TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Indonesia dan Dunia Membutuhkan Khilafah


Dari waktu ke waktu, gaung kembalinya Khilafah sebagai sebuah sistem kehidupan semakin membahana. Jika sepuluh atau dua puluh tahun lalu masyarakat bahkan tidak pernah mendengar istilah khilafah, saat ini bisa dikatakan hampir tidak ada pintu rumah yang di dalamnya tidak memperbincangkan khilafah. Terlepas pro dan kontra yang masih ada di dalamnya, khilafah saat ini telah menjadi harapan baru bagi umat untuk menghapuskan nestapanya akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme demokrasi yang telah nyata gagal membawa umat menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Terlebih pasca tayang perdana film Jejak Khilafah di Nusantara, yang meski sempat dibanned oleh pemerintah beberapa kali di tengah live pemutarannya, namun sukses membuka mata rakyat Indonesia bahkan dunia, bahwa Khilafah pernah ada dan eksis belasan abad lamanya, dan sepanjang waktu itu terbukti mampu menebarkan kedamaian, ketentraman dan kemajuan peradaban yang tak lekang oleh masa. 

Nasib Dunia Tanpa Khilafah

Sistem sekuler yang diterapkan rezim selama ini, yang memisahkan agama dari kehidupan, telah nyata kegagalannya. Indonesia terpuruk hampir di segala lini kehidupan. Hingga saat ini, kemiskinan, kebodohan, ketidaknyamanan, kriminalitas, hilangnya rasa aman, carut marutnya pendidikan dan kesehatan, serta timpangnya hukum dan peradilan masih menjadi problem yang menjerat Indonesia. Di usia 75 tahun kemerdekaannya, rakyat bahkan masih kesulitan memenuhi kebutuhan primernya seperti sandang, pangan dan perumahan, apalagi untuk memenuhi kebutuhan sekundernya.

Ekonomi kita terpuruk, utang kita sudah terlampau besar. Harian online Kompas melansir bahwa hingga maret 2020 utang Indonesia telah mencapai Rp. 6.047 triliun (kompas.com, 14/08/2020). Bunga hutangnya saja lebih besar dari anggaran pembangunan. Ratusan triliun uang rakyat dijarah oleh koruptor, baik dari sektor perpajakan dan perbankan maupun sumber daya alam (hutan, migas, mineral, kelautan). 

Budaya kita terpuruk. Tayangan mistik di TV meraih rating tinggi, bersaingan dengan pornografi. Anak sekolah di negeri ini terbiasa tawuran. Secara akhlak pun kita terpuruk. Kasus siswa membully guru bahkan menyiksa guru pun ada. Ayah memperkosa anak, anak membunuh ibu, ibu menganiaya balitanya hingga meregang nyawa. Berita seperti itu hampir tiap hari seliweran di tayangan televisi kita. Terlebih pasca pandemik corona, angka kriminalitas naik hingga 6% dari sebelum corona (liputan6.com, 19/06/2020)

Sementara itu, di belahan bumi lain, nasib umat islam juga mengenaskan. Puluhan ribu dibantai di Bosnia, jutaan orang terbunuh sejak pendudukan AS di Iraq, puluhan ribu warga sipil terbunuh di Afganistan. Detik demi detik tentara Zionis dengan sombong menumpahkan darah kaum muslim di Palestina. Muslim terintimidasi, teraniaya dan terusir dari negerinya. Isu terorisme yang berhasil dihembuskan Barat memposisikan kaum muslim sebagai tertuduh utama setiap kasus terror di negerinya. Bumipun menjadi saksi setiap konflik yang menelan nyawa mereka. Hingga tahun 2016 saja korban akibat konflik global mencapai 167.000 jiwa (bbc.com, 6/5/2016). Tentu saat ini angkanya semakin tinggi, mengingat berbagai konflik masih terjadi hingga tahun 2020. Ledakan hebat yang mengguncang Beirut-Lebanon pada 4 agustus 2020 misalnya. Diberitakan oleh kompas.id (5/8/2020) dari kasus tersebut korban tewas mencapai 100 orang dan 4000 orang lebih luka-luka.

