TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Jangan Lupakan Sejarah


Wacana tidak masuknya mata pelajaran sejarah pada kurikulum wajib bagi siswa SMA dan sederajat, menjadi perhatian dari berbagai kalangan. Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan  Kemendikbud, Totok Suprayitno menegaskan bahwa kabar pelajaran sejarah akan keluar dari kurikulum tidak benar. Totok menjelaskan bahwa sejarah merupakan komponen penting bagi Indonesia sebagai bangsa yang besar sehingga menjadi bagian kurikulum pendidikan. (cnnindonesia.com, 19/09/2020)

Lebih lanjut ia juga mengatakan pada CNN Indonesia pada Sabtu (19/9), bahwa Kemendikbud terus mengkaji rencana penyederhanaan kurikulum pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Sebelumnya, wacana tidak masuknya mata pelajaran sejarah  pada kurikulum wajib bagi siswa SMA dan sederajat tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesman Nasional  tertanggal 25 Agustus 2020. Draf ini beredar di kalangan akademisi dan para guru, yang kemudian menjadi polemik di masyarakat. Namun kabar tersebut segera dibantah oleh pihak Kemendikbud dan yang ingin dilakukan oleh Kemendikbud adalah penyederhanaan kurikulum. (medcom.id, 20/09/2020)

Walaupun telah dibantah oleh Kemendikbud, masyarakat perlu paham bahwa penyederhaan kurikulum yang dilakukan oleh Kemendikbud adalah salah satunya tidak wajibnya mata pelajaran sejarah  bagi siswa SMA dan sederajat. Sehingga mata pelajaran sejarah bukan lagi mata pelajaran wajib yang harus ada di SMA dan sederajat. Tentu ini akan berdampak pada kurangnya pengetahuan siswa terhadap sejarah negerinya sendiri.

Padahal  pendahulu kita yaitu Bapak Ir. Soekarno pernah berpesan bahwa “Jas merah, jangan lupakan sejarah”. Hal tersebut benar adanya, apalagi ditengah kondisi anak muda hari ini, yang telah terbius dengan gaya hidup orang barat diluar sana.

Anak muda kita hari ini tidak akan lagi mengenal siapa-siapa pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan negerinya, bahkan lebih parah lagi, anak muda kita hari ini terutama yang muslim dan muslimah tidak akan mengetahui kejayaan islam didunia. Akibatnya mereka tak berminat untuk mencintai islam dengan mendakwahkannya.

Sejarah adalah sesuatu yang penting bagi kita untuk kita ambil pelajarannya demi kebaikan dimasa depan. Misalnya sejarah tentang kejayaan islam didunia dan jejaknya yang pernah mewarnai nusantara dengan dakwahnya, hingga membuat kita hari ini mengenal islam. Melalui sejarah tersebut, seharusnya mampu memotivasi kita untuk mencintai islam sebagai agama yang Allah ridhoi. Hingga kecintaan tersebut mampu menimbulkan pengorbanan untuk membela dan mendakwahkannya kepada yang lain.

Selain itu, perlu juga agar sejarah tentang peradaban islam tersebut tidak dihilangkan karena alasan untuk menangkal radikalisme di sekolah. Tentu ini cara yang salah, kita tidak boleh menutup-nutupinya apalagi harus menghapusnya. Anak muda hal tersebut, agar terpupuk kecintaannya terhadap islam.

Sejarah juga merupakan salah satu hal yang bisa membentuk karakter siswa. Harapannya dengan belajar sejarah, para siswa mampu mengambil kebaikan dari sejarah tersebut dan mampu mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.

Jika sejarah benar-benar tidak diwajibkan, hal tersebut akan membuat anak muda kita tidak mengenal sejarah negerinya sendiri dan semakin mendekatkannya pada gaya hidup barat yang saat ini sedang mereka sukai. Pada akhirnya kelak, anak muda kita akan hancur karena kenakalan remajanya dan gaya hidup bebas yang mereka pilih.

Sekali lagi, jas merah, jangan lupakan sejarah! Apalagi melupakan sejaran kejayaan islam yang pernah menyinari dunia. Serta ingatlah kejayaan tersebut akan kembali lagi seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dan di janjikan oleh Allah melalui firman-Nya. Lalu dimana kita? Sebagai penonton? Pejuangnya? Atau penentangnya? Wallahu’ala.[]

Oleh: Sarinah A, Penggiat Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar