TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kesejahteraan Guru yang Terabaikan

Kesejahateraan adalah dambaan semua makhluk Allah termasuk para guru. Mengapa? Karena sosok ini begitu banyak berjuang dalam pendidikan bagi generasi bangsa. Seorang guru kadang lebih memprioritaskan waktunya untuk mempersiapkan bahan ajar yang akan disampaikan kepada murid-muridnya ketimbang waktu yang harusnya ia berikan untuk anggota keluarga. Apa yang disampaikan guru akan mejadi ilmu yang nantinya difahami oleh muridnya. Sehingga guru akan sangat serius mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Harusnya bisa kita nilai bahwa terkadang tidak hanya sebatas profesi, mereka yang mengambil amanah mulia ini benar-benar bertanggungjawab dengan apa yang mereka emban. Tujuannya ingin memberikan ilmu kepada anak-anak agar mampu tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berpemahaman luas, memberi semangat kepada anak didiknya untuk terus belajar atau bertholabul ‘ilmi agar tidak hanya memiliki pengetahuan dalam dunia akademik tetapi juga mampu mengenali Allah sebagai Khaliq yang menciptakan mereka dan seluruh isinya.

Karena sejatinya seorang guru memahami betul hakikat bertholabul ‘ilmi dan membagikan ilmu yang ia fahami tentunya juga dengan mengamalkannya.
Bertholabul ‘ilmi dalam Islam adalah hal yang wajib bahkan terbilang ibadah yang utama pahalanya setara dengan mereka yang berjihad di jalan Allah SWT. Sesuai dengan haditsnya “ Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan” (HR. Ibn Abdul Barr)

Dan didalam Al Qur’an Allah juga berfirman: “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan diantara orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah ayat 11)

Lalu bagaimana dengan nasib guru yang ditelantarkan haknya oleh negara? Dalam hal ini termasuk guru honorer yang sudah sangat sering diabaikan haknya. Seorang guru juga manusia yang membutuhkan apa yang seharusnya ia dapatkan dalam menjalankan amanahnya.

Lagi-lagi kapitalisme tidak mampu memberi solusi atas jeritan umat, yang ada justru semakin memberikan nasib buruk kepada umat terutama kepada para pendidik generasi. Yang seharusnya kita muliakan atas jasa-jasanya dalam mencerdaskan anak-anak kita. Mana peran negara yang harusnya menjalani kewajibannya dengan meriayah umat dengan sebaik-baiknya?

Pada saat Kemendikbud serta Kementerian Pendayagunaan Aaparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) tengah melakukan pendataan terhadap pegawai honorer yang akan mendapatkan subsidi gaji Rp600 ribu, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan terkait bantuan pemerintah tersebut, guru honorer belum bisa menerima bantuan karena pihaknya masih terkendala data di BPJS Kesehatan (Liputan 6 11/09/20).

Hal ini membuktikan gagalnya sistem pendidikan kapitalis sekuler dalam memberikan solusi dan jaminan kesejahteraan bagi para guru.

Berbeda ketika sistem Islam yang akan menjadi landasan negara dalam mengambil sebuah langkah untuk menyejahterakan umatnya bahkan guru, negara dalam sistem Islam mampu memberi solusi dengan memberikan penghargaan tinggi yakni mengapresiasi dalam bentuk gaji yang melampaui kebutuhan guru.

Contohnya dalam sejarah pada saat kegemilangan Islam yang berhasil dalam dunia pendidikan:

Para khalifah memberikan penghargaan sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya, kemudian standar gaji guru yang mengajar anak-anak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas) atau setara 5.700.000,-  rupiah dan diikuti oleh para khalifah berikutnya.

Ibnu Hazm dalam kitab Al Ahkaam menjelaskan, seorang kepala negara berkewajiban memenuhi sarana prasarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Sehingga menjadikan guru akan fokus terhadap amanahnya sebagai guru yang mencetak generasi berperadaban gemilang. 

Dalam hadits dikatakan “Barang siapa yang kami beri tugas melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (gaji/upah/umbalan), maka apa yang diambil selain dari itu adalah kecurangan.” (HR Abu Daud)

Maka sebagai muslim kita harus yakin dengan sistem Islam yakni khilafah Islamiyyah yang tentunya akan memberikan solusi yang hakiki dengan jaminan keberlangsungan hidup bagi seluruh umatnya Wallahu’alam bisshawab.[]

Oleh: Kamila Amiluddin
(Guru Alqur’an, Aktivis Dakwah, dan Pemerhati Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar