Gaung Khilafah Membahana, Isu Radikalisme Membabi Buta



Bukan Menteri Agama Fachrul  Razi namanya jika statement dan kebijakannya tidak kontroversial. Persekusi ulama diapresiasi, anak good looking dan memiliki kemampuan agama bagus  disebut bibit radikalisme, pendukung khilafah tak boleh menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan penerapan program sertifikasi penceramah agama. Itulah deretan kebijakan Menag yang cukup kontroversi.

Tak pelak hal itu mengundang reaksi di kalangan tokoh masyarakat. Di antaranya datang dari wakil ketua MUI, Muhyidin Junaidi terkait paham radikal masuk melalui orang yang good looking dan berkemampuan agama yang baik. Ia menilai tuduhan Menag itu tak berdasar sebab menyakiti dan mencederai hati umat yang mempunyai andil besar dalam kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata. (Detik.com, 4/9/2020)

Sementara itu PA 212 tentang program sertifikasi penceramah agama melontarkan tudingan bahwa ada bahaya terselubung yang direncanakan Kemenag dalam sertifikasi penceramah. (CNN,03/09/2020)

Di sisi lain Menag Fachrul Razi menyadari bila  ajaran tentang kekhilafahan bukan ajaran terlarang dalam regulasi di Indonesia. Namun pelakunya dilarang menjadi PNS. Ajaran Islam harus tunduk pada Islam versi rezim dan sertifikasi penceramah menjadi legalitas penyampai ajarannya.

Sejatinya narasi-narasi tersebut diembuskan bermuara pada satu hal. Yaitu menyudutkan umat Islam yang berusaha taat secara kafah atas syariat-Nya dengan memperjuangkan institusi khilafah untuk penerapannya. Hal ini juga menjadi sindiran Muhyidin terhadap Fachrul yang diangggap kerap menyudutkan umat Islam sejak menjabat Menteri Agama.

Maka isu radikalisme dijadikan senjata ampuh untuk memuluskan segala tuduhan guna meredam kerinduan umat yang membuncah atas penerapan syariat-Nya.

Fadli Zon, politisi dari partai Gerindra turut melontarkan komentarnya. Bahwa isu radikal sengaja dihembuskan untuk menutupi ketidakbecusan pemerintah mengelola negara.

Benarlah adanya, sebenarnya pemerintah mempunyai permasalahan lebih penting untuk diselesaikan dibandingkan masalah radikalisme. Misalnya jumlah orang terinfeksi virus Covid-19 yang tak kunjung mereda bahkan semakin hari menunjukkan peningkatannya, ekonomi yang diambang resesi, pendidikan yang masih karut-marut dan sejumlah permasalahan lainnya.

Akan tetapi tampaknya gaung khilafah yang cukup menggemaskan lebih menarik perhatian pemerintah. Apatah lagi terdapat bukti-bukti kuat bahwa Islam yang mengakar kuat di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kekhilafahan Islam di Timur Tengah sejak abad ke-7 masehi. Penguasa berusaha membuat gaung tandingan untuk menghabisi ajaran khilafah dan memojokkan pengembannya.

Hal ini menegaskan Islam fobia akut telah merasuki hati penguasa. Sehingga upaya meredamnya dengan menggencarkan isu radikalisme yang membabi buta. 

Kesadaran umat Islam akan ajarannya sehingga memberikan dorongan untuk taat pada perintah dan larangan Allah Swt. tak seharusnya membuat pemerintah kalap. Justru sebaliknya, pemerintah patut bersyukur sebab tak perlu sibuk membina umat dengan nilai kebaikan. Ketaatan kepada syariat terefleksi dari keimanan yang bersemayam dalam hati.

Sebagaimana hari ini, banyak para pemuda yang tertarik untuk mempelajari Islam dan memperjuangkannya, hal tersebut merupakan salah satu bentuk aplikasi dari sabda Rasulullah:

 قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, serta (7) seseorang berzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air mata." (HR. Bukhari)

Begitu juga, penguasa seharusnya tak perlu sentimen terhadap ajaran khilafah dan para pengembannya. Hal itu merupakan bentuk ketaatan untuk melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah agar berpegang teguh pada Sunah beliau saw. juga pada sunah Khulafaur Rasyidin.

Nabi saw. bersabda,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِيِّنَ مِنْ بَعْدِيْ، ;وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Kalian wajib berpegang teguh dengan sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah sunah itu dengan gigi geraham.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Hal ini berarti, pentingnya upaya mempertahankan khilafah dan penegakkan khilafah jika tidak ada seperti saat ini. Sebab banyak hukum tak terlaksana tanpa keberadaannya.

Tegaknya institusi khilafah mustahil membawa kemudaratan. Sudah terbukti selama hampir 1300 tahun lamanya, kaum muslimin berpayung kemakmuran dan kesejahteraan di bawah naungannya.

Sebaliknya, sistem yang menaungi kita hari ini. Alih-alih menyejahterakan, yang ada dari hari ke hari permasalahan kian menumpuk dan tak kunjung terselesaikan. Hanya menyisakan banyak penderitaan. Mengapa tak coba untuk move on dari sistem buruk ini? Wallahu a'lam  bishshawab.[]

Oleh : Elfia Prihastuti S.Pd 
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK)

Posting Komentar

0 Komentar