TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Karena Inikah JKdN Difitnah dan Diblokir Penayangannya?





Sejumlah oknum sejarawan dan tokoh memfitnah film dokumenter sejarah Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN). Dalam penayangan perdananya, film JKdN ini pun diblokir berkali-kali oleh pemerintah. Mengapa hal itu terjadi? Memangnya apa esensi dari film dokumenter ini? Semuanya dibahas pada rubik Media Utama (headline) Tabloid Media Umat edisi 273 (awal September 2020).   

Untuk mengupas masalah tersebut Host Follback Dakwah Kholid Mawardi mewawancarai Jurnalis Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dalam Bincang Tabloid Media Umat Edisi 7: Kuat, Jejak Khilafah di Nusantara (Membedah Rubrik Media Utama Tabloid Media Umat edisi 273 Kuat, Jejak Khilafah di Nusantara), Sabtu 5 September 2020 pukul 16.00 WIB di kanal Youtube Follback Dakwah. Berikut petikannya. 



Mengapa Tabloid Media Umat mengangkat headline “Kuat, Jejak Khilafah di Nusantara”?

Untuk menunjukkan kepada publik bahwa Jejak khilafah di Nusantara ini sangat kuat. Karena selama ini para penjajah dan juga rezim dari masa ke masa terus menerus berupaya menguburkan dan mengaburkan sejarah sehingga seoal-olah berbagai kesultanan yang ada di Nusantara kala itu tidak ada hubungannya dengan khilafah.  

Sedangkan momentum pengangkatan tema ini karena kesuksesan teman-teman Komunitas Literasi Islam (KLI) dan Khilafah Channel dalam membuat dan menayangkan film dokumenter sejarah Islam Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN). Tabloid Media Umat, sebagai media partnernya tentu saja dengan senang hati dan bangga mengulasnya dalam beberapa edisi jelang penayangan film ini dan juga pasca penayangan film ini. 


Tergolong berhasil juga ya penayangan JKdN ini…

Iya, Alhamdulillah berhasil. Sangat berhasil. Lebih dari 270 ribu tiket diserap pirsawan untuk menonton tayangan premiernya. Secara konten, film ini juga mampu membangkitkan kegairahan publik untuk lebih memperhatikan sejarah dan membaca ulang sejarah. 

Bahkan banyak pihak yang tadinya tidak tampak konsern terhadap masalah sejarah khilafah di Nusantara ini pun memperbincangkannya. Salah satunya seperti yang dilakukan Fadli Zon. Kepada mantan Direktur TVRI Helmi Yahya, mantan wakil ketua DPR tersebut menunjukkan koleksi koin-koinnya, menurutnya itu jejak Khilafah Umayah & Abbasiyah di Tapanuli Tengah (abad ke-7 M). 

Sehingga pernyataan penasihat penjajah Belanda Cristiaan Snouck Hurgronje yang menyebut Islam masuk Nusantara baru pada abad ke-13 M, terpatahkan. Jadi terungkaplah selama ini yang sudah rapat-rapat dikubur penjajah Belanda itu. Karena di buku sejarah waktu saya sekolah kan diajarkannya Islam masuk ke Indonesia baru abad ke-13 M melalui para pedagang Gujarat dan tidak menyinggung-nyinggung khilafah sama sekali. 

Sampai saat ini pun publik masih tetap memperbincangkan JKdN. 

Dan menurut Penasihat KLI Ustaz Muhammad Ismail Yusanto ketika saya wawancara untuk edisi ini, keberhasilan yang utama adalah film ini telah berhasil dengan sangat baik menunjukkan jejak khilafah yang sangat jelas di Nusantara ini. Bahwa khilafah itu dekat. Bukan jauh di sana. Bahwa khilafah itu kita. Bukan orang lain. Ini keberhasilan paling penting.  


Beberapa hari sebelum dan sesudah penayangan JKdN, tagar terkait JKdN juga trending di Twitter ya…

Iya…


Tapi kata seorang analis Twitter, trending-nya tidak organik karena menggunakan bot alias robot…

Pendapat analis itu keliru atau paling tidak, tidak sepenuhnya benar. Dia mengatakan seperti itu dengan indikasi karena banyak akun twitter yang mengangkat tanda pagar terkait JKdN itu followernya di bawah 100 orang, sehingga dia tafsirkan secara gegabah bahwa itu bot alias robot. Tapi analisnya juga masih tingkat burung gereja ya wajar begitu, mungkin terbangnya kurang jauh dan pandangan matanya kurang tajam, coba kalau sekelas elang saya yakin pendapatnya tidak begitu.

