Hari Aksara, Menulis Aktifitas Ilahiyah




Berpikir untuk menuangkan ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Karenanya, keterampilan menulis jauh lebih sulit ketimbang membaca. Realitas menunjukan bahwa kemampuan menulis belum optimal dikuasai oleh masyarakat dikarenakan lemahnya minat baca itu sendiri. Minat membaca adalah sumber motivasi kokoh bagi seseorang untuk menganalisa, mengingat, serta mengevaluasi yang telah dibacanya. Gerbang ide pengetahuan bisa didapat melalui budaya membaca yang signifikan dikalangan masyarakat.

Senarai pendiri bangsa Indonesia sendiri telah memberikan keteladan menulis sebagai jalan juang menuju pintu kemerdekaan. Semisal, Buya Hamka sebagai ulama yang produktif wafat dalam keadaan meninggalkan karya yang tidak sedikit jumlahnya, Tan Malaka dalam kancah pejuang kemerdekaan dikenal sebagai konseptor ulung melalui buah karyanya, Kartini tokoh emansipasi menyalurkan gagasan melalui tulisan yang hingga kini masih terus digali. Budaya menulis telah terbukti tertanam sejak lama di kehidupan pendiri bangsa ini. Tidak sedikit Pendiri bangsa dikenal melalui tulisan.

Dalam perspektif lain, menulis merupakan aktivitas ilahiyah. Di dalam kitab Al-Fawaid karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Allah pertama kali menciptakan pena untuk menuliskan mahluk-mahluk yang kelak akan mengisi bumi. Dalam surat Yasin ayat 81 menjelaskan ‘’Bila Dia menghendaki sesuatu, Dia berkata ‘Jadilah’ (Kun) maka menjadi (Fa Yakun). Artinya, Allah mencipta dengan Qalam (Logos), lalu jadi alam (Kosmos). Alam semesta adalah karya pena ilahi. Nabi Muhammad SAW bersabda : 

 إِنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللهُ تَعَالٰى الْقَلَمُ وَأَمَرَهُ أَنْ يَكْتُبَ كُلُّ شَيْءٍ يَكُوْنُ.
          
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah  ciptakan adalah Al-Qalam. Dan Dia memerintahkan untuk menulis tiap-tiap sesuatu yang ada

Hadist diatas diriwayatkan Abu Ya’la dan Al Baihaqi dalam Asma wash Shifat halaman 271. Dari jalur Ahmad, memberitahukan : kepadaku Rabah bin Zaid, dari Umar bin Habib, dari Al-Qasim bin Abu Buzzah, dari Sa’id bin Jabir dari Ibnu Abbas secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi).

Menulis itu tajali, Menyingkap dimensi batin, sesuatu yang tersembunyi. Pikiran atau rasa dan kehendak mewujud dalam baris kata, kalimat. Dari kalimat membentuk karangan (tatanan kosmik pemikiran). Karenanya menulis adalah prosesi sakral meniru kegiatan tuhan.

Tepat kemarin 8 September 2020 kita memperingati hari aksara, meski di tengah pandemi masih banyak penggiat literasi tetap semangat menebarkan kesadaran pentingnya dunia literasi di kalangan masyarakat. Melek huruf menjadi salah satu modal utama menuju bangsa berpengetahuan. Tapi sebaliknya, ketidakmampuan dan kemiskinan literasi merupakan bagian dari problematika sistem sosial yang akan menghambat laju pembangunan sumber daya manusia sebuah bangsa. 

Sebagai landasan ideologis, Islam menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa menulis, menulis bagian dari literasi akan menciptakan kebudayaan, memproduksi pengetahuan baru, dan membangun peradaban yang dinamis. Allah swt berfirman : Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan’’  Ayat ini menunjukan bahwa dalam Islam allah sangat mengajurkan setiap muslim memaksimalkan fungsi pena dan aktifitas menulis, agar menghasilkan nikmat yang banyak bagi manusia sendiri. Pena dan produknya mampu digunakan untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuan bagi semua orang.   

Tradisi keilmuan islam menjadikan menulis sebagai aktifitas ilahiyah, karenanya menulis adalah bagian dari sebuah jalan penghambaan (ibadah) yang denganya mampu menjadi ladang pahala. Semoga dengan memperingati hari aksara, bisa menjadikan semangat menulis sebagai pemenuhan nilai-nilai ilahiyah.[]

Oleh: Anja Hawari Fasya

Posting Komentar

0 Komentar