TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Islam dan Umat Islam Dihina, Siapakah yang Membela?




Penghinaan terhadap agama Islam kembali marak . Beberpa saat yang lalu kita mendapati adanya pembakaran Al Quran di Swedia dan Norwegia yang memicu demonstrasi besar-besaran. Pembakaran ini dilakukan oleh kelompok anti Islam Denmark Stram Kurs (www.sindonews.com)

Sementara di negara lain kita melihat majalah Charlie Hebdo Perancis menerbitkan kembali kartun yang menghina nabi Muhammad. Kartun yang diterbitkan ini adalah kartun yang pertama kali diterbitkan harian Denmark Jyllands-Posten pada 2005 dan kemudian dicetak ulang oleh Charlie Hebdo pada 2006 (www.cnnindonesia.com). Penerbitan majalah mendapat kecaman dr berbagai Negara antara lain Indonesia, Turki, Iran, Pakistan. Selain iru kecaman juga disampaikan oleh Imam besar Al Azhar Mesir dan Komisi HAM OKI (www.liputan6.com).

Namun penghinaan tidak hanya terjadi di luar negeri tapi juga di dalam negeri. Sebagaimana diketahui beberapa saat yang lalu Menag Fachrul Razi menyatakan bahwa masuknya radikalisme di kalangan ASN melalui orang yang hafidz quran. Ini tentu saja melukai kaum muslimin Indonesia. Pernyataan ini tentu saja menuai banyak kecaman dan kritikan dari masyarakat termasuk dari para DPR. 

Ketua Komisi VIII Yandri Susanto mengatakan bahwa dia mendapat laporan sejumlah pihak yang tersinggung dengan pernyataan dari Fachrul karena dianggap tidak pantas disampaikn oleh seorang Menteri Agama. Bahkan Yandri mengaku mendapatkan laporan dari pengasuh pondok pesantren dan ulama yang memprotes ucapan Fachrul tersebut (www.cnnindonesia.com).

Penghinaan demi penghinaan dirasakan oleh umat Islam. Ini tidak hanya terjadi saat ini saja. Namun hal ini telah terjadi berulang kali. Penghinaan ini terjadi akibat adanya paham kebebasan pada sistem Kapitalisme. Dalam sistem Kapitlisme memberikan empat kebebasan bagi rakyatnya. Yaitu kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan berperilaku. 

Empat kebebasan ini membuat orang berbuat seenaknya. Kebebasan berpendapat membuat mereka bebas melontarkan pendapatnya sesuai hawa nafsunya, tanpa berpikir apakah itu benar atau tidak, apakah pemikiranya itu sesat dan menyesatkan orang lain atau tidak, apakah akan memberikan dampak yang buruk di tengah-tengah masyarakat atau tidak. Selama hal tersebut mereka anggap tidak mengganggu kebebasan orang lain, maka hal itu dianggap sah-sah saja. Inilah yang sangat berbahaya.

Ditambah lagi tidak adanya penjagaan oleh Negara bagi kemuliaan agama. Tidak ada sanksi bagi orang yang melakukan penghinaan terhadap agama. Di Indonesia misalnya, meski sudah ada Undang-undang yang mengatur tentang penista agama namun realitasnya banyak pelaku yang tidak dihukum dan bahkan bebas berkeliaran hanya dengan meminta maaf saja.

Secara internsionalpun kita melihat sistem Kapitalisme tidak benar-benar melindungi kemuliaan agama. Mirisnya yang sering dijadikan hinaan adalah Islam dan umat Islam. Mengapa demikian? Ini terjadi ketika umat Islam terpecah belah menjadi puluhan Negara. Tidak ada Negara Islam yang memiliki kekuatan untuk menindak pelakunya. Ketika ada penghinaan Islam dihina umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan organisasi Islam internasional seperti OKI saja hanya mampu mengecam tanpa bisa memberikan tindakan.

Dalam Islam sendiri, tidak akan membiarkan tersebarnya pemikiran yang bertentangan dengan Islam pada kaum muslimin. Setiap orang boleh memberikan pendapat selama tidak bertentangan dengan akidah Islam dan hukum-hukum Islam. Bahkan jika penguasa melakukan kebijakan yang menyimpang dari syariat Islam maka dia wajib dikoreksi.

Dalam kasus penistaan agama maka Islam secara tegas menyikapinya. Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Ini sebagaimana yang dituangkan dlm HR Abu Daud. Yaitu ketika seorang sahabat memiliki budak wanita yang seringkali menghina Rasulullah SAW. Maka sahabat buta itu membunuh budaknya. Saat berita ini sampai kepada Rasulullah SAW beliau membenarkan sikap sahabat tersebut.

Peristiwa penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW juga pernah terjadi pada masa Khalifah Sultan Hamid II. Yaitu pada peristiwa pada saat Henri de Bornier hendak membuat pentas drama komedi yang berisi penghinaan kepada Rasulullah SAW di Perancis. Maka Sultan Hamid II mengirim surat kepada Perancis untuk melarang pementasan drama tersebut di seluruh Perancis dan menyampaikan akibat politik yang akan dihadapi Perancis jika drama tersebut terus dipentaskan.

Maka saat itu pemerintah Perancis serta merta membatalkan pentas drama tersebut. Kumpulan teater itu selanjutnya datang ke Inggris dan hendak melakukan pementasan serupa. Sultan Hamid II kemudian kembali menulis surat kepada Inggris untuk menghentikannya. 

Namun hal tersebut ditolak oleh Inggris dengan alasan kebebasan berpendapat. Maka Sultan Hamid II memberikan ancaman kepada Inggris jika drama tersebut tetap dipentaskan maka Sultan Hamid II akan mengumumkan jihad kepada kaum muslimin untuk menyerang Inggris karena telah melakukan penghinaan kepada Nabi Muhmmad SAW. Dengan ancaman tersebut maka Inggris segera membatalkan pementasan tersebut.

Inilah gambaran keadaan kaum muslimin dalam naungan Khilfah Islamiyah. Kaum muslimin bersatu di seluruh dunia, memiliki seorang pemimpin yang menerapkan hukum Islam. Maka pada saat itu kaum muslimin menjadi sebuah Negara yang memiliki kekuatan untuk bisa menindak Negara dan orang-orang yang menghina Islam.[]

Oleh: Desi Maulia, S.K.M

Posting Komentar

0 Komentar