Saya bukan analis twitter tetapi saya tahu persis, banyak akun yang ditumbangkan menjelang momen-momen penting. Akun twitter saya saja yang tumbang pada April 2020 lalu tumbang pas momen desakan kepada pemerintah untuk melakukan lockdown, umur akunnya baru setahun dengan follower baru 7 ribu. 

Di Agustus kemarin saya bikin akun lagi twitter lagi, jelaslah followernya belum sampai seratus. Dan saya lihat banyak teman-teman saya juga yang akunnya tumbang di bulan Agustus pasca diblokirnya acara pre launching JKdN pada awal Agustus lalu. Lalu mereka bikin lagi akun baru, tentu saja followernya juga masih sedikit bahkan ada yang masih nol.  Jadi follower sedikit, itu belum tentu akun robot.

Sejarawan non Muslim asal Inggris mengatakan tidak ada kaitannya khilafah dengan Jawa karena menurutnya tidak ada  dokumen yang menunjukkan itu di museum arsip Turki Utsmani…

Dia juga ngawur. Dia ngomong gitu ngakunya karena telah berkirim surat elektronik kepada ahli sejarah hubungan Utsmaniyah—Asia Tenggara, Dr. Ismail Hakki Kadi pada 16 Agustus. Surat itu kemudian dibalas dua hari kemudian.  

Menurut dia sambil mencatut nama Dr. Ismail Hakki Kadi, tidak ada hubungan antara Turki Utsmani dengan Jawa karena tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani dengan Jawa baik semasa Kesultanan Demak, sebagai kesultanan Islam pertama di Jawa maupun Kesultanan Jogja. 

Panitia JKdN tanpa harus repot-repot menyanggah, Ismail Hakki Kadi sendiri jauh-jauh di Turki membantahnya dengan elegan. Menurutnya, dalam wawancaranya dengan Anadolu Agency hari Kamis (27/8) yang dikutip hidayatullah esoknya, Kadi mengatakan, tidak adanya dokumen sejarah bukan berarti hubungan keduanya dianggap tidak ada sama sekali.

Nah, pendapat Kadi ini sangat hati-hati dan bijak sekali. Apalagi kita semua tahulah Inggris itu pada 1812-an menjarah lebih dari 7 ribu arsip di Kesultanan Jogja, sehingga yang tersisa di Keraton Jogja itu hanya tinggal 363 naskah kuno saja. Inggris juga yang dengan sangat licik mengadu domba kaum Muslimin dan menghancurkan Khilafah Utsmani. 

Jadi kalau sekarang ada oknum sejarawan Inggris ngomong ngawur seperti itu wajarlah. Itu merupakan upaya penjajah untuk membikin kabur sejarah, karena upaya untuk mengubur sejarah sudah tidak mungkin lagi dilakukan. 

Dr. Kasori, Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga dalam desesertasinya yang berjudul Di Bawah Panji Estergon: Hubungan Kekhilafahan Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak pada Abad XV-XVI M pada April 2020 menegaskan kuatnya hubungan Khilafah Utsmani dengan Jawa. 

Dalam abstraksinya Dr. Kasori menuliskan, Penulis banyak menemukan fakta sejarah betapa kuatnya hubungan antara Turki Utsmani dan Demak pada Abad XV-XVI, dalam dakwah Islam, perdagangan dan hubungan yang bersifat politik. Demikian pula banyak ditemukan fakta-fakta sejarah hubungan Turki-Jawa yang tetap berlanjut pasca Demak runtuh. 

Desertasi ini dibuat pada April tapi baru viral pada Agustus pasca sejarawan Inggris itu ngomong ngawur. Tapi kayaknya memang sudah tak tahu malu ya, sejarawan asal Inggris itu pasca pemutaran JKdN kembali memfitnah JKdN dengan mengatakan isi film JKdN itu hanyalah khayalan. Tapi pas wartawan detik.com bertanya, apakah dirinya sudah nonton JKdN, dia bilang belum. Ha…ha… ha… 


Ha…ha… ha… jadi film JKdN itu bukan khayalan ya?

Ya iya dong. Kalau cuma khayalan seperti yang difitnahkan sejarawan Inggris itu, buat apa Tabloid Media Umat mau jadi media partnernya. Media Umat tahu persis kredibilitas para sejarawan dan para pengurus Komunitas Literasi Islam (KLI), makanya mau jadi media partnernya.

