TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Dakwah harus Bersertifikat



Belum usai pernyataan good looking dan radikalisme, muncul kembali program kontroversi dari Menag yang ditujukan kepada penceramah/dai. Program yang sebenarnya sudah muncul sejak September 2019 ini merupakan program standardisasi penceramah tanah air. Kementrian agama pun berencana meluncurkan Penceramah Bersertifikat mulai akhir September 2020. (Republika,  7/9).

Menteri Agama Republik  Indonesia, Fachrul Razi, menyatakan Program Penceramah Bersertifikat dimaksudkan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme yang dianggap semakin meresahkan. Bentuk upaya pun semakin terlihat dengan berbagai program dan pernyataan melawan radikalisme yang semakin sering muncul di media, seakan semua sepakat berbicara bahwa radikalisme islam menjadi musuh bersama. 

Namun pada faktanya,  justru banyak pihak yang malah mempertanyakan dan menolak program tersebut. Mulai dari tokoh publik hingga ormas keagamaan yang menilai bahwa seharusnya program ini tidak dibuat. Salah satunya wakil ketua umum MUI,  KH Muhyiddin Junaidi,  yang memandang bahwa kebijakan  tersebut  berpeluang  dimanfaatkan demi kepentingan  tertentu. 

Dampaknya pun diprediksikan dapat membatasi gerak dakwah yang pada akhirnya akan menimbulkan konflik. Hal senada juga disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, yang menyebutkan bahwa penceramah adalah panggilan agama sehingga tidak perlu dilakukan sertifikasi (cnnindonesia.com, 9/9).

Pada hakikatnya program standardisasi merupakan program untuk menyamakan dasar, namun dasar apa yang dijadikan pijakan adalah hal yang patut untuk dipertanyakan. Karena apabila Lembaga pemerintah yang memberikan standard maka secara langsung dan tidak langsung akan membuktikan bahwa ada intervensi pemerintah yang hari ini nyata-nyata terlihat memusuhi Islam. 

Rezim saat ini seakan sangat khawatir terhadap konten para penceramah tertentu. Sehingga berupaya untuk melakukan pembatasan, dan apabila hal itu dilakukan tanpa dasar pada akhirnya bisa berpengaruh terhadap isu untuk menutupi kebenaran Islam yang sesungguhnya. Hal ini pun akan membuat  penceramah yang ada di tengah umat adalah hanya yang prorezim.

Pihak pemerintah menyampaikan pula tujuan untuk menjaga toleransi umat beragama, namun muncul kerancuan lainnya, yaitu program ini seperti hanya ditujukan pada kaum muslimin, sehingga tidak muncul pogram serupa untuk para pengkhotbah atau penceramah dari agama-agama lain. Seakan menempatkan Islam dan para dai sebagai satu-satunya ancaman toleransi antar umat beragama.

Lalu, bagaimanakah sebenarnya dalam pandangan islam?  Apakah diperlukan sertifikasi tanda penceramah yang telah memenuhi persyaratan tertentu? Mari kita lihat kembali ke dalam pedoman kita yaitu al quran dan as sunnah. Firman Allah dalam surat Fussilat ayat 33 :

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" 

Dakwah dan penceramah sendiri adalah bagian dalam islam. Keistimewaan islam dibandingkan dengan agama dan ideologi lain adalah islam mewajibkan setiap muslim untuk bertanggung  jawab  kepada saudaranya dan segenap umat manusia. Dengan kata lain, dakwah adalah bentuk tanggung jawab sesama muslim untuk saling mengingatkan.

"(inti)  agama (islam) ini adalah  nasihat "(HR At Tirmidzi).

Dakwah sendiri menempati hukum yang wajib. Setiap pribadi muslim yang telah baligh dan berakal,  baik laki-laki atau wanita dapat menyampaikan islam walaupun sebatas apa yang diketahuinya,  sebagaimana sabda Rasulullah saw. 

"Sampaikan dariku walaupun  hanya satu ayat "(HR al Bukhari).

Oleh karena itu, tugas dan kewajiban dakwah berlaku umum atas setiap  muslim tanpa memandang profesi,  status sosial,  atau tingkatan ilmu. Dakwah bukan hanya tugas dari ulama atau Ustadz saja. Hal tersebut bisa berdampak pada hilangnya esensi dakwah amar maksud bagi mungkar, yang artinya hilangnya aturan Islam dalam kehidupan.

Dengan atau tidak adanya sertifikat, kewajiban dakwah tetap melekat pada setiap individu muslim. Jangan anti dengan dakwah, justru dakwah adalah bukti cinta atas sesama kita. Dakwah adalah bukti kepedulian sesama. Wallahu a'lam bishawwab.[]

Oleh : Citra Amalia, M.Pd

Posting Komentar

0 Komentar