TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kemuliaan Para Ulama

Lagi dan lagi pelaku penusukan ulama dikatakan gila. Kali ini korbannya Syekh Ali Jaber. Peristiwa penusukan berlangsung  di Masjid Falahuddin Bandar Lampung Ahad sore, 13 September 2020. Kasus penyerangan Ulama kali ini bukanlah yang pertama.

Tragesi berdarah yang dialami para ulama di bumi pertiwi ini sedikitnya pernah 5 kali terjadi. Dengan kesimpulan akhir dari proses penyidikan  pelaku mengalami gangguan jiwa.

Pada Maret 2018, Imam Masjid At Tuqo, Kecamatan Kangkung, Kendal, Jawa Tengah, H Ahmad Zaenuri menjadi korban penganiayaan.
Masih di bulan yang sama, Ustaz Abdul Rahman (53) ditusuk oleh pelaku berinisial SM alias V. Korban ditusuk saat sedang menjadi imam salat subuh berjemaah di Masjid Darul Muttaqin, Sawangan, Depok.
Kemudian, pada April 2018, seorang imam masjid di Sidoarjo, Jawa Timur bernama Tajuddin dianiaya saat sedang mengimami salat maghrib.
Peristiwa penyerangan kembali terjadi pada 2020. Juli lalu, Iman Masjid Al-Falah di Pekanbaru, Yazid Umar Nasution ditusuk oleh pelaku IM dengan pisau setelah memimpin salat isya.
Lalu, pada 11 September, seorang imam masjid bernama Muhammad Arif dibacok saat sedang memimpin salat magrib di Masjid Nurul Iman Kelurahan Tanjung Rancing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. ( www.cnnIndonesia.com 14/09/2020 )

Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyampaikan kecaman keras terhadap kejadian penusukan yang menimpa Syekh Ali Jaber. Zulhas, sapaannya, menilai tidak mungkin kejadian penusukan itu dilakukan oleh orang gila. ( www.hidayatullah.com 13/09/2020 )

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ulama adalah sang pewaris para nabi. Melalui ulama lah syiar dan kemuliaan Islam di lanjutkan dan di pelihara. Ulama memiliki peranan penting sebagai pemimpin umat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmu itu, maka ia telah mendapatkan bagian terbanyak (dari warisan para nabi).” (HR Tirmidzi (2682).

Rasulullah Saw memerintahkan umat nya untuk menghormati dan memuliakan para ulama. Bahkan, Rasulullah SAW menyatakan, mereka yang tak memuliakan alim ulama bukanlah bagian dari umatnya.

''Bukan termasuk umatku orang yang tak menghormati orang tua, tidak menyayangi anak-anak dan tidak memuliakan alim ulama.'' (HR Ahmad, Thabrani, Hakim).  

Dalam hadist lainnya, Rasulullah SAW sempat mengkhawatirkan tiga hal yang akan terjadi pada umatnya.  
''Aku tidak mengkhawatirkan umatku kecuali tiga hal,''
''Pertama, keduniaan berlimpah, sehingga manusia saling mendengki. Kedua, orang-orang jahil yang berusaha menafsirkan Alquran dan mencari-cari ta'wilnya, padahal tak ada yang mengetahui ta'wilnya kecuali Allah. Ketiga, alim ulama ditelantarkan dan tidak akan dipedulikan oleh umatku.'' (HR Thabrani).  

Kehidupan yang saat ini menganut sistem Sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan manusia, membuat sebagian dari masyarakat tidak menghormati ulama.  Bahkan Baginda yang mulia Rasulullah Saw sebagai suritauladan bagi seluruh umat manusia dihina, Al-qur’an dibakar dan ajaran Islam dilecehkan. Maka tidak mustahil , semua keputusan ekonomi, politik, pemerintahan dan lain sebagainya di ambil  tanpa mengambil rujukan dari Al-qur'an dan hadits. Sehingga carut-marut terjadi disemua sektor dan lini kehidupan.

Dalam sistem Islam, ulama di muliakan. Mereka dijadikan rujukan dalam seluruh urusan kehidupan ber masyarakat dan ber negara. Seorang Khalifah tak segan-segan mendatangi majelis-majelis ilmu para ulama. Para penguasa dalam khilafah senantiasa mendekat kepada para ulama dan mendengarkan nasihat mereka.

Kondisi negeri kita saat ini sangatlah jauh dari keberkahan. Berbagai masalah membelit silih berganti. Di karenakan nasihat para ulama tidak di jadikan sebagai solusi. Saatnya kita kembali  merujuk pada islam dan ulama. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Ummu Abdilla
(Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Posting Komentar

0 Komentar