TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Islamofobia: Al Quran Dinista



Demo anti muslim yang berujung kerusuhan terjadi di Swedia dan Norwegia akhir pekan kemarin. Bahkan kitab suci Alquran juga turut dilecehkan.

Dalam unjuk rasa di Swedia, Alquran dibakar. Sementara dalam demo di Swedia, dirobek dan diludahi salah seorang demonstran.

Hal ini terjadi pasca meningkatnya sentimen anti imigran asal Timur Tengah. Semuanya dipicu politisi kontroversial Denmark, Rasmus Paludan. Paludan sendiri pernah membakar salinan Alquran di Denmark. Ia merupakan pemimpin partai politik Stram Kurs yang didirikannya sejak 2017. (cnbcindonesia, 31/8/2020)

Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Nadjamuddin Ramly mengatakan kepada Republika, Minggu (30/8/2020) bahwa MUI mengecam dan mengutuk para pelaku yang merobek dan membakar kitab suci Alquran di Oslo, Norwegia dan Malmo, Swedia. Menurutnya mereka telah melakukan tindakan barbar dan biadab.  

Ia menyampaikan, MUI berpesan kepada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI agar segera melakukan protes terkait aksi merobek dan membakar Alquran itu. Kemenlu bisa protes melalui Kedutaan Besar Norwegia dan Swedia yang ada di Jakarta.

Menurutnya, harus ada tindakan diplomatik yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai negara yang mayoritas Muslim. Tindakan diplomatik ini bisa dilakukan oleh Kemenlu atau Kedutaan Besar Indonesia di Norwegia dan Swedia.

Munculnya Islamofobia di Eropa semakin terasa karena derasnya opini akan narasi bahwa Imigran asal Timur Tengah yang jelas hampir semuanya beragama Islam secara konsisten menunjukkan diri mereka sebagai pihak yang paling tidak mampu berasimilasi dan berintegrasi. Harusnya mereka mau beradaptasi dengan nilai-nilai dan budaya barat namun nyatanya sulit diwujudkan.

Jadi menurut para aktivis liberal adalah wajar jika barat menganggap imigran bukan bagian dari mereka. Karena mereka tidak mau membaur. Narasi yang dibangun oleh barat itulah sejatinya yang sengaja mereka bangun terhadap Islam dan kaum Muslimin yakni stigma buruk akan ajaran Islam dan keberpegangan teguh kaum Muslimin terhadap Syariat Islam.

Munculnya Islamofobia di Eropa makin terasa karena derasnya opini akan narasi tersebut. Puncak Islamofobia terjadi setelah peristiwa Serangan 11 September 2001. Bentuk-bentuk Islamofobia yang terjadi di Eropa dan Barat beragam bentuknya mulai dari pelarangan pemakaian cadar bagi muslimah, diskriminasi terhadap pelaksanaan ibadah umat, pembakaran Alquran hingga pembunuhan.

Fobia atas Islam sesungguhnya adalah ketakutan akan kebangkitan Islam ideologi. Takut Islam akan kembali tegak memimpin dunia sebagaimana supremasi Khilafah Utsmaniyah di Abad Pertengahan.

Kaum kafir yang saat ini dipimpin oleh dunia barat, Amerika serikat dan sekutu serta anteknya sadar betul bahwa Islam adalah ideologi. Bukan sekedar agama ritual yang mengajarkan shalat, puasa dan akhlak luhur saja. Barat tahu bila Islam diterapkan secara kaffah atau menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan akan mengancam supremasi mereka sebagai negara Adikuasa.

Karena itu barat berusaha mencitra buruk kan Islam. Tujuannya agar manusia termasuk kaum Muslimin takut atau fobia bila Islam itu diterapkan.
Islamofobia sejatinya sengaja dihadirkan oleh barat untuk menjauhkan umat manusia dari Islam.

