TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Sinyal Kebangkitan Islam itu Menyeruak


Mulai bulan September ini, Menteri Agama Fachrul Razi akan menerapkan program sertifikasi penceramah bagi semua agama. Hal itu disampaikan Fachrul dalam webinar 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara' di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9) (https://www.cnnindonesia.com) 

Fachrul menegaskan program penceramah bersertifikat ini diberlakukan untuk semua agama. Kemenag akan menggandeng seluruh majelis keagamaan, ormas keagamaan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) hingga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Program tersebut bertujuan untuk mencetak penceramah yang memiliki bekal wawasan kebangsaan dan menjunjung tinggi ideologi Pancasila, sekaligus mencegah penyebaran paham radikalisme di tempat-tempat ibadah 

Program sertifikasi penceramah ini sebenarnya sempat dilontarkan oleh Fachrul pada medio akhir 2019 lalu. Wacana ini sempat menimbulkan pro kontra di tengah-tengah publik. Salah satunya datang dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang menuding ada agenda terselubung yang direncanakan MUI dan Kemenag dalam sertifikasi penceramah.

Masih dalam acara webinar yang sama, Menag juga mengecam radikalisme yang masuk lewat ‘good looking’-Hafiz. Menurutnya, cara paham radikal masuk adalah melalui orang yang berpenampilan baik atau ‘good looking’ dan memiliki kemampuan agama yang bagus. Si anak 'good looking' ini, jika sudah mendapat simpati masyarakat bisa menyebarluaskan paham radikal (https://news.detik.com)

Lebih lanjut, Menag juga meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan untuk tidak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai aparatur sipil negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Fachrul menyadari bila paham khilafah sendiri tak dilarang dalam regulasi di Indonesia. Namun, ia menyatakan lebih baik paham tersebut diwaspadai penyebarannya di tengah-tengah masyarakat.

Semua yang dilakukan Menag ini menegaskan bahwa kebijakan Kemenag semakin ‘ngawur’. Sebagai leading sector penanganan radikalisme agama, nampak Kemenag semakin menyerang Islam dan memojokkan pemeluk Islam yang taat syariat. Hal ini juga menegaskan agenda deradikalisasi hanya kedok untuk menghambat kembali tegaknya Islam kaffah dalam bingkai Khilafah. Apa yang salah dengan Khilafah sebagai sebuah ajaran Islam? Mengapa tudingan teroris, radikal, anti NKRI selalu diarahkan ke umat Islam yang menginginkan penerapan Islam secara menyeluruh kembali tegak di muka bumi ini?

Sementara memang tak bisa dipungkiri, sinyal-sinyal kebangkitan Islam kian menyeruak di tengah-tengah masyarakat. Hal ini terlihat dari semakin tingginya ghirah atau semangat umat Islam dalam mengkaji ajarannya. Banyak majelis ta’lim maupun forum diskusi keislaman diselenggarakan di berbagai segmen masyarakat. Aksi 212 pada 2 Desember 4 tahun lalu mendeskripsikan kekuatan persatuan Islam dan indahnya kebersamaan umat Islam Indonesia. Bisa dibayangkan, jika persatuan ini terwujud di seantero dunia Islam, kejayaan Islam akan dapat kembali teraih.

Gambaran Kebangkitan Islam

Kebangkitan, dengan kata dasar bangkit adalah bangun dari keadaan tidur, berdiri tegak dengan kaki sendiri dan mampu menggetarkan lawan. Kondisi umat Islam saat ini bisa dikatakan belum bangkit karena jauh dari pemahaman Islam dan tidak adanya kekuasaan Islam. Tanpa adanya kekuasaan Islam, umat Islam di berbagai belahan dunia seperti Palestina, Uyghur, Rohingya dll sangat menderita. Tidak ada yang mampu menolong dan membalas kejahatan kaum kafir dan Yahudi atas mereka. Sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah SAW di Mekah; kesedihan, kematian, siksaan, dan penghinaan orang Quraisy terhadap Rasulullah dan para sahabat tidaklah mampu dibalas hingga Islam memiliki kekuasaan di Madinah.

