannya



Pembicaraan tentang khilafah kian ramai. Terlebih sejak tahun 2017, ketika Menkopolhukam Wiranto mengumumkan hendak mencabut Badan Hukum Perkumpulan (BHP) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dan benar-benar terlaksana dengan sebuah Perppu pada bulan Juli 2017.

HTI adalah sebuah kelompok dakwah yang rajin mengedukasi masyarakat dengan dakwah pemikirannya. Mendakwahkan Islam kafah yang diterapkan secara praktis oleh khilafah sebagai solusi permasalahan manusia. Dakwahnya yang tanpa kekerasan dan mencerdaskan umat, mendapat simpati dan perhatian umat. Hal ini membuat umat makin merindukan sistem pemerintahan warisan Rasulullah.

Khilafah semakin hangat diperbincangkan ketika Menag Fachrul Razi hendak menghapus konten khilafah dan jihad dari buku pelajaran di madrasah. Terlanjur gaduh dan mendapat penolakan dari masyarakat, akhirnya materi khilafah tak jadi dihapus namun dipindah dari pelajaran fikih ke tarikh atau sejarah.

Sebuah film dokumenter berjudul Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) kembali membuat kata khilafah mengangkasa. Film sejarah yang mengungkap hubungan Nusantara dengan Khilafah Turki Utsmani yang saat itu menjadi negara adidaya. Film yang membangkitkan rasa bangga pada Islam. Sebab ghirah Islam dengan semangat jihadnya mampu mengusir penjajah dari Nusantara. Setidaknya, penjajah tidak mudah menguasai suatu wilayah karena ada perlawanan dari para sultan dan rakyatnya yang muslim. 

Kini, umat muslim semakin merindukan khilafah. Apalagi pandemi tak kunjung usai dan membawa dampak krisis multidimensi. Terlihat kegagalan sistem kapitalisme dalam mengatasi pandemi. Maka tak salah jika umat muslim berharap pada khilafah, sistem yang terbukti mampu menangani wabah secara manusiawi dan menentramkan.

Agar kerinduan umat terhadap khilafah tak sebatas perasaan, perlu ada penjelasan tentang apa itu khilafah, dalil kewajiban khilafah, khilafah sebagai ajaran Islam, serta kewajiban mendakwahkannya.


Apa Itu Khilafah?

Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu' Syahr Al-Muhadzdzab juz 19 halaman 191 mengatakan Al-Imamah, Al-Khilafah, Imaratul Mukminin adalah sinonim. Senada dengan Imam Nawawi, Wahbah Az-Zuhaili berkata, “Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah Kubra dan Imaratul Mu'minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.” (Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islâmi wa Adillatuhu, 9/881).

Kata khilafah juga banyak ditemukan pada hadits Rasulullah. Salah satunya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim berikut:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُم الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ»

"Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Sungguh setelah aku tidak ada lagi seorang nabi, tetapi akan ada para khalifah yang banyak."

Hadits tersebut menjelaskan bahwa tugas kenabian telah selesai setelah Rasulullah wafat. Tidak ada yang menggantikan beliau dalam perkara kenabian. Sementara tugas pemerintahan politik yang akan memimpin dan mengurusi umat tetap dilanjutkan oleh para khalifah.

Dengan demikian, khilafah adalah sistem pemerintahan warisan Rasulullah yang tugasnya mengurusi urusan umat. Karena itulah menurut Imam al-Mawardi, “Imamah (khilafah) itu ditetapkan sebagai khilafah (penggganti) kenabian dalam pemeliharaan agama dan pengaturan dunia dengan agama.” (Al-Mawardi, Al-Ahkâm ash-Shulthâniyah, halaman. 5),

Hal senada dinyatakan oleh Ibnu Khaldun, “Khilafah pada hakikatnya adalah pengganti dari Shâhib asy-Syâr’i (Rasulullah Saw.) dalam pemeliharaan agama dan pengaturan urusan dunia dengan agama.” (Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah, halaman. 190).

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah juz 2 halaman 6, juga dalam kitab Muqaddimah Ad-Dustur halaman 118, menjelaskan tentang pengertian khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh umat muslim di dunia, untuk menerapkan hukum-hukum syara' dan mengemban dakwah Islam ke seluruh alam.


Dalil kewajiban Menegakkan Khilafah

Pertama, dalil Alquran. Dalam surah Al-Maidah ayat 48, Allah berfirman: "...maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu..."

Ada banyak ayat senada yang mewajibkan mukmin berhukum pada apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw. Di antaranya adalah QS. An-Nisa ayat 59, QS. Al-Maidah ayat 48-49, QS. Al-Hadid ayat 25. Termasuk ayat-ayat tentang hudud dan sanksi, zakat, juga larangan riba. Keseluruhan dari syariat tersebut hanya bisa diterapkan oleh sebuah sistem. Dan satu-satunya sistem yang mampu menerapkan syariat Islam secara kafah hanyalah khilafah.

Kedua, dalil dari Assunnah. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang sudah disebutkan di atas merupakan salah satu dalil wajibnya mengangkat khalifah yang akan mengurusi urusan umat.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw. bersabda:

«مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

"Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak ada baiat (kepada khalifah) di atas pundaknya, maka matinya mati jahiliah" (HR. Muslim).

Hadits tersebut memerintahkan untuk mengangkat khalifah yang akan dibaiat kaum muslimin. Karena hanya dengan adanya khalifah maka akan ada baiat di pundak kaum muslimin. Adapun frasa "mati jahiliyah" merupakan penegasan tentang wajibnya mengangkat khalifah yang memimpin kekhilafahan.

Ketiga, ijma' sahabat. Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami berkata: "Ketahuilah juga, bahwa para sahabat ra. telah bersepakat bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting ketika mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dan menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah Saw." (Ibnu Hajar Al-Haitsami, As Shawa'iqul Muhriqah, halaman 7).

Sebagaimana diketahui tentang para sahabat Rasul yang kecintaannya kepada Allah dan Rasul tiada tara dan tiada banding dengan siapapun. Andai mencari, memilih, mengangkat, dan membaiat pemimpin pengganti Rasulullah bukan perkara wajib dan penting, tentu mereka sudah menguburkan jenazah Rasulullah terlebih dahulu. 

Memperhatikan dalil-dalil tersebut, para ulama aswaja telah bersepakat tentang kewajiban menegakkan khilafah. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami di atas. Imam Nawawi dan Ibnu Khaldun memiliki pendapat yang sama dengan beliau.

Syekh Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu juz 8 halaman 272 mengatakan: "Mayoritas besar dari ulama Islam yaitu ulama Ahlus Sunnah, Murji'ah, Syi'ah, dan Mu'tazilah kecuali segelintir dari mereka, dan Khawarij kecuali An-Najdat berpendapat bahwa Umamah (Khilafah) adalah perkara wajib atau suatu kefardhuan yang pasti." Hal senada diungkapkan oleh Imam Syaukani, Imam Qurthubi Imam Mawardi.

Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani mengatakan bahwa para ulama telah sepakat bahwa wajib hukumnya mengangkat seorang khalifah dan kewajiban itu berdasarkan syara' bukan akal (Fathul Bari, juz 12, halaman 205). 

Bahkan Imam Ghazali yang dikenal di Indonesia dengan ajaran sufisme juga berpendapat mengenai kewajiban adanya imam (khalifah) dan termasuk hal yang penting dalam syariat yang tak ada jalan untuk ditinggalkan (Al-Iqtishad fi al-I'tiqad halaman 99).

Hampir tidak ada seorangpun ulama yang mukhlishin dari generasi awal hingga akhir yang mengingkari kewajiban menegakkan khilafah.

Khilafah Ajaran Islam

Tak terbantahkan lagi, khilafah adalah ajaran Islam. Di Indonesia, ada buku Fikih Islam karangan Sulaiman Rasyid, yang mencantumkan Bab Khilafah. Bab tentang Khilafah juga pernah menjadi salah satu materi di buku-buku madrasah (MA/MTs) di Tanah Air. 

Jika khilafah adalah ajaran Islam, maka mendakwahkannya adalah suatu kewajiban. Selayaknya suatu kewajiban, semestinya didukung untuk kemudahan dakwahnya, bukan menghalang-halangi apalagi mengkriminalisasi. Jelas ada ancaman azab dari Allah bagi yang mencoba menghalangi  dakwah, lihat QS. Hud ayat 18-22. Wallahu a'lam. []

Oleh: Yasmin Ramadhan

Posting Komentar

0 Komentar