TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Jurnalis Ini Ungkap Narasi Radikalisme Makin Ngawur

Foto: Joko Prasetyo, Jurnalis


TintaSiyasi.com-- Jurnalis Joko Prasetyo menyayangkan banyaknya narasi radikalisme yang menyerang para pendakwah dan menyudutkan Islam. 

“Jadi narasi radikalisme ini benar-benar ngawur! Siapa yang merusak negeri ini? Tetapi malah yang disalahkan kaum Muslimin yang berpikiran Islami, para pendakwah diserang dengan berbagai narasi menyudutkan Islam,” tuturnya dalam Bincang Tabloid Media Umat Edisi 8: Narasi Radikalisme Makin Ngawur (Membedah Rubrik Media Utama Tabloid Media Umat edisi 273 'Narasi Radikalisme Makin Ngawur'), Sabtu (19/9/2020) di kanal Youtube Follback Dakwah.

Jurnalis yang kerap disapa Om Joy memaparkan narasi radikalisme yang senantiasa ditujukan pada Islam.

Pertama, pernyataan Menteri Agama terkait paham radikal masuk melalui orang-orang yang good looking yaitu yang menguasai bahasa Arab dan hafiz Quran. “Tentu saja pernyataan itu menuai kecaman dari banyak kalangan Islam ya, karena selama ini kata 'radikal' atau pun 'radikalisme' dibangun oleh rezim dengan konotasi yang sangat-sangat negatif,” ujarnya.

 Kedua, pemerintah pada Kamis, 2 Juli 2020 menyatakan telah resmi menghapus konten-konten terkait ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam. Padahal, menurut Om Joy, yang dihapus oleh pemerintah adalah bagian dari ajaran Islam yaitu khilafah dan jihad.

Menurutnya, banyak kasus pemaksaan kehendak bahkan sampai melakukan kekerasan fisik tapi tidak disebut radikal. Om Joy membeberkan tiga contoh sebagai berikut.

 Pertama, dua hari lalu OPM tebas wajah prajurit TNI pakai parang, di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. “Pelaku menebas tepat di bagian wajah depannya. Pelaku menebas wajah Serka Sahlan sebanyak dua kali. Bahkan, salah satu luka sangat parah, karena luka tebasan memanjang dari mulai kening sebelah kanan hingga dagu sebelah kiri. Tapi, tidak disebut teroris atau radikal,” sanggahnya.

 Kedua, kasus pembakaran rumah, penyiksaan, dan pembunuhan Muslim Wamena. “Pernahkah Anda mendengar pengusiran, membakaran rumah, penyiksaan dan pembunuhan para pendatang Muslim di Wamena pada September 2019 lalu oleh rezim disebut sebagai orang radikal?  Tidaaak! Sekali pun, tidak!” jawabnya.

Ketiga, kasus oknum aparat yang viral menyiksa demonstran. “Pernahkah Anda mendengar para oknum aparat yang menyiksa bahkan menembak mati para demonstran pada 26 September 2019 di Kendari oleh rezim disebut terpapar radikalisme? Tidaaak! Sekali pun, tidak!” tandasnya.

“Ngawurnya, seperti yang saya jelaskan tadi, rezim mengaitkan kata radikalisme dengan pemaksaan kehendak bahkan sampai dengan kekerasan fisik. Tetapi pada aktivitas yang semacam itu yakni ‘pemaksaan kehendak bahkan sampai melakukan kekerasan fisik’ rezim cenderung diam bahkan malah membela,” pungkasnya.[]

Reporter: Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar