TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kejahatan Seksual Merajalela

Penjaminan hak keamanan bagi anak belum dirasakan sepenuhnya di Kota Pontianak. Ini merupakan teguran keras untuk Kota Pontianak yang dinobatkan sebagai Kota Layak Anak (KLA).

Miris, seorang anak penyandang disabilitas di Pontianak, Kalimantan Barat, diduga dicabuli oleh seorang pria berinisial MS (59), warga Kecamatan Pontianak Selatan. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (1/9/2020) siang. (Regional.kompas.com, 8/9/2020)

Dari sumber yang sama, Komarudin mengatakan bahwa MS dijerat dengan Pasal 81 dan 92 Undang-undang tentang Perlindungan Anak dan terancam dipenjara selama 15 tahun serta denda Rp 5 miliar.

Kejahatan bisa terjadi dimana saja. Bahkan bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat disekitar kita, karena kurangnya penjagaan dari orang tua, masyarakat dan negara. Begitu pula hukuman bagi pelaku kejahatan, juga tidak memberikan efek jera. Diketahui dari keterangan KPPAD Kalbar, sepanjang tahun 2017 dan tahun 2018 kasus kekerasan seksual masing-masing sebanyak 14 kasus (kalbar.antaranews.com, 30/4/2019). Demikian pula sepanjang tahun 2019, ada 21 kasus kekerasan seksual (kalbar.prokal.co, 17/12/2019).

Hal serupa yang mengindikasikan lemahnya hukum tak berefek jera juga dirasakan di tahun 2020. KPPAD Kalbar menyatakan sepanjang Januari 2020, total kejahatan seksual non pengaduan sebanyak 20 kasus anak yang terlapor (kalbaronline.com, 2/2). Sepanjang Februari 2020, pihaknya menerima 34 laporan kasus kekerasan terhadap anak, dan tertinggi adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak (kalbaronline.com, 4/3). Bulan Maret 2020, kasus kejahatan seksual sebanyak 17 kasus (kalbar.antaranews.com, 3/4). Bulan April, terjadi 5 kasus kejahatan seksual (insidepontianak.com, 8/5). Selama bulan Juni terdapat 17 kasus kejahatan seksual (insidepontianak.com, 6/7/2020). Sementara di bulan Agustus, kasus kejahatan seksual sebanyak enam kasus (kalbar.inews.id, 3/9).

Kecewa, ditengah terus berulangnya kasus serupa, justru negara hanya mengawasi orang-orang yang taat menjalankan agamanya. Padahal, berulangnya kasus kejahatan seksual membuktikan bahwa pelaku kejahatan semakin merajalela, sebetulnya ini yang harus ekstra diawasi.

Apalagi sebagai muslim, wajib mendudukkan persoalan pada pokok keimanan. Islam memandang perbuatan zina merupakan kriminalitas, haram mendekati zina apalagi sampai melakukannya [QS. Al-Isra':32]. Bagi pezina yang sudah menikah hukumannya rajam sampai mati dan yang belum menikah didera (dicambuk) 100 kali [QS. An-Nur:2]. Allah SWT sebaik-baik pembuat hukum, sudah pasti hukuman tersebut akan memberikan efek jera pada masyarakat lainnya dan menjaga keturunan (hifdzun nasl) manusia. Wallahua'lam.[]

Oleh: Sri Wahyu Indawati, M.Pd
(Inspirator Smart Parents, Founder Smart Islamic Parenting)

Posting Komentar

0 Komentar