TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ilusi Membangun Negara Islami Tanpa Sistem Illahi


Adanya pernyataan yang "Islami" tidak selalu "Islam", sementara yang "Islam" belum tentu "Islami" kini perlu kita telaah apa makna dibalik pernyataan tersebut. Bahkan,  Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengajak Pemuda Muhammadiyah
untuk membangun Indonesia sebagai negara Islami. Islami yang dimaksud adalah akhlak seperti jujur, demokratis, toleran, dan egaliter.

Hal itu disampaikan Mahfud dalam sambutannya pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemuda Muhammadiyah yang digelar secara daring, Minggu (27/9/2020).

Menurut Mahfud, negara Indonesia ini adalah inklusif, di mana semua perbedaan primordial digabung menjadi satu kesatuan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, ia mengatakan Pemuda Muhammadiyah dalam level apapun dalam kehidupan bernegara harus terus berdakwah jalan tengah, tidak menjadi Islam yang ekstrem. 

"Mari membangun Indonesia sebagai negara Islami. Bukan negara Islam, agar semua umat Islam di Indonesia dapat berkontribusi, masuk dari berbagai pintu. Jangan ekslusif," kata Mahfud dalam keterangan tertulisnya. (Jakarta, 27/09/2020 Sindonews.com).

Lalu di mana posisi negara Islam dengan populasi penduduk mayoritas Muslim? Menyedihkan. Pasalnya tidak ada satupun negara Islam yang menempati posisi 30 besar. Hanya Malaysia yang mampu berada pada posisi ke-33. 
Sedangkan negara Timur Tengah diwakili oleh Kuwait di peringkat 48 dan Arab Saudi pada posisi ke-91. Indonesia? Meski menjadi negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, namun nyatanya Tanah Air hanya berada pada peringkat 140.

Daftar peringkat tersebut tidak lantas ditemukan sekejap mata. Setidaknya seorang guru besar politik dan bisnis internasional dari Universitas George Washington bernama Hossein Askari melakukan riset penelitian tersebut dengan melibatkan 208 negara. 
Menurut Askari, status negara Islam belum tentu dapat mencerminkan nilai yang terkandung dalam Alquran dan Hadis. Bahkan sebagian negara Islam justru menggunakan kekuatan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan pemerintahan dan masyarakat.

"Banyak negara yang mengaku Islam namun justru berbuat tidak adil, korupsi dan terbelakang. Artinya negara tersebut sama sekali tidak Islami," ujar Askari seperti dikutip dari The Telegraph. (Selasa 14/11/2017, ayobandung.com).

Wacana tentang Negara Islami vs Negara Islam bagi Indonesia kini kembali  disuarakan. Karena dipandang itulah yang cocok untuk Indonesia yang plural. Padahal ilusi belaka akan  terwujud sebutan negara yang islami tanpa diterapkannya sistem dari Illahi. Dimana merupakan konsekwensi dari keimanan seseorang tatkala beriman kepada Allah Swt maka harus terikat dengan syari'at Islam secara keseluruhan. Sebagaimana Allah Swt berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِى السِّلۡمِ کَآفَّةً ۖ وَلَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّيۡطٰنِ‌ؕ اِنَّهٗ لَـکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ

Yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."(TQS. Al-Baqarah (2) : 208).

Sehingga dengan terikatnya individu muslim pada syari'at Islam secara keseluruhan itulah yang akan  mencerminkan perilaku  islami. Dan hal yang demikian merupakan bukti dari ketundukan terhadap Allah Swt sebagai Al-kholiq (sang pencipta) dan Al-mudhabir (sang pengatur). Jadi bukannya mengedapan hawa nafsu atau rasionalitas belaka dengan menyatakan yang penting penampakan atau terlihat islami karena keimanan itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dalam perbuatan. Dengan demikian, tidak bisa disebut orang yang beriman kalaupun terlihat perilakunya islami namun hatinya tidak yakin akan adanya Allah Swt dan lisannnya tidak berucap syahadat. Juga tidak tepat disebut orang yang beriman sementara perilakunya tidak islami.

Demikian pula keberadaan sebuah negara, disebut negara Islam tatkala dipimpin oleh seorang   Khalifah dan sistemnya 
Khilafah sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.  Dengan demikian, tatkala tidak bisa menerapkan hukum-hukum syari'at Islam secara keseluruhan maka tidaklah bisa disebut sebagai sebuah negara yang islami. Terlebih saat ini tatkala sistem yang menaungi adalah sekuler tentu keberadaan syari'at Islam hanya bisa bicara diranah ubudiyah semata dan tidak diberi kesempatan untuk berada diruang publik. Karena asas dari sistem sekuler yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga hanyalah ilusi tatkala akan membangun negara islami tanpa diterapkannya sistem yang sumbernya dari Illahi yakni dengan menerapkan syari'at Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan dibawah naungan Khilafah. Wallahu'alam bi-ashowab.[]

Oleh: Watini Alfadiyah, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar