TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Good Looking: Agen Radikal?



Menteri Agama Fachrul Razi membeberkan cara masuknya kelompok maupun paham-paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat.
Salah satunya dengan menempatkan orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.

Ia mengatakan bahwa cara masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk lalu orang itupun perlahan-lahan bisa mendapatkan simpati dari para pengurus dan para jemaah masjid. Salah satu indikatornya, orang tersebut dipercaya menjadi imam hingga diangkat menjadi salah satu pengurus masjid lalu masuk teman-temannya dan masuk ide-ide yang ditakutkan.(cnnindonesia.com, 3/9/2020)

Mengenal kepribadian seseorang bukanlah suatu hal yang mudah. Mungkin diperlukan waktu bertahun-tahun untuk kita betul-betul mengetahui kepribadian seseorang, bahkan yang sudah ada di sekeliling kita selama ini.

Jika seseorang itu sampai dipercaya menjadi imam masjid, maka bisa dipastikan kepribadian anak itu sangatlah Islami. Mengatakan anak good looking terlebih dia hafiz quran dan menguasai bahasa arab dengan bagus sebagai suatu ancaman adalah sangat mengada-ada dan sekali lagi menyakiti hati kaum Muslimin. 

Dimana buktinya kegiatan dakwah mereka sebagai imam masjid dan membina anak-anak muda di sekitar masjid menjadikan anak-anak binaan mereka bertambah rusak? Yang ada anak-anak itu lebih taat kepada syariat. Anak-anak binaan menolak free sex, menolak narkoba, menolak miras, menolak tawuran, menolak segala yang berbau maksiat dan mengundang murka Allah Swt. Lantas orang tua mana yang merasa terancam jika anak-anak mereka menjadi lebih taat syariat? Saya pribadi sebagai seorang ibu justru berterimakasih dengan adanya dakwah remaja disekitar masjid.

Anak-anak good looking lebih sejuk dipandang mata mulai dari gaya berpakaian yang syar'i(menutup aurot), bersih dan suci. Tutur kata yang sopan, santun, mengerti bagaimana adab dengan orang yang lebih tua, serta senantiasa menyibukkan diri mereka dengan berbagai aktifitas yang dapat menambah keimanan, pahala dan ridho Allah Swt.

Lalu radikal seperti apa yang dimaksud? Bila yang dimaksud radikal melakukan ancaman terorisme, maka kita semua sepakat itu adalah ancaman. Tapi bila yang dimaksud radikalisme adalah semangat remaja dan pelajar mengamalkan syariat Islam, apakah itu ancaman? Padahal itu adalah perintah Allah Swt. dalam al-Qur’an dan sunnah?

Dunia remaja dan anak-anak Indonesia hari ini kering dari pemahaman agama. Cobalah sekali-kali Kemenag atau dinas pendidikan lakukan riset di kalangan pelajar SD sampai SMA, bahkan kalau perlu sampai perguruan tinggi, berapa diantara mereka yang rajin shalat lima waktu, rajin shalat tahajud, rajin berpuasa senin kamis, lancar membaca al-Qur’an, tahu cara thaharoh yang benar termasuk mandi junub, dugaan saya jumlahnya tidak lebih dari separuh. Tambah lagi dengan pertanyaan berapa di antara mereka yang rajin datang ke pengajian, majlis talim remaja, majlis zikir dan shalawatan, mungkin jumlahnya makin berkurang lagi.

Maka jika muncul anak-anak good looking yang lebih mencintai masjid daripada cafe, lebih betah didalam masjid daripada nongkrong di mall seharusnya lebih cocok untuk diapresiasi bukannya di tuduh macam-macam. Terlebih anak-anak good looking ini dipercaya menjadi imam masjid diusia belianya, luar biasa kan?

Jika terus menerus aktifitas dakwah anak-anak good looking ini dituduh 'radikal' akibatnya keluarga-keluarga Muslim yang enggan bertabayyun menjadi takut atau setidaknya membatasi kajian agama anak-anak mereka. Sudah banyak cerita orang tua yang melarang anaknya ikut kajian-kajian keislaman di sekolah maupun di luar sekolah gara-gara narasi 'radikal' yang definisinya pun tidak jelas.

Bila kajian keislaman menjadi sepi peminat, lalu apa yang bisa memperbaiki kepribadian para pelajar kita? Sedangkan lingkungan hari ini menawarkan budaya liberalisme-hedonisme. Di internet beragam konten bisa didapat remaja mulai postingan-postingan yang tidak Islami di facebook, IG, twitter dan lain-lain, di televisi apalagi televisi kabel, aneka hiburan yang merusak akhlak tersedia di sana. Konten seks bebas, LGBT, kekerasan, anti-agama ada di mana-mana. Ini justru ancaman yang sebenarnya. Ancaman yang akan merusak pemikiran dan pemahaman akidah generasi bangsa ini.

Ditambah permasalahan hari ini dimana sekulerisme sudah menjadi pijakan kehidupan masyarakat termasuk di dalam dunia pendidikan. Pelajaran agama memang ada, tapi ia sudah kehilangan ruhnya. Pelajaran agama hanya sekedar materi hafalan sebagaimana pelajaran IPS dan bahasa Indonesia. Minim dorongan untuk mengamalkan karena tidak ditopang dengan kekuatan akidah sebagai dasar pembelajaran. Ditambah lagi materinya yang monoton dan metode pembelajaran yang tidak kreatif.

Sepertinya hal-hal semacam ini hampir tidak pernah terlintas di kalangan pejabat dan aparat kita. Pemerintah hari ini lebih memilih sibuk dengan tindakan kuratif, menangani persoalan yang muncul, dan bukan preventif. Padahal langkah pencegahan atau preventif jauh lebih penting ketimbang kuratif.[]

Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar