TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ibu Bunuh Anak Sendiri, Sungguh tak Manusiawi


Miris, kasus pembunuhan kian tragis. Seorang ibu tega membunuh anak sendiri hanya karena pelajaran sekolah sulit dimengerti buah hati. Harusnya seorang ibu mengayomi, bukan malah menghabisi. Ada apa dengan potret ibu masa pandemi?

Ramai diberitakan, kasus pembunuhan anak yang dilakukan oleh ibu kandung. Pelaku wanita berinial LH (26), warga Bendungan Hilir, Jakarta. Pasca dibunuh, jasad sang anak dikuburkan secara diam-diam di TPU Desa Cipalabuh Kecamatan Cijaku Kabupaten Lebak. Dimakamkan tanpa dikafani dan dimandikan, malah masih berpakaian lengkap. (www.cnnindonesia.com,16/09/2020).

Dari pemeriksaan kepolisian diketahui bahwa sang anak dibunuh karena sulit diarahkan ketika belajar Online. Sebelum meninggal sang anak yang berusia 8 tahun itu sempat dianiaya, hingga akhirnya meninggal dunia. Malang sekali nasib bocah yang tak berdosa ini.

Selaku seorang ibu tentu kita merasa teriris dengan peristiwa tragis ini. Apalagi kasus pembunuhan makin sering terjadi. Ya, dimasa pandemi, kasus pembunuhan pada anak semakin menjadi.

Seperti kita ketahui, masa pandemi ini pemerintah kita menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini diikuti dengan perubahan sistem belajar mengajar para siswa disekolah. Para siswa tak lagi berangkat ke sekolah, melainkan belajar dari rumah atau dalam jaringan (daring) atau online. 

Dengan kebijakan ini, tentu pendidikan pada anak mengandalkan orang tua dalam mendampingi belajar. Biasanya orang tua hanya sebagai antar jemput anak saat pulang pergi sekolah. Kini, semua tugas pendidikan anak dipundak ibu. Persoalan bertambah runyam, jika tugas praktek lumayan sulit, memakai berbagai bahan yang tak tersedia dirumah. Tentu ibu yang kebingungan dan alami kepanikan.

Bagi ibu yang penyabar, bisa membersamai anak dengan tenang. Tapi ada juga ibu yang mudah tersulut, mudah marah jika emosi sudah diujung tanduk. Alhasil anak akan jadi sasaran amuk. Apalagi ibu juga punya segunung pekerjaan yang minta diurus. Sang adik yang minta perhatian, makanan yang belum tersedia.

Setali tiga uang, jika pendidikan anak hanya dikerjakan ibu sendiri. Minus bantuan sang ayah sebagai kepala keluarga. Ibu capek mengurus rumah, mendampingi anak belajar, sementara sang ayah tak ikut andil meringankan beban ibu.

Karena biasanya, komunikasi yang kurang lancar antara ibu dan ayah bisa jadi pemicu stress pada ibu. Apalagi kondisi ekonomi yang ikut menipis akibat pandemi. Pekerjaaan yang sulit dan usaha yang morat-marit. Plus juga pengetahuan agama yang kurang dalam rumah tangga. Semua ini akibatkan ibu mudah sakit mental, hingga tega menghabisi nyawa anaknya.

Pembunuhan saat ini jadi hal yang biasa. Padahal agama Islam jelas melarangnya. Apakah sang pembunuh tak beragama Islam? Tentu saja beragama Islam, tapi kenapa kok masih tega melakukan perbuatan yang jelas diharamkan agama. Jelas ada yang salah dari sistem kehidupan masa kini. Untuk itu, agar kejadian serupa tak kembali berulang dibutuhkan support sistem juga. Sistem yang diperbaiki dari akarnya, bukan bagian pucuk atau dahannya. Berikut solusinya:

Pertama, negara yang mampu mewujudkan suasana keimanan sehingga para orang tua memiliki tanggungjawab yang baik terhadap tugas dan tanggungjawabnya dalam mendidik anak-anak. Tanpa dibayang-bayangi stres, tapi tawakal.

Kedua, negara yang mampu menjamin keluarga-keluarga hidup sejahtera, sehingga tidak ada istri-istri yang mengalami kecemasan finansial. Negara yang menjamin para suami mampu menafkahi keluarganya dengan layak. Juga, menyadarkan para suami agar mampu memperlakukan istri dengan cara yang makruf. Mampu menentramkan dan membahagiakan para keluarga hingga terwujud ketahanan keluarga.

Ketiga, negara yang menciptakan sistem yang mudah dan menyenangkan, utamanya dalam sistem pendidikan. Sehingga beban kurikulum tidak membebani anak didik. Apalagi kurikulum di era pandemi, harus disesuaikan dengan proses belajar yang tidak lagi ideal.

Keempat, negara yang tidak membiarkan propaganda gaya hidup mewah yang menyebabkan kaum ibu merasa rendah diri jika tidak mampu meraihnya. Kita tahu, banyak istri stres karena tergerus gaya hidup mewah ala liberalisme. Banyak istri tidak bersyukur dan bahkan kufur terhadap suaminya karena merasa kebutuhannya tak sesuai harapan. Stres dan menanggung kecewa karena secara materi tidak mampu memenuhi tuntunan belanjanya.

Kelima, negara menciptakan sistem kesehatan yang baik, termasuk memberi perhatian yang besar terhadap bidang kesehatan mental. Selama ini, baru kesehatan fisik saja yang menjadi perhatian, sementara kesehatan mental belum begitu dipahami masyarakat. Edukasi massal, termasuk pemeriksaan kesehatan mental harus terus diperluas. Rakyat yang terindikasi sakit mental, harus segera diberikan terapi yang murah dan mudah.

Semua komponen diatas hanya bisa diterapkan dalam sistem Islam. Sebuah sistem yang berasal dari Pencipta manusia, Allah aza wa jalla. Insya Allah sistem ini akan mewujudkan masyarakat sejahtera, adil dan makmur. Karena sistem ini amat memperhatikan kebutuhan fitrah manusia. Peduli akan ketenangan, ketentraman dan kasih sayang melalui syariahnya yang sempurna dan paripurna.

Tentu saja, jika semua elemen tersebut terwujud, dimungkinkan kasus pembunuhan terhadap anak tak akan berulang. Sehingga tak akan ada lagi anak-anak yang meregang nyawa ditangan ibu kandung yang sakit jiwa. Wallahu 'alam bissowab.[]

Oleh: Yudia Falentina 
(Pemerhati Lingkungan dan Masyarakat)

Posting Komentar

0 Komentar