Lihatlah realitas hari ini, di barat Islamofobia terwujud pada ketakutan kaum kafir pada simbol-simbol Islam, sehingga hari ini Belanda dan Perancis melarang penggunaan cadar, sedangkan di negeri Muslim seperti Indonesia Islamofobia pun dideraskan oleh antek-antek barat yang tak jarang mereka inipun Muslim, mereka menakut-nakuti umat dan mengatakan jika syariat Islam diterapkan secara kaffah maka Indonesia akan hancur seperti suriah, serta menyebarkan berita bohong bahwa Islam itu adalah agama sadis. Karena memang Islam mensyariatkan jihad, hukum cambuk, hukum rajam, potong tangan dan sebagainya.

Mereka menciptakan khilafah sistem negara yang diwariskan para sahabat ra. itu sebagai monster yang akan mengancam keberagaman dan perdamaian manusia. Bahkan yang lebih keji mereka takut bendera tauhid yang lebih dicintai oleh umat dibandingkan atribut-atribut lainnya. 

Mereka bahkan takut hanya kepada sebuah film. Terbukti film yang berjudul Jejak Khilafah di Nusantara yang berdurasi 50 menitan terjadi hingga 3 kali pemblokiran di saat penayangan perdananya. Mereka takut jika umat Islam mengetahui sejarah Islam yang sesungguhnya kemudian umat sadar dan bangkit menolak kapitalisme yang selama ini rusak dan merusak. Mereka takut jika umat Islam hanya bersedia menerima syariat Islam untuk mengatur kehidupan mereka dengan sistem khilafah. Karena dengan begitu maka berakhirlah hegemoni mereka atas negeri-negeri kaum Muslimin.

Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, mengemban dakwah ke seluruh dunia, melindungi kaum Muslimin dan mengurus kemaslahatan mereka. Khilafah ini pulalah yang akan menjadi junnah atau perisai bagi kaum Muslimin dari setiap teror dan serangan musuh-musuh Islam. Di belakang khalifah pula kaum Muslimin akan berperang melawan setiap pihak yang merusak kehormatan Islam dan kaum Muslimin termasuk membela kemulyaan al quran manakala dinista bukan hanya mengecam dan mengutuk saja namun khalifah akan mengirimkan pasukan jihad jika penistaan ini terus dilakukan. Khilafah menjamin terjaganya agama dan jiwa bagi setiap warga negaranya baik Muslim maupun non-Muslim.

Sesungguhnya Islamofobia itu adalah wujud ketidaknormalan, Bagaimana mungkin kita umat Islam yang diciptakan Allah Swt. dan memiliki fitrah untuk mencintai Allah, Rasulullah dan ajaran Islam secara menyeluruh, harus dijauhkan dari sumber kebahagiaan itu.

Karena itu tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali melawan Islamofobia dengan dakwah syariat Islam kaffah termasuk menyampaikan pada umat tentang khilafah, bahwa semua itu adalah ajaran Islam yang mulia.

Seorang Muslim harus menjauhi sikap-sikap Islamofobia, yakni membenci Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kaum kafir. Mereka sejatinya memendam kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim. 

Sikap mencemooh hijab, mencurigai semangat hijrah yang sedang merebak, alergi terhadap khilafah yang merupakan bagian ajaran Islam, meradang saat ada umat Islam yang mendakwahkan khilafah bahkan mengkriminalisasi panji Rasulullah Saw. (ar-Rayah dan al-Liwa’) saat dikibarkan, dan sikap-sikap Islamofobia lainnya. Jika tampak dari seseorang yang mengaku Islam, semua itu justru menampakkan hakikat yang tersembunyi di dalam hati. Pepatah mengatakan, "Bejana hanya bisa menumpahkan apa yang ada di dalamnya.”

Cintai Islam Sepenuh Hati

Sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan oleh seluruh umat Islam tidak lain adalah memenuhi perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Ini adalah perintah dari Allah kepada semua orang Mukmin untuk mengambil dan mengamalkan semua ajaran Islam dan syariahnya, termasuk mengagungkan syiar-syiarnya. Ini berarti, setiap Mukmin harus mencintai Islam sepenuhnya sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah Swt. Kecintaan kepada Allah itu harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya, yakni Rasulullah Saw.

Hendaknya setiap Muslim menunjukkan kecintaannya pada Islam dengan mengamalkan syariah Rasulullah Muhammad Saw. secara menyeluruh di tengah kehidupan ini.[]

Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar