Khilafah Ajaran Islam, bagian dari Syariah


Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai Khilafah kembali menyeruak di dalam negeri. Apalagi setelah viralnya film Jejak Khilafah di Nusantara yang disiarkan melalui website tepat pada momentum muharram 20 agustus 2020 lalu. Tindakan sepihak Pemerintah yang memblokir channel yang menayangkannya pun terjadi tidak hanya sekali. Tanpa alasan yang ilmiah, Film yang sarat akan sejarah hasil besutan Nicko Pandawa ini justru menjadi pemantik diskursus soal Khilafah mulai perbincangan di warung kopi hingga hingga webinar nasional.

Menteri agama (Menag) Fachrul Razi meminta kepada seluruh kementrian dan lembaga pemerintahan untuk tidak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai aparatur sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Lebih lanjut, Fachrul menyadari bila paham khilafah sendiri tak dilarang dalam regulasi di Indonesia. Namun, ia menyatakan lebih baik penyebaran tersebut diwaspadai penyebarannya di tengah-tengah masyarakat (m.cnnindonesia.com, 02/09/2020). 

Ikut campur pemerintah dalam pengamalan Islam memang bukan kali ini saja. Dimulai dengan pelarangan jilbab di sekolah, larangan pemanjangan jenggot dan celana cingkrang bagi ASN, sertifikasi penceramah, pendaftaran majelis taklim hingga revisi buku-buku agama di sekolah seolah menunjukkan pemuka negeri ini menderita Islamophobia.

Khilafah Bagian Syariat Islam yang Penting
Ulama ahlu sunnah wal jamaah (Aswaja) sepakat memasukkan Khilafah, Imamah, atau Imaratul Mukminiin dalam bab syariat, bukan ‘aqidah. Hanya saja urgensitas dan kedudukan Khilafah sangat penting dalam pandangan mereka. Imam Abu al-Ma’aliy al-Juwaini (imam al-Haramain), seorang ulama besar madzhab Syafi’iy, di dalam kitab al-Irsyad mengatakan:

أَصْله يَجْهَلُ مَنْ عَلَى الْخَطْرِ عَلَى يُرَبِّى فِيْهِ يَزِلُ مَنْ عَلَى وَالْخَطْرُ ،الْاِعْتِقَادِ أُصُوْلِ مِنْ لَيْسَ الباب هذا فِى اَلْكَلَامُ

“Pembicaraan dalam bab ini (imamah) tidak termasuk pokok-pokok aqidah (keyakinan), namun bahaya atas orang yang tergelincir di dalamnya lebih besar daripada orang yang tidak mengerti asalnya (‘aqidah atau ushuul al-diin).” [Imam al-Haramain (Abu al-Ma’ali al-Juwaini, Al Irsyaad, hal.410, Penerbit Maktabah al Khanajiy, 1950, Kairo, Mesir]

Penjelasan Imam Al Haramain ini membedakan pendirian ulama aswaja dengan kelompok Syi’ah. Kelompok Syi’ah memandang imamah bagian dari ‘aqidah, Siapa saja yang salah dalam imamah sama artinya telah melanggar ‘aqidah, dan dihukumi kafir. Adapun ulama aswaja berpendapat, orang yang salah dalam imamah, dianggap melanggar syariat dan terjatuh dalam dosa dalam konteks asalnya. Namun dalam keadaan-keadaan tertentu bisa menggugurkan keimanan (kafir) jika diiringi dengan keyakinan (I’tiqad).

Di dalam kitab al-Taaj wa al-Ikliil li Mukhtashar Khaliil, disebutkan: 

نَصْبِ وُجُوبُ السَّمْعِ وَأَدِلَّةِ الْمُسْلِمِينَ بِإِجْمَاعِ يَثْبُتُ وَلَكِنْ إمَامٍ نَصْبُ الْعُقُولِ بِمُوجِبَاتِ يُسْتَدْرَكُ لَا:الْمَعَالِي أَبُو الْحَرَمَيْنِ إمَامُ قَالَ
(بِالْمَعْرُوفِ وَالْأَمْرِ) الْعَامَّةُ الْمَصَالِحُ إلَيْهِ وَتُفَوَّضُ الْمُلِمَّاتِ فِي إلَيْهِ يَرْجِعُ عَصْرٍ كُلِّ فِي إمَامٍ

“Imam al-Haramain Abu al-Ma’aa;iy berkata: Mengangkat seorang Imam tidaklah bisa ditetapkan berdasarkan logika akal, tetapi ditetapkan berdasarkan ijma’ kaum Muslim dan dalil-dalil sam’iyyah, dan kewajiban mengangkat seorang Imam di setiap masa untuk mengembalikan kesukaran-kesukaran kepadanya, dan untuk diserahkan kemashlahatan umum kepadanya”. [Imam al-Muwaaq, al-Taaj wa al-Ikliil li Mukhtashar Khaliil, juz 5/131]

Urgensitas khilafah tampak jelas dari kedudukan dan fungsinya bagi Islam dan kaum muslim. Para Sahabat telah bersepakat atas keharusan mengangkat seorang Khalifah (pengganti) bagi Rasulullah saw setelah beliau wafat sebagai pemimpin yang menerapkan syariat yang telah turun sempurna karena tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad. Mereka telah bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah, lalu Umar bin al-Khaththab sepeninggal Abu Bakar dan terus dilestarikan hingga kejatuhan Khilafah Islamiyah di Turki pada 1924 masehi. Tampak jelas penegasan Ijmak Sahabat terhadap pengangkatan khalifah dari sikap mereka yang menunda penguburan jenazah Rasulullah saw sampai dua malam. Setelah Abu Bakar dibaiat, diikuti penguburan jenazah manusia mulia pada rabu malam.
Imam al Ramli mengatakan: “khilafah itu adalah imam paling agung yang menduduki jabatan khilafah nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia”. [Imam Al Ramli Muhammad bin Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj fil Fiqhi ‘ala Madzhab Al Imam Al Syafi’I, juz 7/289].

Ketika kita mengkaji lebih mendalam mengenai fakta Daulah Islamiyah, maka akan didapati bahwa Khilafah merupakan institusi yang menegakkan hukum-hukum syariat atas seluruh rakyat, menyelesaikan seluruh problematika kehidupan dengan aturan yang berasal dari Allah sebagai Pencipta dan Pengatur.

Menolak syariat Islam, sebagian maupun keseluruhan adalah kekafiran. Seseorang tidak dianggap mukmin hingga ia menjadikan Nabi Muhammad saw sebagi hakim atas seluruh persoalan hidupnya. Menjadikan ketetapan Nabi saw sebagai pemutus perkara berdasarkan syariat Islam yang dibawanya sebagai pengatur dan problem solving dalam seluruh lini kehidupan dengan penuh kerelaan, tanpa diiringi keraguan, penolakan dan pembangkangan. Firman Allah Swt: 

 تَسْلِيماً  وَيُسَلِّمُوا۟قَضَيْتَ مِّمَّا حَرَجًا أَنفُسِهِمْ فِىٓ يَجِدُوا۟ لَا ثُمَّ بَيْنَهُمْ شَجَرَ فِيمَا يُحَكِّمُوكَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُونَ لَا وَرَبِّكَ فَلَا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. [TQS An Nisaa : 65]

Di samping itu, seorang mukmin diperintahkan untuk masuk Islam secara menyeluruh. Ini berarti wajib setiap mukmin melaksanakan syariat Islam secara total. Bahkan seseorang tidak akan disebut mukmin, jika ia menerima sebagian syariat Islam akan tetapi menolak sebagian yang lain. Sebagaimana firman Allah swt:

مُبِينٌ عَدُوٌّ لَكُمْ إِنَّهُ ۚالشَّيْطَانِ خُطُوَاتِ اتَتَّبِعُو وَلَا كَافَّةً السِّلْمِ فِي اادْخُلُو آمَنُوا الَّذِينَ أَيُّهَا يَا 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. [TQS Al Baqarah: 208]

Khilafah termasuk bagian dari syariah, penegakannya merupakan kewajiban bagi setiap muslim di seluruh dunia sebagai konsekuensi atas berimannya mereka terhadap Allah swt. Seseorang belum dikatakan beriman apabila belum menjadikan Allah sebagai Rabb dan Ilahnya, sebagaimana yang tercantum di dalam alquran dan dijalankan secara totalitas di dalam kehidupan tanpa merasa berat hati sedikitpun. 

Terlebih lagi, dalam penerapannya sejak Rasul saw hijrah ke madinah hingga berakhirnya di Turki pada tahun 1924 masehi melalui konspirasi penjajah dan kaki tangannya, selama itu Islam mampu menjadi diin dan sistem yang memimpin dunia. Kalaulah dia sistem yang tidak layak dan rusak, maka ia akan ditinggalkan sejak awal oleh pengembannya. Kalaulah dia hanya berlaku bagi Nabi saw, maka para sahabat akan memilih menyegerakan pemakaman jenazah Nabi sang kekasih mereka sepeninggalnya. Kalaulah ia hanya khayalan, tidak mungkin jejaknya sampai melanglang buana hingga ke Nusantara. Oleh karenanya, alasan apa lagi yang akan kita berikan untuk tidak memperjuangkannya?[]

Oleh: Novida Sari
(Guru Pesantren di Pekanbaru)

Posting Komentar

1 Komentar