Madinah Al-Munawwarah menjadi pusat peradaban awal Islam yang memberikan pancaran cahaya rahmatan lil ‘alaminnya ke seluruh jazirah Arab, bahkan selanjutnya ke 2/3 belahan dunia. Ketika Islam berkuasa, kegemilangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia kian berkembang dengan banyaknya ilmuwan Muslim yang mampu menyumbangkan fikirannya untuk kesejahteraan umat.    

Motivasi untuk Meraih Kebangkitan         
   
Allah SWT, Sang Khaliq telah memberikan janji akan kembalinya kemuliaan dan kejayaan Islam di akhir zaman. Janji Tuhan semesta alam ini adalah nyata, sebab tidak mungkin Ia bersifat ingkar. Inilah motivasi pertama bagi umat Islam untuk meraih kebangkitan. Motivasi kedua, adanya 4 bisyarah (kabar gembira) bagi kaum Muslim yaitu penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, penaklukan Roma, kembalinya Khilafah (sistem pemerintahan) berdasar metode Rasulullah, dan kekalahan Yahudi dalam peperangan di akhir zaman. Bisyarah pertama telah terwujud pada tahun 1453, yang semestinya mampu memotivasi umat agar bersegera mengupayakan terwujudnya bisyarah-bisyarah lain.

Dua motivasi ini yang diharapkan mampu memantik kembali semangat umat dalam meraih kebangkitan Islam di masa kini. Keterpurukan kaum muslimin harus segera diakhiri dengan kembali menerapkan aturan Islam kaffah dalam sebuah legislasi sistem pemerintahan yang bernama Khilafah.

Keruntuhan Khilafah, Sumber Terpuruknya Kaum Muslimin

Pasca runtuhnya Khilafah pada 1924 di Turki, satu per satu derita kaum Muslim mendera. Duka mendalam menyelimuti umat. Tiada lagi perisai penjaga keamanan dan kesejahteraan rakyat. Tak nampak lagi kekukuhan institusi penjaga tiga masjid suci, Makkah Al-Mukarromah, Madinah Al-Munawaroh, Al-Aqsa yang mulia. 

Sejak itu pula problem kaum muslimin tidak mendapat solusi yang bersumber dari aturan Allah. Juga hukum-hukum syariat diabaikan dan bahkan direndahkan sebagai hukum yang tidak sesuai zaman. Persoalan perempuan dan generasi semakin banyak. Keluarga sebagai benteng terakhir penanaman dan praktik ajaran Islam semakin lemah bahkan mulai dihancurkan melalui beragam rekayasa.

Penangkapan, penganiayaan, hingga pembantaian kaum Muslimin terjadi di mana-mana seperti Cina, India, Palestina, Myanmar, Suriah, Irak, Afrika Tengah, Afghanistan, dan berbagai belahan bumi lainnya. Umat Islam benar-benar mengalami keterpurukan di seluruh aspek kehidupan. 

Kewajiban Menegakkan Khilafah Demi Raih Kebangkitan

Tanpa Khilafah, berbagai kewajiban dalam perkara muamalah, sosial, hukum, politik maupun negara tidak terlaksana. Umat Islam pun hidup tanpa pengayom. Maka menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam untuk berjuang menegakkannya kembali. Berjuang dengan dakwah pemikiran guna menyadarkan umat akan keterpurukannya dan upayanya untuk meraih kebangkitan. 

Selain karena bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah, tegaknya khilafah yang kedua adalah sebagai perisai yang akan melindungi kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia. Termasuk memastikan rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim mendapatkan perlindungan dan jaminan baik di bidang pendidikan, ekonomi, politik, hukum, serta sosial.

Maka sudah sepatutnya kita menyadari pentingnya khilafah yang sudah jelas serta layak diperjuangkan dan mendorong umat mewujudkannya kembali di era saat ini, demi teraihnya kebangkitan hakiki.[]

Oleh: Noor Hidayah, MPA

Posting Komentar

0 Komentar