Film Jejak Khilafah di Nusantara Mengungkap Sejarah yang Terkubur



Film Jejak Khilafah di Nusantara merupakan film yang membuka cakrawala baru pemikiran dan pengetahuan sejarah. Film ini fokus dalam menyusuri Jejak keberadaan Khilafah di Nusantara. Film tersebut dibuat oleh Nicko Pandawa dan Komunitas Literasi JKDN yang diluncurkan pada Minggu (2/8/2020). Film jejak Khilafah di Nusantara tayang perdana pada tanggal 1 Muharram 1442 (20/8/2020). 

Nicko Pandawa yang merupakan alumnus Sejarah Peradaban Islam di salah satu perguruan tinggi Islam dan salah satu tim pembuat film tersebut mengatakan bahwa, film itu bercerita tentang Khilafah Islamiyah yang dulu pernah berpusat di Turki mempunyai hubungan sangat erat dengan Nusantara, bahkan keeratan itu muncul sejak masa Khalifah Utsman.

Kemunculan Film Jejak Khilafah di Nusantara menimbulkan banyak pertanyaan “apa benar adanya jejak khilafah di Nusantara?”. Selain itu, Filolog dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman justru mempertanyakan kembali apa yang dimaksud sebagai jejak khilafah di Nusantara. Film ini juga terjadi banyak perdebatan.

Film Jejak Khilafah di Nusantara sempat di blokir beberapa kali saat penayangan. Namun, Film tersebut telah trending di twitter dan ribuan penonton. Dalam film itu adanya tokoh ulama, yaitu Ismail Yusanto, Rokhmat S. Labib, Nicko Pandawa.

Film Jejak Khilafah di Nusantara juga diprotes oleh sejarawan Peter Carey yang keberatan terhadap tim film Jejak Khilafah di Nusantara yang mencatutkan namanya tanpa izin. "Saya tidak senang karena saya telah ditempatkan dalam posisi di mana nama baik dan penelitian yg telah saya lakukan dilibatkan dengan sebuah proyek yang menurut saya sangat menjijikkan - yakni agenda HTI yang berupaya untuk mengarang sebuah narasi sejarah yang sama sekali tidak didukung oleh kenyataan," imbuh Peter.Setelah adanya protes tersebut, tim Film Jejak Khilafah di Nusantara memberikan klarifikasi dan permintaan maafnya.

Hubungan antara Utsmani dan Nusantara
Islam sudah ada di Nusantara sejak awal sejak abad pertama Hijriah menurut Hamka dan beberapa peneliti sejarah lainnya. Pada abad 16 merupakan abad yang penting untuk hubungan Utsmani dan Nusantara. Pada saat itu, masyarakat Turki sudah hadir di utara pulau Sumatera sebagai pedagang . Summa Oriental, Tome Pires (1944: 142) menulis:

“… karena Melaka telah dihukum dan Pedir dalam keadaan berperang, Kerajaan Pase menjadi makmur, kaya, dengan banyak pedagang dari berbagai bangsa Moor dan Keling, yang melakukan banyak perdagangan, di antaranya yang terpenting adalah orang-orang Bengali. Ada (pula) orang-orang Rume, Turki, Arab, Persia, Gujarat, Keling, Melayu, Jawa, dan Siam.”

Pengaruh Utsmani terhadap masyarakat Nusantara juga telah diungkap Ermy Azziaty Rozali dalam disertasinya di Universitas Malaya Malaysia dan diterbitkan dengan judul Turki Uthmaniah: Persepsi dan Pengaruh Dalam Masyarakat Melayu (2016).

Saat pemerintahan Bani Umayyah (660-749 M), beberapa wilayah di Nusantara masih berada dalam kekuasaan Kerajaan Hindu-Budha . Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaandi Nusantara yang tercatat memberikan pengakuan terhadap kebesaran Khalifah. Hal ini dibuktikan dengan adanya surat yang dikirim oleh raja Sriwijaya kepada Khalifah di zaman Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Mu’awiyah, dan surat kedua dikirim kepada ‘Umar bin “Abd al-‘Aziz.

Surat pertama yang dikirim memiliki tipikal surat Resmi penguasa Nusantara Dengan pembukaan surat sebagai berikut : 

“(Dari Raja al-Hind – atau tepatnya Kepulauan India) yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gahana (aloes), kepada Mu’awiyah…”

Surat kedua merupakan surat yang lebih lengkap. Surat yang ditunjukan kepada Khalifah ‘Umar bin “Abd al-‘Aziz itu menunjukkan betapa hebatnya Maharaja dan kerajaannya:

“Nu’aym bin Hammad menulis: “Raja al-Hind (Kepulauan) mengirim sepucuk surat kepada ‘Umar bin “Abd al-‘Aziz, yang berbunyi sebagai berikut: “Dari Raja Diraja (Malik al-Malik = maharaja); yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab (‘Umar bin “Abd al-‘Aziz), yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya (atau di dalam versi lain, yang akan menjelaskan Islam dan menjelaskannya kepada saya).”

Khilafah mendapatkan pengakuan dari raja Nusantara sehingga muncul ketertarikan pada dakwah islam. Pada artikel jejak islam, disebutkan bahwa pada Desember 1924 di Surabaya diadakan pertemuan yang dikenal dengan Kongres Al-Islam Luar Biasa. Kongres ini memang sangat luar biasa karena dihadiri oleh 68 organisasi Islam yang mewakili pusat maupun cabang juga dihadiri ulama-ulama dan ribuan umat Islam yang lain. Mereka yang hadir menyepakati sebuah rumusan khilafah yang baru. Rumusan tersebut yakni :

Agar dibentuk suatu Majelis Khilafah yang melaksanakan kekuasaan dan kewajiban khalifah atas dasar hukum-hukum Qur’an dan Hadits

Kepala Majelis mengatur, menjaga, dan mengupayakan terlaksananya keputusan-keputusan Majelis

Kepala Majelis dipilih oleh Majelis berdasrkan Syari’ah yang disetujui atasnya dalam permusyawaratan khilafah, kemudian pemilihan tersebut diumumkan agar mendapat pengakuan dari seluruh umat Islam di dunia

Majelis Khilafah mengupayakan persamaan paham dan peraturan bagi segala perkara hukum Islam

Majelis Khilafah hendaklah berada di Mekkah

Tentang biaya untuk Majelis Khilafah bersama-sama perlu ditemukan kesepakatan dengan umat Islam yang lain atas hal ini.

Setelah menelusuri riwayat, catatan, dan peninggalan sejarah islam di pelosok Nusantara, semakin menunjukkan adanya hubungan antara Khilafah dengan Nusantara.Khilafah islam memiliki pengaruh politik – keagamaan di nusantara. Pada saat kerajaan Hindu-Budha Khilafah mendapat pengakuan dari raja-raja dan saat masa kesultanan, banyak penguasa Muslim yang mengidentikan kekuasaan mereka dengan Khilafah Islam. 

Pada zaman penjajahan Eropa, militer Khilafah telah sampai di Nusantara dan membantu Muslim Nusantara melawan serangan Eropa.Saat Khilafah Islam runtuh, muslim Nusantara turut tergerak untuk menegakkan kembali Khilafah Islam. 

Adanya realita sejarah tidak boleh di tutup-tutupi karena itu penting bagi bangsa. Adanya bukti sejarah yang konkrit haruslah menjadi pemicu umat islam untuk melanjutkan perjuangan para wali songo, yakni utusan khalifah untuk meyakini kemuliaan islam dan menerapkannya dalam seluruh kehidupan. Maka cita-cita besar para ulama terdahulu bahkan tokoh pendiri bangsa akan terwujud.[]

Oleh : Novi Sekar Sari

Posting Komentar

0 Komentar