Terkait film ini juga, saya mewawancarai sejarawan Moeflich Hasbullah. Kalau tidak salah sejak 1994 menjadi dosen Sejarah Peradaban Islam (SPI) di Fakultas Adab UIN Bandung. Berarti sudah 26 tahun ya dia jadi dosen sejarah di kampus tempat saya kuliah jurnalistik dulu. 


Apa pendapatnya tentang JKdN?

Saya kan bertanya, “Adakah fakta baru dan apa sumbangan penting yang disajikan JKdN?”  

Pak Moeflich menjawab begini, “Kalau hubungannya dengan islamisasi itu sudah tidak aneh, banyak sekali faktanya. Tapi yang mengungkap fakta-fakta hubungannya dengan Kekhilafahan Islam secara khusus tentang jejak Khilafah, belum banyak.
 
“Jadi film itu memberikan sumbangan yang penting informasi sejarah tentang jejak Khilafah di Nusantara dengan foto-foto bukti arkeologis, pengakuan keturunan yang ada di Samudera Pasai dan di kesultanan yang lain, kemudian tulisan-tulisan di batu nisan yang menunjukkan adanya hubungan dengan Kekhilafahan Turki Utsmani semuanya jelas kalau menurut saya.”

Nah, gitu kata Pak Moeflich. Lalu dia juga ngomong begini, “Dan buat masyarakat, sejarawan dan peminat sejarah yang sedang belajar sejarah yang selama ini belum banyak tahu tentang jejak khilafah, menurut saya film JKdN menyuguhkan fakta-fakta sekian banyak yang menunjukkan kuatnya hubungan Kekhilafahan Turki Utsmani dengan Islam di Nusantara.”


Terkait akurasinya bagaimana?

Saya juga tanyakan itu, Pak Moeflich menjawab, “Jadi secara garis umum sejarah, itu sangat kuat, jelas dan berkesesuaian. Tapi kalau soal fakta-fakta teknis, ini yang menjadi kontroversi, ada yang setuju, ada yang tidak, ada yang membenarkan, ada yang tidak. Nah, itu menurut saya soal adu data saja.”

Terus Pak Moeflich menunjukkan dua data yang tidak disebut JKdN tetapi sangat mendukung argumen JKdN. Salah duanya yakni desertasi Dr. Kasori yang saya singgung di awal tadi dan pernyataan Sri Sultan Hamengkubuono X, yang menyatakan Raden Patah dikukuhkan oleh utusan Sultan Turki Utsmani sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawi (Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa). Mungkin maksud dia untuk menyanggah sejarawan asal Inggris yang tadi kita bahas.

Kemudian Pak Moeflich juga menyebutkan data yang disebut JKdN lalu menyimpulkan, “Ketika kita menemukan fakta adanya kompleks makam tentara Utsmani di Samudera Pasai yang disebut Jenissary Utsmani, itu jelas menunjukkan fakta arkeologis kuatnya jejak khilafah di Nusantara. Jadi akurat sekali. Maka saya simpulkan akurasi menurut saya cukup kuat. Adapun yang tidak setuju ya boleh saja mengoreksinya, mendebatnya dengan fakta-fakta lain yang lebih kuat.” 

Begitu.

Nah, sekarang saya persilakan para pemirsa Follback Dakwah untuk menilai sendiri atau memilih: mau percaya pada sejarawan non Muslim asal Inggris yang ngomongnya ngawur atau sejarawan Muslim yang jujur?  


Ada juga oknum sejarawan Muslim, profesor lagi, yang ngomongnya ngawur lho terkait JKdN ini, malah jadi seperti membantah buku sejarah karyanya sendiri…

Iya, ha… ha…  kasihan memang. Saat ini tak sedikit orang seperti itu, rela mengorbankan intelektualitasnya, rela menutupi kebenaran demi sesuatu yang sifatnya fana. Ya Allah, semoga kita semua tetap istiqamah dalam menyuarakan kebenaraan dan profesor tersebut dan lainnya bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Aamiin…


Meski penayangan JKdN dinilai sukses, tampak juga jejak rezim berkali-kali memblokir siaran perdana film dokumenter ini. Menurut Mas Joy, mengapa rezim berbuat begitu?

Yang tahu persis alasannya kenapa tentu saja rezim dan Allah SWT ya… tapi sangat mungkin karena film ini tentang khilafah. Dikhawatirkan masyarakat semakin mencintai khilafah, dikhawatirkan masyarakat semakin mendukung ide khilafah yang selama ini didakwahkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 

Sebagaimana kita ketahui, HTI merupakan bagian dari kaum Muslimin yang sangat konsisten mendakwahkan kewajiban menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Karena kekonsistennya tersebut, penjajah yang dulu bersusah payah meruntuhkan khilafah, tak mau khilafah itu tegak lagi, begitu juga dengan Amerika yang di masa George Bush terang-terangan menyatakan permusuhannya dengan kaum Muslimin yang berupaya membangkitkan kembali khilafah. Maka para penjajah itu dengan berbagai cara berupaya membungkamnya. 

Namun sayangnya, rezim malah seakan mengamini maunya penjajah. Dengan zalimnya rezim mencabut badan hukum perkumpulan (BHP) HTI pada 2017 lalu. 

Tapi isu khilafah malah semakin mengopini. Maka kata “khilafah” juga dihapus dalam buku pelajaran Fikih Madrasah Aliyah Kelas 12 per 2019 dan tidak boleh diajarkan lagi mulai 2020. Padahal dalam buku mata pelajaran terbitan Kemenag pada 2016 maupun yang sebelumnya, dengan tegas menyebutkan menegakkan khilafah hukumnya fardhu kifayah. 

Jadi kemunculan film JKdN, dinilai pemerintah dalam kerangka itu. Meskipun Menag mengatakan materi Khilafah masih diajarkan yakni di mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) tapi Menag menyebutkan dalam pembelajarannya ditekankan Khilafah sudah tidak relevan lagi. 

Dan saya duga kuat, meskipun pemerintah belum menonton JKdN, mestilah rezim berkeyakinan di JKdN tidak ada penekanan “khilafah sudah tidak relevan lagi”. Karena mustahil kan orang yang beriman dan bertakwa akan menyatakan mahkota kewajiban tersebut sebagai sesuatu yang sudah tidak relevan?

Maka, walaupun ini film sejarah, film dokumenter, ilmu pengetahuan, pemerintah tidak mau publik sampai menonton film ini. Karena dikhawatirkan akan banyak disukai, mendorong terbayangnya gambaran tentang khilafah di benak masyarakat. Apalagi film ini berbentuk audio visual yang memberikan gambaran tentang hubungan Khilafah dengan Nusantara dengan sangat baik.  

Jadi, sejarah yang mengagumkan itu dikhawatirkan akan memperkuat ide dan pemikiran tentang Khilafah dan pemerintah sangat mengkhawatirkannya. Maka otomatis diblokir penayangannya. 

Dan sekarang, tetiba ada pihak tertentu melaporkan Penasihat Komunitas Literasi Islam (LKI) Ustaz Ismail Yusanto ke aparat kepolisian dengan alasan tanpa dasar alias halu yang berbasis kedengkian. He..he.. 

Closing statement-nya Mas Joy…

Semestinya pemerintah tidak boleh begitu. Karena perbuatan seperti itu seolah-olah pemerintah mengikuti jejak para penjajah terutama Belanda dan Inggris yang sangat agresif dalam menguburkan dan mengaburkan sejarah khilafah di Nusantara.  

Tapi untung saja, meski diblokir berkali-kali, masyarakat tidak diam. Mereka kemudian mencari saluran-saluran lain untuk bisa memutar film JKdN. Dan ternyata film itu ditonton oleh sebagain masyarakat Muslim, yang menurut Moeflich Hasbullah, bukan hanya sebagai tontonan biasa tetapi sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Karena mereka merasa selama ini aspirasi mereka dibendung dan dicurigai terus secara berlebihan. 

Jadi, menurut Pak Moeflich film JKdN ini ada unsur pemberontakan. Pemberontakan ide. Bukan pemberontakan yang melanggar hukum. Pemberontakan ide dan perlawanan diskursus untuk meraih pendukung dan pengikut sebanyak-banyaknya.

Nah, untuk selengkapnya, silakan pemirsa Follback dakwah baca tabloid Media Umat edisi 273, edisi terbaru, yang headline-nya berjudul Kuat, Jejak Khilafah di Nusantara! []

Oleh: Ika Mawar

Wawancara versi videonya silakan simak di https://www.youtube.com/watch?v=sCaq-V4xr6E&t=529s  

Posting Komentar

0 Komentar