TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Harapan untuk Negeri


Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghaffur. Inilah harapan yang sering diungkapkan saat menggelar hajatan. Tak terkecuali saat moment Muharram. Negeri yang makmur dan damai, yang diungkapkan dengan kalimat Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghaffur (Negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun). Sebagaimana firmanNya dalam surah Saba' ayat 15 yang artinya : “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Allah Maha Kaya. Tak terkecuali di bumi nusantara yang tersimpan kekayaan alam yang menakjubkan. Dirilis dari data yang dihimpun "Indonesia Mining Asosiation", Indonesia menduduki peringkat ke-6 terbesar untuk negara yang kaya akan sumberdaya tambang.
Diantaranya: cadangan emas dunia dan menduduki peringkat ke-7 yang memiliki potensi emas terbesar di dunia dengan produksi menduduki peringkat ke-6 di dunia sekitar 6,7%.
Peringkat ke-5 untuk cadangan timah terbesar di dunia sebesar 8,1% dari cadangan timah dunia dan peringkat ke-2 dari sisi produksi sebesar 26% dari jumlah produksi dunia, dan masih banyak sumber kekayaan yang lainnya. (Ironi Kemiskinan di Tengah Melimpahnya Kekayaan Alam, mediaumat.news, 14/8/2020).

Namun, kekayaan yang melimpah itu belum tersalurkan untuk rakyat. Kekayaan itu masih dinikmati para pemodal yang berkolaborasi dengan para pejabat yang sudah abai dengan amanahnya. Ya, inilah ironi di negeriku. Bahkan pidato kenegaraan terkait penanganan korupsi pun tidak bisa menutupi borok perampokan uang rakyat yang makin menjadi-jadi. Maka tak heran muncul kritikan dari ICW terkait pernyataan pemimpin negara yang mengatakan pemerintah tak pernah main-main untuk memberantas korupsi.

"ICW cukup tercengang dan kaget mendengar pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo di DPR yang mengatakan bahwa 'Pemerintah tidak pernah main-main dengan upaya pemberantasan korupsi'. Sebab, sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak pernah terbukti berpihak pada sektor pemberantasan korupsi," kata peneliti dari ICW, Kurnia Ramadhana, dalam keterangannya, detiknews.com Jumat (14/8/2020).

Penguasa membumbung tinggi dengan harta dan kekayaan yang melimpah. Sedangkan generasi di negeri ini harus naik ke tempat yang tinggi demi mendapat signal kuat untuk memperoleh pendidikan via online. Pun biaya untuk membeli quota apakah ada jaminan dari negara?. Tidak, orangtua harus bekerja keras untuk membeli quota yang tak murah, belum lagi memenuhi kebutuhan perut yang tak bisa ditunda. Terlebih di masa pandemi yang mana banyak kepala keluarga dirumahkan, hingga memunculkan problem baru pada bangunan rumah tangga yang memang sudah rapuh.

Maka bermunculan problem baru yang makin membuat ruwet kondisi saat ini. Tengoklah di salah satu website Tribunnews.com memberitakan tingginya angka perceraian di kota Lhokseumawe.
Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe mencatat sejak Januari hingga Juli 2020, sebanyak 315 perkara perceraian. Panitera Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe Khudaini, dihubungi per telepon, Selasa (28/7/2020), menyebutkan, penyebab istri menggugat cerai suaminya karena masalah ekonomi.

Selain sejumlah PR diatas, kepemimpinan yang ada saat ini meninggalkan jejak penanganan pandemi yang cukup memilukan. Kurangnya APD untuk tenaga kesehatan, bermunculan kasus biaya penanganan pasien di angka yang fantastis, hingga "pengambilan paksa" jenazah yang didiagnosa terkena Covid-19 Ya, hingga masyarakat "terbelah" menjadi dua. Ada yang memahami bahwa Covid-19 nyata adanya. Namun tak sedikit yang meragukan kevalidan virus ini.

Maka sebagian masyarakat memilih untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimanapun berada. Dan sebagian yang lain bersikap biasa saja. Hingga maskerpun sekarang menjadi aksesoris kalung penghias leher. Padahal disisi lain banyak para tenaga kesehatan yang tumbang dan bertaruh nyawa menghadapi wabah corona. Namun karena bercampurnya fakta berita dan hoaks, hingga masyarakatpun dibuat bingung dengan kondisi sekarang.

Bisakah Harapan Terwujud?

Dengan sejumlah PR diatas, wajar muncul pertanyaan, bisakah negeri ini lepas dari jeratan problem kehidupan?.  Jika bisa, harus memakai rumus apa?. Baiknya sebagai manusia yang memang punya kelemahan dan keterbatasan, kita merujuk solusi kehidupan pada Sang Pemilik Nyawa, yaitu Allah Ta'ala.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (QS Al-Baqarah ayat 18).

Ada rumus yang harus dijalankan saat mengharapkan sebuah negeri yang makmur dan damai, yaitu dengan memenuhi segala perintahNya, beriman kepadaNya dan selalu berada dalam kebenaran. Inilah yang seharusnya kita lakukan bersama. Karena banyak PR di negeri ini tidak bisa tuntas jika diselesaikan oleh satu orang saja.

Sebagaimana kepemimpinan yang Rasulullah ajarkan, maka pada tahapan awal haruslah dimulai dari pucuk kepemimpinan negara yang tunduk kepada Allah Ta'ala kemudian mengambil solusi kehidupan yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lalu dilanjutkan dengan masyarakat yang mematuhi perintahNya seluruhnya tanpa pilah pilih syariat. Dengan rumus inilah, maka segala problem yang menerpa akan bisa terurai. Hingga harapan mewujudkan "Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghaffur" benar-benar bisa terwujud, InsyaAllah.[]

Oleh: Dahlia Kumalasari, Pendidik

Posting Komentar

0 Komentar