TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Good Looking dalam Timbangan Syariah dan Pemerintah



Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi untuk menarik ucapannya terkait yang menyebut "paham radikal" masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik, MUI menilai pernyataan Fachrul itu sangat menyakitkan.

"MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata," kata Wakil Ketua MUI, Muhyiddin Junaidi, kepada wartawan, Jumat (4/9/2020).

Memang sikap yang ditunjukkan MUI tersebut rasanya bisa kita fahami bersama, penyebutan radikal kepada orang yang berpenampilan baik khususnya ditujukan kepada umat Islam tersebut sangatlah bernada tendensius dan arogan yang dapat menciderai perasaan umat Islam. 

Sejatinya Good Looking atau jika diartikan ke dalam frasa bahasa Indonesia yaitu suatu kondisi seseorang yang tampak enak atau bagus untuk dilihat karena berpenampilan baik yang terlihat pada penampilan maupun perbuatan-perbuatannya, dan dalam pandangan syariah Islam hal tersebut justru memang telah disunnahkan. Seperti: pakai pakaian wangi, rapi dan bagus saat masuk ke masjid, menyisir, bercermin, tersenyum, ramah kepada orang lain, cantik, tampan, cerdas, berwibawa dan lain-lain.

“Sesungguhnya kebaikan itu membuahkan semburan cahaya di wajah, lentera di hati, meluasnya rezeki, kuatnya badan, rasa cinta di hati orang. Dan sungguh dalam keburukan terdapat kepekatan di wajah, kegelapan di kubur, kelemahan badan, kurangnya rezeki, dan kebencian di hati orang,” [Abdullah bin Abbas].

Imam Ibnu Majah menuturkan sebuah riwayat, bahwa Nabi saw bersabda:

مَنْ كَثُرَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ
“Barangsiapa banyak mengerjakan shalat di malam hari, wajahnya akan berseri (tampan) di pagi hari (HR.Imam Ibnu Majah)

Artinya sungguh berpenampilan yang baik akan membawa energi positif tersendiri bagi diri sendiri ataupun orang-orang yang berada di sekitar, aura positif yang menghantarkan seseorang kepada rasa nyaman dan penilaian yang baik atau kesan good looking dari orang yang melihat.

Jadi, adalah bentuk kecerobohan atau sikap gegabah ketika selevel menteri agama menjustifikasi sesuatu yang baik menurut syariah, namun begitu buruk di mata pemerintah. Dalam timbangan pemerintah hal baik malah dikaitkan dengan pada sesuatu yang buruk dan batil yakni paham radikalisme. Menag selaku perwakilan dari pemerintah tidaklah pantas mengartikan Good looking islami sebagai pintu masuk  radikalisme yang berbahaya.

Padahal narasi radikalisme yang selama ini terus didengungkan sarat kepentingan  kafir barat pembenci Islam. Jika sebelumnya makna dari kata radikal selalu ditujukan khusus pada orang yang berusaha taat pada agama dan perjuangan penegakan syari'at Islam. Sementara  saat ini penyematan tersebut kata radikal sudah merambah ke hal yang lebih umum yaitu yang berpenampilan baik, pintar baca Qur'an dan mahir bahasa Arab.

Inilah bentuk keberhasilan kafir barat ketika umat Islam melalui kementerian agama negeri ini terus-menerus menunjukkan sikap ketidaksukaan terhadap berbagai hal yang terhubung dengan ajaran Islam. Proyek antiradikalisme atau deradikalisasi terus digulirkan melalui cara-cara licik. Kebijakan  yang yang justru kerap merugikan dan menyudutkan umat dan ajaran Islam. Namun ironisnya masih banyak kaum muslimin yang tertipu dan terjebak bahkan ikut terlibat dalam berbagai program deradikalisasi ini, baik karena kebodohan maupun karena pragmatisme semata.[]


Oleh: Ahmad Sastra dan Liza Burhan



Posting Komentar

0 Komentar