TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Oppa Korea Jadi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia




Jika pemuda Indonesia berjuang mengusir penjajah itu biasa. Jika ulama Indonesia meneriakkan takbir melawan Belanda juga biasa. Tapi, jika ada warga negara Korea yang berjuang mengusir penjajah dari Indonesia baru luar biasa.

Begitulah sejarah membuktikan bahwa ada tiga orang pria berkulit putih asal Korea yang dimakamkan di TM Pahlawan Tenjolaya, Garut, Jawa Barat. Mereka adalah Hasegawa, Masashiro Aoki juga Yang Chil Sung (www.liputan6.com, 19/8/2019).

Mereka merupakan ahli perakit bom asal negeri gingseng. Mereka dibawa tentara Jepang ke Indonesia untuk membantu pasukannya tahun 1942-1945 silam. Saat Jepang kalah dan menyerah tahun 1945, semua tentara Jepang pergi meninggalkan Indonesia. Tapi tidak dengan mereka bertiga, mereka memilih tinggal di Indonesia, sebab jika mereka kembali ke Korea tetap akan menjadi budaknya tentara Jepang.

Mereka memilih tinggal di Garut Jawa Barat dan menikah dengan warga pribumi hingga memiliki keturunan. Saat terjadi pertempuran Bandung melawan Belanda tahun 1946 mereka ditawan Pasukan Pangeran Papak (PPP) yang bermarkas di Kecamatan Wanaraja, Garut Jawa Barat.

Awalnya mereka akan dibunuh, tapi karena kebaikan hati pemimpin PPP, dan kesigapan taktik perang yang mereka miliki, mereka diampuni. Akhirnya ketiganya masuk Islam dan mengganti nama mereka menjadi nama Islam.

Pertama Yang Chil Sung atau Yanagawa Sichisci berganti nama menjadi Komarudin. Sementara Abu Bakar merupakan nama baru dari Hasegawa, serta Usman yang berasal dari Masashiro Aoki.

Bergabungnya mereka bertiga dalam pasukan elit PPP menjadi berkah tersendiri bagi pejuang tanah air. Aksi heroik mereka terjadi saat menyelamatkan Wanaraja dari serangan pasukan Belanda. Berkat ilmu meracik bom yang dimiliki Komarudin, mereka berhasil menghancurkan jembatan Cimanuk yang menghubungkan Wanaraja dan Garut Kota pada 1947.

Alhasil jembatan Cimanuk runtuh, sehingga penyerangan Wanaraja oleh pasukan Belanja bisa dihindari. Akibatnya, pasukan Belanda berang dan berusaha menangkap aktor perakit bom itu. Untung tak dapat diraih, mereka bertiga berhasil ditangkap pasukan Belanda. Tanggal 10 Agustus 1949 bertempat lapangan Kherkof mereka dieksekusi mati.

Jasad mereka dikebumikan menggunakan cara Islam  di TPU Pasir Pogor, Garut Kota. Untuk menghormati jasa besar mereka sebagai pahlawan Kemerdekaan Indonesia, sejak 1982 jasad ketiganya akhirnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, berdasarkan intruksi pemerintah pusat.

Kenang 100 Tahun kedatangan Korea Ke Indonesia

Peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia jatuh pada Minggu, 20 September 2020. Peringatan ini dihadiri wakil presiden Republik Indonesia  Ma'ruf Amin. Acara ini merupakan salah satu bentuk penguatan hubungan baik antara Indonesia dan Korea Selatan.

Dalam sambutannya Ma'ruf berharap dengan semakin banyaknya produk Korea yang diproduksi di Indonesia, semoga dapat terjadi alih teknologi untuk mendorong sektor industri Indonesia. Sehingga Indonesia bisa banyak belajar investasi dan alih teknologi, agar teknologi kita meningkat Kualitasnya.

Selain itu, di bidang ekonomi, investasi dari Korea tercatat semakin banyak masuk ke Indonesia, seperti produk teknologi, makanan, dan industri hiburan. Dalam bidang pendidikan, Wapres mengapresiasi kontribusi keturunan Korea di Indonesia. Sebab, Sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta salah satu pendirinya adalah keturunan Korea. Universitas tersebut telah memberikan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Industri Hiburan dan K-POP tak boleh jadi Inspirasi anak bangsa

Pada peringatan 100 hari tersebut wakil presiden juga mengatakan "Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreatifitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri." 

Ma'ruf memaknai, kegemaran budaya K-pop ini sebagai peningkatan hubungan sosial kebudayaan antara dua bangsa. Sebab, ketertarikan warga Indonesia terhadap Korea ini juga telah mendorong meningkatnya wisatawan Indonesia ke Korea.

Harapan wakil presiden terkait menjadikan Korea Selatan sebagai inspirasi dalam hal perkembangan teknologi bisa kita amini. Karena teknologi merupakan cipta akal pikiran manusia, yang tak terkait dengan ideologi/paham yang mereka miliki. Teknologi murni hasil kejeniusan otak dalam berinovasi.

Kita lihat saat ini memang Korea Selatan ahli dalam hasilkan teknologi robot dan sebagainya yang berguna bagi kehidupan manusia. Itu sebuah prestasi yang layak diacungi jempol dan ditiru.

Tapi mengambil inspirasi dari makanan dan hiburan berupa K-pop dan lainnya tak boleh kita terima. Karena hiburan dan makanan menjadi sebuah ajang penyebaran gaya hidup dan ideologi bangsa yang mereka miliki.

Hal ini terkait dengan agama dan keyakinan yang dimiliki bangsa Korea Selatan. Penduduk Korea Selatan dikenal tak memeluk agama atau  atheis. Badan Statistik Korea mengatakan jika dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan warga yang tidak memiliki agama di Korea Selatan. Jika pada 2005 jumlah warga yang tak memeluk agama sekitar 47%, jumlah itu meningkat 10% dalam 10 tahun terakhir (www.dreamer.co, 29/5/2017).

Sehingga fix, dari segi keyakinan mereka tak layak kita jadikan sumber inspirasi karena bertolak belakang dengan Indonesia yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi mayoritas bangsa Indonesia adalah muslim, yang memiliki pedoman dan sumber inspirasi tersendiri.

Fakta yang teridera saat ini, bahwa industri hiburan yang berasal dari Korea Selatan memiliki banyak dampak negatif ketimbang dampak positif. Lewat tayangan Drakor-nya mengajarkan anti tuhan, gaul bebas, budak cinta (Bucin) dan budak dunia.

Lewat K-POP juga ajarkan hal yang sama, gaul bebas lengkap dengan elgebetenya. Pecinta sesama jenis dan perilaku menyimpang lainnya. Semua dibalut dengan paras good looking dan wajah mulus para artisnya. Lalu pantaskah mereka kita jadikan Inspirasi?

Padahal Indonesia mayoritas muslim yang punya teladan sendiri yakni Rasulullah Saw. Beliau layak dijadikan sumber inspirasi hidup agar generasi berada dijalan yang lurus. Plus mempelajari kitab suci Al Quran sebagai pedoman hidup agar generasi tak salah arah dan langkah.

Alhasil, jika dulu pejuang kemerdekaan asal Korea yakni Komarudin dan kawan-kawan layak kita jadikan contoh yang baik. Mereka berani mati demi membantu kemerdekaan Indonesia dan memilih beragama Islam juga. Tapi sekarang Oppa Korea anti agama, mereka tak kenal bersuci dan lainnya. Lalu masih layakkah mengidolakan mereka?

Oleh: Yudia Falentina 
(Pemerhati Lingkungan dan Masyarakat)

Posting Komentar

0 Komentar