TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kepentingan Permanen di BUMN, Biang Kerok di Sistem Bobrok

Keributan dalam kepengurusan pengelolaan manajemen kembali terjadi. Di saat masyarakat sibuk dan bingung menghadapi pandemi. Para pemangku jabatan justru ribut sendiri saling menyalahkan tugas mereka. 

Sebut saja salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu Pertamina. Keributan saling serang dan bongkar borok Pertamina telah mengusik perhatian. Sebagai Komisaris Utama (Komut) di Pertamina Ahok membuka keburukannya. 

Ia blak-blakan menceritakan borok Pertamina pada masyarakat. Dalam video itu ia ngomong ada kebiasaan lobi dengan menteri dalam pemilihan direktur. Selain itu, kebiasaan berutang juga. Saat ini utang Pertamina sudah US$ 16 Miliar. Tapi mau nambah lagi. 

Ada juga ketidak tepatan dalam memberikan gaji. Sudah tidak menjabat direktur anak perusahaan, tetapi masih mendapatkan gaji yang sama. (finance.detik.com, 19/9/20) 

Siapa yang tidak marah kalau aibnya dibuka pada masyarakat umum. Akibat tingkah Ahok ini, Menteri BUMN pun angkat bicara. Apa yang dibilang Ahok itu tidak benar. Menjadi hal yang biasa Menteri melakukan pertemuan dengan anggotanya. Itupun pembicaraan mengenai pekerjaan. Begitulah Pembelaan dari Pak Menteri. (wartaekonomi.co.id, 23/9/20) 

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno pun angkat bicara. Menurut Adi cara Ahok membuka aib perusahaan bak menelanjangi diri sendiri. Menunjukkan ketidak mampuannya dalam menyelesaikan masalah internal. 

Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno, berpendapat aib perusahaan harusnya diselesaikan secara internal. Bukan mengumbar borok perusahaan hingga diketahui khalayak umum. (wartaekonomi.co.id, 21/9/20) 

Begitulah biah saling membela diri, saling menyalahkan terus terjadi. Apa yang kita lihat saat ini, tak hanya terjadi di Pertamina. Hampir di BUMN lainnya pun begitu. Masalah utang selalu menjerat setiap BUMN. Korupsi, kolusi dan nepotisme tak ubahnya kebiasaan yang tak dapat dihilangkan. 

Miris. Semua itu dilakukan demi kepentingan masing-masing. Setiap orang dengan demi memuluskan kepentingannya akan rela melakukan berbagai cara. Bagaimana nasib BUMN jika dipimpin oleh orang seperti ini? 

Sistem Bobrok Selalu Membuat Borok

Kondisi seperti ini tak hanya terjadi di Pertamina. Tapi di BUMN lainnya pun demikian. Masalah mis manajemen, terlilit utang dan masalah lainnya terjadi dimana-mana. Tentu ini bukan sekadar masalah personal. Tapi merupakan masalah sistemis. Yang berhubungan dengan paradigma yang ada saat ini. 

Pemikiran tentang penghalalan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, menjalankan pengelolaan masih tertanam dalam diri para pejabat. Hal ini karena kebiasaan dan aturan yang diterapkan sangat semerawut. Inilah sistem buatan manusia. Sistem yang berdasarkan materi. Yang dikenal sebagai kapitalisme. 

Sistem ini tentu salah. Karena buatan manusia dengan akalnya. Akal manusia yang memiliki keterbatasan, telah dipakai untuk memutuskan segala kebijakan. Sistem ini rusak sehingga melahirkan borok dimana-mana.

Menyembuhkan Borok

Jalan satu-satunya agar borok tak lagi melebar adalah mengobati akar masalahnya. Kebobrokan sistem yang dipakai telah diketahui menjadi penyebab masalah timbulnya borok ini. Sehingga cara terbaik mengobati adalah mengganti sistem yang bobrok dengan sistem yang sehat. 

Sistem sehat hanyalah sistem yang didasarkan pada wahyu, bukan akal manusia. Jika sistem yang berdasarkan wahyu yang dipakai, pemimpin akan menjalankannya dengan amanah. Dengan dorongan iman, ia akan melaksanakan tugas sebagaimana wahyu tersebut menuntun. 

Inilah sistem Islam, yang menjadikan agama Islam sebagai tolok ukur kebijakan. Tidak hanya pimpinan, BUMN pun akan beroperasi sebagaimana tuntunan Islam. Dengan bersandar pada Islam, BUMN akan menjalankan titah sesuai petunjuk Islam. 

Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Untaian hadits di atas menjelaskan bahwa kaum muslim (manusia) berserikat tentang 3 hal. Yaitu, padang rumput, air dan api. Maknanya, setiap orang boleh merasakan manfaat dari ketiga hal tadi. Ketiganya tidak boleh diprivatisasi perseorangan. 

Maka, menjadi tanggung jawab negara untuk mengelola. Agar seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Salah satu yang perlu dikelola secara cermat adalah api. Yang terdiri dari barang tambang dan minyak bumi. Dalam melaksanakan tugas ini, negara mewakilkan pada badan tertentu. Semisal Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

BUMN akan mengelola sumber daya alam tersebut dengan amanah. BUMN ini adalah badan pengelola nirlaba. Sehingga, dalam pengolahan seluruh hasilnya akan diberikan kepada rakyat. Jika hasilnya berupa minyak (bahan bakar) akan diberikan ke rakyat dengan harga murah. Jika hasilnya dari ekspor maka akan diserupakan menjadi fasilitas umum yang dapat dinikmati siapa saja. Maka, hanya dengan Islam BUMN akan berjalan sebagaimana mestinya. Mengurusi SDA untuk kepentingan rakyat. Wallahu'alam bishowab.[]

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

Posting Komentar

0 Komentar