TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hari Kesetaraan Upah, Benarkah untuk Kesejahteraan Perempuan?


Sabda Rasulullah Saw. berikut yang diriwayatkan Ibnu Majah: “Wahai para umat manusia, bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah dalam mengais rezeki. Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal hingga semua ketentuan rezekinya diberikan".

Untuk pertama kalinya Indonesia bersama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Kesetaraan Upah Internasional yang jatuh pada 18 September. Perayaan tersebut juga sebagai bentuk komitmen dari PBB untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan. Perayaan ini sebagai bentuk empati pada kaum perempuan yang memiliki upah lebih rendah dari kaum laki-laki. 

Di Indonesia, data menunjukkan perempuan memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki. Data yang sama juga menyatakan bahwa perempuan yang sudah memiliki anak, angka selisih gajinya jauh dengan laki-laki. Tentu saja perbedaan upah tersebut berdampak buruk bagi ekonomi perempuan. Terutama pada masa-masa sulit di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini (kumparan.com, 19/9/20).

Kesetaraan Upah Kesejahteraan Semu

Namun, benarkah keseteraan upah bagi kaum perempuan akan bisa dinikmati dengan menetapkan dan merayakan hari kesetaraan upah bagi perempuan? Bukankah para pengusaha kapitalis menjadikan kaum perempuan sebagai pekerja karena mereka bisa dibayar murah walau tenaga mereka dieksploitasi? Sementara pandangan kesejahteraan bagi perempuan  dalam kaca mata kaum feminis ialah bagaimana mewujudkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.

Kesetaraan di ranah publik baik itu politik, ekonomi, dan sebagainya. Ranah Politik bagaimana porsi suara perempuan bisa mengimbangi porsi laki-laki, begini yang diperjuangkan kaum feminis. Kemudian, di ranah ekonomi pun sama bagaimana perempuan memiliki porsi yang sama dengan laki-laki karena hal tersebut bagian  dari hak asasi manusia. Mereka mungkin upa, atau pura-pura lupa tentang kodrat wanita yang sudah Allah ciptakan. Allah meniciptakan masing-masing memiliki porsi yang pas tak kurang dan lebih.

Namun, porsi ini hendak dirusak oleh kaum liberal dan feminis yang tak faham dan tak mau diatur oleh agama. Lalu, apa penyebab kesejahteraan tak terwujud dan belum bisa dirasakan bagi kaum perempuan? Apakah karena faktor upah yang belum setara atau adakah faktor lain? Allah ciptakan perempuan, bagi gadis birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan orang tua yang menafkahi anak gadisnya. Jika sudah menikah wajib taat pada suami melakukan hak dan kewajiban masing-masing, suami wajib menafkahi istri. 

Hanya Islam yang Menjamin Kesejahteraan Perempuan 

Apabila  hal ini berjalalan dengan baik maka kesejahteraan akan diraih. Bagaimana jika orang tua gadis atau suami tak bisa menafkahi? Dalam Islam, lebih utama kerabat dekat yang berlebih membantu saudaranya tersebut.  Jika misalnya orang tua memiliki anak laki-laki sudah baligh maka wajib menafkahi kedua orang tuanya termasuk saudara kandung perempuan. Karena anak laki-laki di dalam Islam memiliki kewajiban dan beban apabila sang ayah telah tiada, maka dialah wali bagi saudara perempuan. 

Imam az-Zailaghi (w 743 H) menyebutkan: “Wajib memberi nafkah dan pakaian kepada anak-anaknya yang kecil dan fakir. Pembatasan masih kecil dan fakir ini maksudnya jika anak itu meski masih kecil atau sudah besar tapi kaya maka tak wajib dinafkahi. Seorang anak laki-laki yang sudah baligh, dia sehat maka bapaknya tak wajib memberinya nafkah, juga tak wajib kepada kerabat yang lain. 

As-Shan’ani menuliskan: “Sementara mayoritas ulama berpendapat, bahwa kewajiban memberikan nafkah kepada anak itu sampai usia baligh atau sampai menikah bagi anak perempuan. Kemudian setelah itu, tidak ada tanggungan kewajiban nafkah atas bapak, kecuali jika anaknya sakit-sakitan.” (Subulus Salam, 2/325).

Bagi suami yang udzur, kerabat dekat yang berlebih dari  suami dan istri hendaknya membantu. Namun, jika tak ada yang bisa membantu dan seorang istri mampu untuk bekerja maka diperbolehkan. Batasannya adalah jangan sampai melalaikan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bait). Wanita mulia di dalam Islam, kodratnya mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan dan mendidik anak-anaknya tak akan pernah bisa tergantikan posisinya dengan yang lain, sekalipun oleh suaminya.

Tugas ini mulia tapi kaum feminis membuat propaganda seolah-olah tugas yang mulia di bidang domestik ini menghinakan kaum perempuan. Sehingga menuntut kesetaraan gender di ranah publik, mereka lupa bisa berpendidikam seperti sekarang atas jasa ibu mereka yang menjalankan kodratnya atau seperti mereka yang menuntut kesetaraan gender? Para ulama yang dikenal di dunia Islam memiliki ilmu yang luar biasa, hasil dari didikan para wanita yang menuntut kesetaraan gender atau yang menjalani kodratnya dengan baik?

Adapun jika wanita mampu bekerja untuk membantu suami yang udzur boleh, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan istri Abdullah bin Mas’ud, Rithah, datang menemui Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah, saya perempuan pekerja, saya menjual hasil pekerjaan saya. Saya melakukan ini karena saya, suami saya, dan anak saya tidak memiliki harta apapun,”. Kemudian Rasulullah pun menjawab: “Kamu memperoleh pahala dari apa yang kamu nafkahkan kepada mereka.”

Bagi wanita yang bekerja dengan alasan syar'i karena sistem sekarang negara tak bisa menjamin kesejahteraan rakyatnya, dalam hadis tersebut sesungguhnya wanita memiliki pahala sedekah. Jika kondisi suami normal, istri tetap berusaha mendorong suami bekerja agar menunaikan kewajibannya. 

"...Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya..." (TQS. Al Baqarah: 233)

Dalam Islam, negara memiliki kewajiban mengurus rakyatnya  untuk mewujudkan kesejahteraaan. Berdasarkan sabda Nabi Saw.,  "Tidak ada seorang hamba yang dijadikan Allah mengatur rakyat, kemudian dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya (tidak menunaikan hak rakyatnya), kecuali Allah akan haramkan dia (langsung masuk) surga.” (HR. Muslim)

Diantara tanggung jawab yg dipikul negara antara lain:

Pertama, memberikan pendidikan kepada rakyat, dan mendorong mereka untuk giat bekerja. Dalam suatu riwayat, Rasulullah Saw pernah mencium tangan Saad bin Muadz begitu melihat tangan Saad yang kasar karena bekerja keras. Beliau bersabda, “Inilah dua tangan yang dicintai Allah dan rasul-Nya!”.

Kedua, menciptakan lapangan kerja & menyuruh rakyatnya untuk bekerja. Rasulullah pernah menyuruh seorang shahabat yg meminta untuk mengambil barangnya, kemudian Rasul melelangnya dan memberikan hasil penjualannya sambil berkata:

“Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah kapak kemudian bawalah kepadaku.” Kemudian orang tersebut membawanya kepada beliau, lalu Rasulullah mengikatkan kayu pada kapak tersebut dengan tangannya kemudian berkata kepadanya: “Pergilah kemudian carilah kayu dan juallah. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari.” … (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

Ketiga, Negara wajib menanggung kebutuhan pokok rakyatnya saat rakyat tersebut sudah tidak mampu bekerja, dan kerabatnya juga hidupnya tidak melebihi standard.

“Barang siapa meninggalkan harta (kekayaan), maka (harta itu) untuk ahli warisnya, dan barang siapa meninggalkan keluarga (miskin yg tak mampu), maka itu menjadi tanggunganku kepadaku” (H.R. Bukhari).

‘Umar bin Khaththab. ra, pernah membangun suatu rumah yang diberi nama , “daar al-daaqiq’ (rumah tepung) antara Makkah dan Syam. Di dalam rumah itu tersedia berbagai macam jenis tepung, korma, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Tujuan dibangunnya rumah itu adalah untuk menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang perlu sampai kebutuhannya terpenuhi (Muslimahnews). Allahu A'lam Bi Ash Shawab.[]

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Pegiat literasi dan pemerhati kebijakan publik)

Posting Komentar

0 Komentar