TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hubungan Kekhilafahan dan Nusantara Pasti Adanya



"Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah."

Kalimat diatas merupakan semboyan terkenal yang diucapkan oleh bung Karno dalam HUT RI 17 Agustus 1966. Semboyan ini cocok untuk kita pakai saat ini, terkait dengan adanya pro dan kontra mengenai adanya hubungan kekhilafahan dengan Nusantara. 

Namun, ada baiknya kita fahami arti sejarah terlebih dahulu. Sejarah menurut KBBI adalah fakta atau kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sementara menurut Taqiyuddin an Nabhaniy dalam kitabnya ad Daulah al Islamiyyah, sejarah adalah penafsiran terhadap realita bagi kehidupan (masa lalu). 

Hal ini ditekankan kembali oleh KH Shiddiq al Jawi yang mengatakan bahwa sejarah bukan hanya fakta (masa lalu), akan tetapi juga memuat tafsir (interpretasi) terhadap fakta tersebut. 

Sehingga sebuah fakta atau realita akan senantiasa bersifat objektif, manakala tidak ada embel-embel sedikitpun terhadap fakta tersebut. Sementara tafsir bersifat subjektif (relatif) dan tergantung kacamata yang dipakai oleh orang yang menafsirkan. 

Seperti yang terjadi saat ini penafsiran negatif telah disematkan pada khilafah yang merupakan ajaran Islam serta adanya anggapan bahwa Nusantara tidak ada hubungannya dengan kekhilafahan. Padahal fakta sejarah telah mengungkapkan bahwa kesultanan Islam yang pernah jaya di Nusantara tidak lepas darI kekhilafahan. Dimana kekhilafahan Islam pernah jaya selama 13 abad dan mampu menguasai 2/3 dunia termasuk Nusantara didalamnya. 

Perlu kita difahami bahwa agama Islam telah masuk ke Jawa khususnya dan Nusantara secara umum pada abad ke-8 Masehi jauh sebelum Indonesia lahir. Menurut Hasanu Simon pengaruh penyebaran agama Islam di Tanah Jawa semakin meluas setelah Sultan Muhammad I dari Turki mengutuskan satu pasukan dakwah Islam. Pada saat rakyat dan penguasa Majapahit menghadapi kemelut politik, ekonomi dan keamanan yang disebabkan oleh perang saudara pada tahun 1401 hingga 1406.

Meskipun para ahli sejarah masih mendebatkan proses masuknya Islam di Nusantara. Namun mereka sepakat bahwa syariat Islam pernah diterapkan di Nusantara. Lebih dari itu mereka pun mengakui bahwa antara Nusantara dengan kekhilafahan Turki erat  hubungannya, meskipun mereka tidak mengakui bahwa Nusantara pernah menjadi bagian dari kekhilafahan. 

Beberapa cacatan penting bahwa Nusantara erat hubungannya dengan Islam dan Khilafah. Banyak berdiri kesultanan-kesultanan di Nusantara, contoh kesultanan Samudera Pasti, Aceh Darussalam, Ternate, Demak, Jipang, dan masih banyak yang lainnya. Dimana kehidupan pemerintahan dan hukum yang diterapkan sangat dipengaruhi oleh Islam. 

Di Nusantara pun syariat Islam pernah diterapkan. Hukum potong tangan bagi pencuri senilai 1 gram emas, ini pernah diterapkan di kasultanan Banten. Di kasultanan Mataram oleh sultan Agung, semua perkara kejahatan dihukumi berdasar kitab Kissas (kitab undang-undang Hukum Islam).

Pemberian bantuan yang dilakukan oleh kekhilafan Turki Utsmani kepada kesultanan Aceh pada saat melawan Portugis pada tahun 1563. Bantuan yang diberikan berupa 19 kapal perang. Serta kebolehan bagi kapal kesultanan Aceh untuk memasang bendera kekhilafahan Turki.

Islam pun menjadi kunci perjuangan melawan penjajah di Nusantara. Ketika terjadi penjajahan di Nusantara oleh Jepang, Inggris, Portugis, Belanda, dan lainnya. Para ulama, kyai, dan para pejuang Islam senantiasa berdiri tegak di garda terdepan dalam melawan dan mengusir penjajahan di Nusantara. Resolusi jihad yang diserukan oleh KH Hasyim Asy'ari adalah jejak perjuangan Islam yang tidak mungkin bisa dihapuskan dalam sejarah.
 
Namun sebuah kenyataan ada yang hilang dalam penulisan sejarah di negeri ini. Seperti yang diungkapkan oleh Ustadz Ismail Yusanto yang dikutip dari tintasiyasi.com (8/8/2020), beliau mengungkapkan bahwa, ada persoalan besar dalam sejarah kita. Dua hal kejahatan dalam penulisan sejarah. Pertama, adanya pengaburan sejarah dan kedua, adanya penguburan sejarah. 
Tidak dipungkiri pengaburan dan penguburan terhadap sejarah lslam nyata adanya. Bermula dari peristiwa sejarah lslam yang memberikan pengaruh terhadap semangat kaum muslimin itu dikubur. 

Sebagai contoh, fakta sejarah yang dikuburkan adalah adanya peran Khilafah Islamiyyah dalam membantu mengusir dan melawan penjajahan saat itu. Resolusi jihad (22 Oktober 1945) yang mendorong kaum muslimin melawan penjajah yang kemudian dikenal sebagai hari pahlawan 10 November tidak pernah tertulis secara resmi sebagai hari Reaolusi Jihad. Bahkan saat ini ada upaya monsternisasi oleh pihak musuh Islam terhadap ajaran Islam khususnya Khilafah dan jihad. Akibatnya umat Islam yang seharusnya mencintai khilafah dan jihad, justru mereka menolak dan menjauhinya. 

Semua itu tidak terlepas dari sistem yang bercokol dalam kehidupan saat ini. Demokrasi dan Kapitalisme Sekuler sebagai biang pengaburan dan penguburan sejarah lslam di Nusantara ini. Sebagai dampaknya adalah adanya islampobia pada diri umat Islam, monsternisasi ajaran Islam, persekusi dan kriminalisasi ajaran Islam maupun aktivis dakwah. 

Dari sini penting bagi umat Islam untuk menggali kebenaran terkait jejak sejarah lslam, khususnya peran dan jasa Khilafah di Nusantara. Perlu adanya edukasi baik secara langsung ataupun membuktikan fakta sejarah yang benar. Perlu diperhatikan di dalam menggali fakta sejarah ini harus diambil dari sejarah yang dicatat oleh sejarawan muslim bukan dari orang kafir. 

Khilafah bukanlah dagangan baru, tetapi Khilafah adalah ajaran Islam yang sudah dibawa oleh Rasulullah Muhammad dan pernah diterapkan selama kurang lebih 14 abad. Syiar Islam yang kita terima dan nikmati hingga sekarang disebabkan peran dan jasa kekhilafahan yang telah mengirimkan duta dakwah pada Nusantara. Sehingga menjadi suatu hal yang aneh jika menolak perjuangan Khilafah. 

Memang sejarah bukan sumber hukum. Sumber hukum umat Islam tetap kembali pada al Qur'an, as Sunah, Ijma' dan Qiyas. Tetapi meluruskan sejarah yang telah disesatkan kafir penjajah adalah sebuah keharusan. Selain itu umat Islam harus senantiasa memahami bahwa khilafah adalah ajaran Islam. memperjuangkan serta menerapkan Islam adalah sebuah kewajiban. Wallahu a'lam bishshowab.[]

Oleh: Ninik Suhardani 
Aktivis Lereng Sindoro 

Posting Komentar

0 Komentar