TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Gay Berpesta “Kemerdekaan”, Bukti Negara Kian Liberal


Apa yang ada dalam pikiran pelaku penyuka sesama jenis ini (homoseksual), di saat sedang tinggi-tingginya kasus Corona di DKI, mereka malah merayakan “kemerdekaan” dengan pesta seks ala gay.

Polisi menggerebek pesta gay di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan (Jaksel). Polisi mengatakan komunitas lelaki pencinta sesama jenis ini menggunakan aplikasi chatting dan memiliki grup di media sosial (medsos) sebagai sarana komunikasi. Melalui groupWA (WhatsApp), Mereka namakan grup mereka Hot Space. Terungkap modus yang dipakai untuk menutupi rencana pesta gay ini. mengajak anggotanya menggelar pesta seks dengan modus kumpul pemuda merayakan kemerdekaan. Mereka juga meminta para peserta menggunakan masker berwarna merah putih sebagai dress code. (www.detik.com/02/09/2020)

Grup WhatsApp khusus gay tersebut, sudah bediri sejak Februari 2018. Ada 150 orang anggota di dalam group. Di Instagram juga ada sekitar 80 pengikut. Sejak didirikan, tersangka sudah mengadakan acara yang sama sebanyak enam kali dan seluruhnya dilaksanakan di sejumlah hotel dan apartemen di Jakarta.

Bukan kali pertama, LGBT di Indonesia semakin eksis menunjukkan jati dirinya. Sejak tahun 1982, kelompok hak asasi gay didirikan di Indonesia. Lambda Indonesia dan organisasi sejenis lainnya bermunculan pada akhir tahun 1980-an dan 1990-an. Kini, asosiasi LGBT utama di Indonesia adalah "Gaya Nusantara", "Arus Pelangi", Ardhanary Institute, GWL INA. Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia adalah salah satu yang tertua dan terbesar di Asia Tenggara. Sekarang ada lebih dari tiga puluh kelompok LGBT di Indonesia. (www.wikipedia.org)

Dukungan terhadap LGBT pun kian deras mengalir dari sejumlah perusahaan internasional seperti Apple, Google, Facebook, Youtube. Seperti pada Laman huffingtonpost pada 2017 lalu juga telah mengeluarkan daftar 20 perusahaan global yang terang-terangan mendukung LGBT.  Menurut survey CIA  tahun 2015 yang dilansir di topikmalaysia.com, jumlah populasi LGBT di Indonesia adalah kelima terbesar di dunia setelah Cina, India, Eropa, Amerika. Data Kemenkes tanun 2012, ada sekitar 1.095.970 LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki) di Indonesia. Jumlah ini naik 37 % dari tahun 2009. Adapun data dari beberapa lembaga survey independen, Indonesia memiliki populasi 3% LGBT. Berarti dari 250 juta penduduk, 7,5 jutanya adalah LGBT. Atau dari 100 orang berkumpul, 3 di antaranya adalah LGBT.

Hukum Yang Usang Tak Mampu Menjerat Prilaku Menyimpang

Secara global prilaku menyimpang LGBT berlindung dibawah payung hukum PBB yang mengakui hak-hak mereka dalam UN Declaration on Sexual Orientation and Gender Identity pada Desember 2008. Lembaga internasional ini juga mengeluarkan seruan menanggulangi diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender pada April 2011 sebagai wujud komitmen menentang segala jenis diskriminasi terhadap pelaku LGBT. Sekaligus memantau negara-negara dalam melindungi LGBT dan menyerukannya mencabut undang-undang dan kebijakan diskriminatif.

Di Indonesia sendiri, LGBT masih tak mampu dijerat dalam status hukum pidana. Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Anugerah Rizki Akbari, yang berfokus pada hukum pidana, menuturkan pada dasarnya, regulasi di Indonesia tidak melarang aktivitas seksual yang dilakukan secara suka sama suka (by consent) dan tanpa kekerasan oleh warganya, baik yang heteroseksual maupun homoseksual. Ia menekankan, dalam UU Pornografi dan aturan hukum lain yang mengatur soal kesusilaan seperti pasal 282 KUHP, yang dilarang adalah menjadikan aktivitas seksual sebagai konsumsi publik. Kalau aktivitas seksual by consent dilakukan di kamar hotel, entah itu heteroseksual atau homoseksual, polisi tidak bisa memproses hukum mereka karena tujuannya adalah untuk konsumsi sendiri. (www.tirto.id/ 17/01/2018)

Artinya hukum demokrasi sekuler tidak dapat mengatur terlalu jauh sampai ke urusan pribadi warga negara. Dalam penyusunan undang-undang KUHP, kriminalisasi terhadap perbuatan seksual hanya bisa dilakukan jika memenuhi beberapa syarat. Padahal prilaku menyimpang LGBT sudah terbukti berbahaya bagi generasi bangsa. Ketidakjelasan dan ketidaktegasan hukum terkait prilaku menyimpang LGBT menunjukkan bahwa sistem demokrasi sekuler yang usang (rusak) tak mampu menjerat prilaku menyimpang LGBT dan memberikan sanksi tegas untuk mencegah penyebaran prilaku menyimpang tersebut. Bahkan seakan dilindungi dibawah payung hukum atas dasar hak asasi (HAM) yang membuat prilaku menyimpang LGBT semakin merajalela.

Membasmi Priaku Menyimpang dengan Menerapkan Sistem Islam

Prilaku menyimpang LGBT tumbuh subuh dalam sistem sekuler liberal menjadi akar lahirnya prilaku menyimpang LGBT. Yang memberi kebebasan pada individu dalam berbuat dan bertingkah laku sebagai bentuk Hak Asasi Manusia (HAM). Terlepas apakah perbuatan tersebut menyimpang atau tidak selama tidak merugikan individu lain dan dilakukan atas dasar suka sama suka maka tak ada hukum yang dapat menjeratnya. Terlebih LGBT ibarat gerakan yang tersruktur, sistimatis dan massif yang lahir dari rahim ideologi sekuler liberal tentu hanya mampu dibasmi dengan sistem menyeluruh dan sistemik, yaitu dengan menerapkan Islam sebagai ideologi dengan sistem khilafah. 

Islam memandang bahwa perilaku menyimpang LGBT hukumnya haram dan dinilai sebagai tindak kejahatan/kriminal (al jarimah) yang harus dihukum.

Allah Ta’ala berfirman :

{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ}

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu. (Qs. Al-A’raaf: 80)

Sanksi Islam Bagi lesbian dan gay, atau biseksual yang berpangan dengan sejenis, bisa dihukum dengan hukuman mati. Bisa dengan cara dijatuhkan dari bangunan tertinggi, atau dengan cara yang lain. Sedangkan bagi transgender, jika tidak sampai melakukan sodomi dengan sesama lelaki, atau dengan sesama perempuan, maka dia akan dikenai hukuman ta’zir. 

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ 

“ Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Homoseksual (liwath) adalah salah satu bentuk kriminal yang paling berat dan termasuk dosa yang paling menjijikkan serta salah satu dosa besar, selain menyalahi fitrah dan pelakunya dilaknat oleh Allah SWT. Maka hanya dengan cara seperti inilah pelaku LGBT dapat dibasmi hingga ke akar-akarnya dan negara dapat melindungi generasi dari ideologi yang merusak (sekuler liberal) tatanan kehidupan manusia. Wallahu’alam bishowab.[]

Oleh: Trisnawati (Pegiat Literasi Aceh)


Posting Komentar

0 Komentar