TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kembalikan 'Khittah' Mahasiswa




Aneh-aneh saja yang terjadi di negeri ini. Konon mahasiswa UI angkatan tahun 2020 harus menandatangani pakta integritas sebagai persyaratan untuk masuk universitas. Meski belakangan terjadi tarik ulur antara resmi dan tidak resmi, tidak bisa dipungkiri hal ini memang terjadi dan diakui oleh para calon mahasiswa baru (maba) yang terpaksa menandatanganinya dikarenakan sangat mendadak dan waktu yang mendesak. Pakta Integritas itu berisikan total 13 poin yang harus diikuti oleh maba dalam kehidupan sehari-hari selama menyandang gelar sebagai mahasiswa UI. 

Dan yang paling mengundang kontroversial serta telah menimbulkan berbagai reaksi di kalangan sivitas akademika UI maupun masyarakat, adalah poin 10 (Tidak terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara) juga poin 11 (Tidak melaksanakan dan/atau mengikuti kegiatan yang bersifat kaderisasi/orientasi studi/ latihan/ pertemuan yang dilakukan sekelompok mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan yang tidak mendapat izin resmi dari pimpinan Universitas Indonesia). Serta kalimat penutup dalam pakta yang harus ditandatangani tersebut “jika saya melakukan pelanggaran terhadap pakta integritas ini, maka saya bersedia menerima sanksi dari universitas, yang setinggi-tingginya yaitu pemberhentian sebagai mahasiswa/i Universitas Indonesia.” Ancaman hukuman tinggi semacam ini bagi calon maba, menjadi tak masuk akal dikarenakan datang sepihak dan mendadak, ditandatangani di atas meterai, yang membuatnya mengikat secara hukum, terlebih poin yang menjadi sorotan yaitu poin 10 dan 11 akan melahirkan multitafsir dan tidak ada patokan kejelasan.

Anggota komisi X DPR RI Fraksi Partai Gerindra Ali Zamroni mengungkapkan kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (16/9), “Saya menganggap ini sebuah kemunduran kalau tetap dipaksakan. Kita seperti balik lagi ke jaman dulu. Mahasiswa itu kan simbol anak-anak generasi kita yang kritis terhadap situasi dan kondisi, baik itu sosial, politik, ekonomi. Kalau mereka dikekang, tidak ada kontrol dong,” Ujarnya. Pakta integritas ini dikhawatirkan berpotensi mengekang upaya mahasiswa mengkritik kekuasaan, baik pemerintahan atau di lingkungan kampus. 

Bukan hanya membatasi ruang gerak mahasiswa pada study oriented semata, lebih jauh dari itu pakta integritas ini hanya akan membentuk mahasiswa yang apatis dan pragmatis. Mematikan karakter asli mahasiswa dan menjadikannya tidak peduli dengan keadaan yang menimpa di lingkungan akademika, masyarakat apalagi bangsa dan negara. 

Mahasiswa yang paling tidak memiliki 5 peran dan fungsi yaitu sebagai kekuatan moral yakni menjaga moral yang tinggi dan baik  mampu berpikir rasional dan kritis; agen pembawa perubahan yang diharapkan  dan diharuskan menjadi bagian dari perubahan bangsa ini menjadi lebih baik, berartabat, makmur, tentram dan sejahtera berorientasi ke masa depan; selain itu mahasiswa juga berperan sebagai generasi aset bangsa menjadi calon generasi pemimpin yang tangguh, berakhlak mulia serta meiliki tanggung jawab besar memajukan bangsa; belum lagi fungsi dan perannya sebagai penjaga nilai-nilai positif di masyarakat mutlak menjadi keharusan sebagai insan akademis yang senantiasa berpikir ilmiah; dan mahasiswa juga menjadi pengendali sosial yang sudah selayaknya mmengontrol kehidupan sosial masyarakat serta berani bertindak serta bersuara melihat ketimpangan yang terjadi. Semua ini tentu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya apabila pakta integritas ini tetap dipaksakan bagi mahasiswa.

Jika saja hal ini tidak mengundang prokontra di kalangan sivitas akademika UI maupun masyarakat, bukan tidak mungkin pakta integritas ini tidak akan mengalami tolak tarik dari pihak kampus apalagi perubahan di poin yang disoroti. Dan pakta integritas ini akan terus melenggang menjadi persyaratan masuk universitas. Bisa jadi pula, pada akhirnya juga akan diadopsi oleh universitas lain di Indonesia.

Islam Membiarkan Rakyat Berpendapat

Dalam Islam kebebasan berpikir dan berpendapat sangat dihargai. Hal ini bisa disaksikan dari perjalanan sejarah Islam pada masa Nabi saw. dan para sahabat ra., atau dari ajaran Islam itu sendiri. Kebebasan berpikir mencakup kebebasan berilmu dan berpikir ilmiah. Al-Quran menganjurkan menggunakan akalnya untuk merenungi, mengamati, dan memikirkan ayat-ayat kauniyyah-Nya di antaranya adalah QS. Al-A’raf: 185, QS. an-Nur: 43-44, QS. al-Baqarah: 164. Ada pula ayat yang memerintahkan penelitian empiris tentang asal usul atau kejadian seperti dalam QS. al-Ghasyiyah: 17-20. Selain itu terdapat juga hadis Nabi saw.yang memberi kebebasan berpikir dan berekspresi untuk menentukan langkah-langkah dalam urusan duniawi manusia yang itu adalah persoalan teknis yang tidak ada dalilnya. 

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ 
“Kamu Lebih Tahu Mengenai Urusan Duniamu.”

Adapun kebebasan berpikir tidak dikhawatirkan dalam Islam. Karena ajaran Islam tidak bertentangan dengan akal sehat dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam bersesuaian dengan ilmu dan akal dan dapat terpadu untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan dunia akhirat. 

Sedangkan kebebasan berpendapat adalah aspek terpenting dari kebebasan berbicara. Dalam pemerintahan Islam hak mengeluarkan pendapat adalah hak individu yang tidak boleh dikurangi oleh negara sedikitpun. Agar kaum muslimin dapat melakukan kewajiban Islam yang di antaranya amar ma’ruf nahi munkar. 

Semua ini harus dimanfaatkan untuk menebarkan kebaikan Islam dan bukan menyebarluaskan kejahatan dan kedzaliman. Dalam hal ini prinsip musyawarah, dan diskusi menyertai kebebasan berpendapat. Rakyat pun memiliki hak untuk berpolitik, yakni kedaulatan ada pada Asy-Syari’ sedang kekuasaan ada di tangan umat. Jadi umat berhak memilih pemimpin dan berhak memberikan pengawasan dan mengontrol tindakan pemimpinnya baik secara langsung ataupun tidak langsung.atau dengan perwakilan.

Mahasiswa adalah bagian dari umat yang hak dan kewajibannya pun tentu sangat dihormati dalam Islam. Tidak akan ada pengekangan atau pengkerdilan. Apalagi mahasiswa adalah intelektual muda yang memiliki banyak fungsi dan peran dalam kehidupan berbangsa. Dengan adanya perlindungan hak dan kewajiban dan motivasi ruhiyah dari As-Syari’ maka dalam Islam lahir pemuda-pemuda generasi emas pengukir peradaban gemilang. Wallahu a’lam bishshawab.[]


Oleh: Rahmi Ummu Atsilah

Posting Komentar

0 Komentar