Kekayaan alam negeri-negeri muslim pun tidak ada yang melindungi. AS atas nama demokrasi menjarah kekayaan alam yang sepenuhnya milik umat. Korporat asing  mendapat keuntungan luar biasa dari hasil bumi negeri-negeri ‘jajahannya’, sementara rakyat terus dalam kemiskinan yang nyata. Atas nama pasar bebas, kran investasipun dibuka lebar-lebar oleh penguasa negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, tidak lain untuk memuluskan masuknya investor asing yang selama ini menjadi ‘tuannya’. Pertanyaannya, apakah umat mau dan rela terus begini? Apakah tidak terbesit dalam benak mereka bahwa perubahan harus terjadi untuk mengakhiri semua kisah sedih ini?

Khilafah Adalah Solusi

Tentu banyak yang setuju bahwa kita harus berubah, namun bagaimana perubahan itu harus dilakukan? Cukupkah dengan berganti rezim berkali-kali melalui pemilu dalam sistem yang tetap sama, demokrasi lagi? Ataukah perlu ada perubahan mendasar untuk mengganti sistem demokrasi kapitalisme sekuler yang sejatinya adalah biang kerok kenestapaan umat selama ini?

Di satu sisi, diskursus ide khilafah terus membahana seantero dunia. Indonesia dan dunia rasanya perlu mulai meliriknya sebagai solusi alternatif untuk mengganti sistem hari ini yang terbukti gagal menciptakan kesejahteraan dan kedamaian. Apalagi sistem khiladah pernah terterapkan secara spektakuler selama tidak kurang dari 13 abad di 2/3 dunia dan berhasil mencipta atmosfer kehidupan yang penuh kedamaian dan kesejarteraan. Nusantara bahkan pernah merasakan imbas dari penerapan sistem khilafah ini. Banyak jejak-jejak penerapan khilafah di nusantara yang tidak bisa begitu saja dihapuskan.

Sayangnya, sejak 3 Maret 1924, melalui konspirasi keji Barat imperialis dan Yahudi, institusi pelindung umat ini telah dihancurkan. Keruntuhan khilafah ini sesungguhnya merupakan tragedi terbesar yang belum pernah dialami kaum muslimin sebelumnya. Betapa tidak? Khilafahlah yang selama 13 Abad lebih (632 - 1924 M) menjadi institusi pelayan dan pelindung umat manusia. Sepanjang sejarah manusia hanya khilafahlah yang sudah terbukti mampu menyatukan dan melebur bangsa-bangsa yang mendiami wilayah antara Xinjiang (Cina Barat) di Timur, melintasi Timur Tengah, mesir, Afrika Utara sampai Maroko dan Spanyol di Barat. Antara India di Selatan melintasi Asia Selatan, Timur Tengah, wilayah Kaukakus sampai semenanjung  Krimea di Utara. 

Khilafah juga membawa kesejahteraan, kebangkitan sains dan teknologi, serta kemajuan peradaban umat. Khilafah pernah menjadikan rakyatnya berkecukupan sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima harta zakat. Carleton S, mantan CEO perusahaan computer Hewlett-Packard (HP), saat mengomentari peradaban islam dari tahun 800 hingga 1600 menyatakan, “Peradaban islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban islam sanggup menciptakan sebuah adidaya continental (continental super state) yang terbentang dari satu samudera  ke samudera lain. Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi  perdamaian dan kemakmuran yang belum pernah dikenal sebelumnya” (ceramahnya tanggal 26 September 2001, dengan judul “Technology, Business and Our Way of Life: Whats Next”)

Tak heran, sebab rosul yang mulia pun menyebut khilafah adalah pengurus, pemelihara, pelindung dan perisai umat. Dalam sebuah hadits Rosul bersabda, “Sesungguhnya imam/khalifah itu laksana perisai tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya”.

Di sinilah letak urgensitas penegakan khilafah. Hanya khilafahlah yang akan mampu menghimpun potensi kaum muslim dan menyatukan dunia untuk menghapuskan penindasan negara-negara Barat imperialis, sekaligus mengubur ideologI kapitalisme yang  dibawanya, yang terbukti telah banyak menyengsarakan umat manusia di dunia.[]

Oleh: Eki Irmaya Sari

Posting Komentar

0 Komentar