TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hubungan Erat Nusantara dengan Khilafah




Jika kita belajar sejarah bangsa Indonesia, maka akan kita temukan kisah yang amat kelam, yaitu pernah dijajah Portugis, Belanda hingga Jepang, yang dimulai dari Aceh sampai Ternate. Namun, sebelum penjajah datang, wilayah Nusantara dulunya adalah bagian dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Bagaimana bisa Nusantara ini menjadi bagian negara super power pada saat itu?? 

Nusantara menjadi bagian negara super power, diawali pada saat kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Pulau Sumatera, Maharaja Sri Indrawarman mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang saat itu menjadi Khalifah pada masa Daulah Umayyah (717-720M). Maharaja Sri Indrawarman meminta diutuskan beberapa da’i untuk mengajarkan agama islam di Sriwijaya. (Fatimi tulisannya yang berjudul Two Letters from the Maharaja to the Khalifah 1963: 126-129)

Islam diterima damai oleh masyarakat serta penguasa, ditandai dengan berdirinya berupa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Bahkan sebagian kerajaan mengintegrasikan kekuasaannya kepada Kekhalifahan Ustmani. Khalifah hanya perlu mengutus da’i untuk mengajarkan aqidah Islam, hukum Islam, dan membimbing pelaksanaan kepengurusan kerajaan di Nusantara dengan hukum Islam. Wali songo adalah da’i yang diutus untuk berdakwah di wilayah Nusantara. 

Eksistensi kesultanan Islam di Nusantara dibuktikan dengan banyaknya kerajaan Islam dari Samudra Pasai sampai Kesultanan Ternate dan Tidore. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah bukti nyata bahwa Nusantara adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Khilafah. Masuknya Islam ke Indonesia dengan cara yang damai yakni dengan dakwah. 

Dan da’i yang diutus tidaklah sekali, namun beberapa kali. Pada masa kesultanan Aceh yang berdiri 1496, memperbarui hubungan dan ketaatannya dengan pusat kuasa Islam di Timur Tengah. Ketika kekhalifahan berada di Bani Utsmaniyah, Selain sultan Aceh, para sultan lain seperti Ternate abad ke-16 juga beraliansi dan menyiratkan kekagumannya kepada Khilafah Utsmaniyah. 

Jika para ulama tersebut masih hidup, mungkin akan senang karena hingga sampai sekarang Indonesia menjadi muslim terbesar didunia, artinya dakwah para ulama terdahulu telah tersebar di seluruh Indonesia. Dan kita, sampai hari ini beragama Islam karena salah satu jasa ulama terdahulu yang berhasil mendakwahkan Islam kepada leluhur kita.

Lalu kenapa para penjajah seperti Portugis, Belanda, Inggris bisa masuk ke kawasan Indonesia?? Mereka sampai ke Indonesia karena alasan mencari rempah-rempah untuk dibawa ke negaranya, dan mereka memiliki semboyan 3G (gold, gospel. glory). Dengan menjalinnya kerja sama antara kesultanan yang ada di Nusantara dengan khilafah yang ada di Utsmani mereka berhasil mengusir penjajah, seperti Sultan Babullah bin Khairun di Ternate yang bekerja sama dengan 20 tentara Khilafah Utsmaniyah ketika memerangi Portugis di Maluku (1570-1575) (Leonard Andaya, 1993: 134, 137).

Sultan Aceh yang ketiga Alaudin Riayat Syah al-Qahhar (berkuasa 1537-1571) mengirim surat kepada Khalifah Sulaiman al-Qanuni tahun 1566 yang menyatakan baiat kepada Khalifah Utsmaniyah dan memohon agar dikirmkan bantuan militer ke Aceh untuk melawan Portugis yang bermarkas di Malaka.

Sungguh, pemerintahan Islam yang bernama Khilafah pernah memainkan peran di negri kita. Betapa banyak jejak Khilafah yang masih ada di negri kita. Jejak yang paling jelas dan nyata adalah keislaman kita. Dengan pengiriman da’i serta pasukan militer untuk mengusir penjajah Eropa. Bisa kita rasakan nikmatnya Islam dan persaudaran umat Islam tanpa adanya sekat kebangsaan. 

Mengingat kebaikan yang diterapkannya syariat secara kaffah dalam sebuah institusi negara. Membuat kita rindu untuk ditegakkannya kembali institusi tersebut. 

Jika sejarah peradaban Islam kita pelajari betapa pentingnya sebuah negara melindungi, mengayomi dan mensejahterakan umat islam dari kebencian para kafir dan munafik. Sepanjang sejarah Daulah Islam dapat mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin. Allah berfirman: 

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (Qs. Al-Anbiya 107)

Kehidupan yang penuh berkah dari Allah tidak akan didapatkan didalam sistem kuffur saat ini yaitu kapitalis. Sudah saatnya kita sebagai umat muslim untuk mengupayakan kehidupan yang penuh berkah dengan kembalinya institusi Islam Berkah yang akan didapatkan ketika islam diterapkan secara kaffah, tidak hanya bagi kaum muslim saja tetapi seluruh ummat.[]

Oleh: Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar