TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Justru dari Viral Video Ospek Online Aku Banyak Belajar

Dunia kampus diramaikan oleh viralnya video ospek senior yang membentak-bentak maba pada Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya. Hal itu dikarenakan mahasiswa baru terlihat tidak memakai sabuk atau ikat pinggang. Kegiatan ospek online yang berhasil diposting oleh pemilik akun twitter @skipberat pada Senin (14/9) pun dibenarkan oleh Humas Unesa Vinda Maya Setianingrum. 

Praktik ospek semacam ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Di dalam buku berjudul Jakarta 1960an menjelaskan pengalaman serupa (perpeloncoan) juga terjadi pada Firman Lubis (Kedokteran UI 1962). Beliau bercerita pada saat itu masa pelonco telah diganti nama menjadi Mapram, yaitu Masa Pra Bhakti Mahasiswa. Firmas Lubis menilai mapram atau pelonco sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat dan hanya menjadi ajang balas dendam senior kepada junior. 

Maka dari peristiwa ospek online ini, semakin kita banyak belajar tentang sejarah warisan budaya lama ospek. Namun, sebenarnya masa pengenalan kehidupan kampus bukanlah suatu hal yang tidak penting. Justru momen tersebut menjadi kesempatan besar bagi kampus untuk mengenalkan bagaimana gerakan pemuda dalam sejarah perjuangannya. Pemuda telah terbukti menorehkan tinta emas kontribusi penyelesaian permasalahan di tengah masyarakat. Bahkan Umar bin Khaththab pernah berkata “Setiap aku menerima masalah-masalah besar, yang kupanggil adalah anak muda”.

Bahkan di Indonesia, gerakan pemuda juga memiliki andil besar. Contohnya, pada tahun 1977/1978 gerakan mahasiswa tidak hanya berporos di Jakarta dan Bandung saja namun meluas secara nasional meliputi kampus-kampus di kota Surabaya, Medan, Bogor, Ujungpandang (sekarang Makassar), dan Palembang dan pada tahun 1998 terjadi gerakan menuntut reformasi dan dihapuskannya korupsi, kolusi dan nepotisme. Begitulah beberapa bukti mahasiswa yang pernah menjadi social control bagi penguasa. Mahasiswa sebagai agent of change dan social control menjadikan mereka harus peka terhadap buruknya kondisi di suatu tempat.

Kondisi masyarakat dengan persoalan yang makin pelik saat ini juga harus bisa dirasakan oleh mahasiswa di kampus dan Universitas manapun berada. Baru beberapa hari yang lalu narasi good looking lagi trending, Syaikh Ali Jaber ditusuk, kematian nakes Indonesia, masih diterimanya TKA dari China, atau penyumbang masalah lain dari kalangan intelektual sendiri, adakah mahasiswa memiliki solusi penyelesaiannya? Maka ini saatnya, para pemuda kembali pada identitasnya sebagai seorang muslim, para pemuda yang mereaktualisasi kembali perannya menjadi agent of change dan social controlBottom of Form. Dari pengalaman kurang baik ospek online ini, kita belajar untuk bisa berpikir serius, menjadi generasi muda yang visioner, dan berdedikasi untuk umat dan Islam. Jadilah pemuda yang menguasai jagad sosial media dengan konten edukatif dan inspiratif. Bukan dengan parodi lelucon, komentar tidak memberi solusi, bahkan akun bodong untuk menyakiti hati menyebar konten yang membuat suasana tak makin membaik. Semangat pemuda, semangat mahasiswa, di tangan kalian peradaban gemilang akan terwujud segera.[]

Oleh: Durriyatut Tayyibah

Posting Komentar

0 Komentar