TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Fenomena Poliandri: Mungkinkah Bentuk Pembalasan Kaum Liberal terhadap Poligami?

Di tengah maraknya pengkriminalisasisian ide khilafah dan para pengembannya, problema menimpa perempuan dan anak juga tak kalah masif terjadi di masa pandemi ini.

Anggota Komisi ll DPR RI, Gus Pardi Gaus mengaku terkejut dan prihatin mendengar pernyataan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo yang mengungkapkan adanya fenomena pelanggaran baru oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) yaitu perempuan yang memiliki suami lebih dari satu orang atau poliandri. Dia meminta agar kementerian PAN-RB menindak tegas jika ada ASN yang terbukti melakukan poliandri.

" Fenomena poliandri di kalangan ASN ini, jelas akan merendahkan harkat dan martabat ASN itu sendiri. Harus dihukum berat berupa diberhentikan sebagai ASN dan kalau ada unsur pidana diproses sesuai hukum yang berlaku" kata Guspardi dalam keterangan tertulisnya kepada Republika. Selasa 1/9/20.

Masalah poliandri menambah polemik dan permasalahan bagi negeri ini, karena fenomena ini baru muncul ke permukaan lagi. Di tengah masih banyaknya paradigma negatif masyarakat terhadap poligami, yang dianggap mendzalimi kaum hawa. 

Namun, hari ini yang terjadi justru sebaliknya, fenomena poliandri muncul dan menjadi sorotan tajam berbagai kalangan. Apakah ini bentuk pembalasan kaum perempuan seakan tidak terima dengan berbagi suami denga istri lain. Kemudian perempuan pun tak mau kalah, lalu membuat gebrakan baru dengan berbagi dirinya dengan beberapa suami atau poliandri.

Inilah bukti betapa sulitnya mewujudkan ketahanan keluarga di bawah naungan sistem sekular saat ini. Ketika rasa sudah diracuni pikiran-pikiran sekular liberal, oleh karena rusaknya akidah dan minimnya pemahaman tentang ajaran dan aturan syariah Islam. Sehingga akan memicu berbagai permasalahan umat saat ini. 

Yang lebih memprihatinkan lagi, pemicu terbesar segala permasalahan ini akibat dari sistem yang diterapkan. Berawal dari kebijakan rumit oleh negara ( khususnya untuk ASN). Yaitu kebijakan di era pemerintahan orde baru. ASN dilarang berpoligami. Jika melanggar maka akan diberikan sanksi berupa pemecatan secara tidak hormat. Dengan alasan tujuannya untuk mengatasi problema rumahtangga, supaya tercipta ketahanan dalam keluarga.

Namun, dengan cara seperti itu ternyata tidak menyelesaikan masalah, namun justru memuncukan permasalahan baru. Alhasil justru kian maraknya kasus perselingkuhan yang dipilih daripada jalan berpoligami. Karena khawatir di pecat dari pemerintahan. Ditambah dengan opini yang berkembang di masyarakat yang menganggap poligami dalam pandangan sekuler yaitu sebagai sesuatu yang buruk.

Dengan adanya kasus poliandri saat ini, pertanda manusia sudah rusak. Karena sudah diracuni pemikiran liberalisme dalam sistem kapitalistik ini. Sehingga racunnya menyebar ke pemikiran-pemikiran manusia. Maka terjadilah kesalahan dalam setiap apa yang diperbuat. Seperti, penempatan syahwat yang tidak tepat, yang terjadi dalam poliandri. Manusia hidup sekehendak mereka sendiri. Karena adanya Hak Azasi Manusia (HAM) sebagai landasan kebebasan mereka.

Ide HAM yang dipandang baik dengan segala kebebasannya, bagi kaum liberal tentu terdengar menyenangkan. Sebab, terhipnotis dengan kata bebas. Padahal, kata-kata itu justru menggiring umat kepada kemaksiatan, dan tentu saja menzholimi umat itu sendiri.

Dengan adanya sistem yang kacau, akan mendatangkan aturan-aturan  yang akan menghancurkan semuanya. Contohnya, poliandri ini. Jika suami berpoligami, dan memiliki keturunan, maka anaknya ikut nasab bapaknya. Sedangkan poliandri di hukumi sama dengan zina. Maka status anaknya juga sama dengan hasil zina. Anaknya tidak memiliki nasab dari bapak.

Dari kasus poliandri, justru perempuan yang dirugikan, karena memiliki pasangan lebih dari satu. Itu artinya, perempuan rentan dengan penyakit kelamin yang dapat membahayakan kesehatannya. Keutuhan atau ketahanan keluarga pun dipertaruhkan, karena dengan adanya poliandri keluarga menjadi kacau. Anak pun menjadi korban, karena tidak mengetahui nasabnya. 

Dengan demikian poliandri adalah haram dalam pandangan Islam. berdasarkan dalil Al Qur'an dan As Sunnah.

Dalil Al Qur'an dalam firman Allah SWT:

" Dan (diharamkan juga atas kalian menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. (QS. An Nisa (4) ; 24) 

Adapun dalil Sunnah. Nabi saw telah bersabda :

" Siapa saja wanita yang dinikahi oleh dua orang wali. Maka pernikahan yang sah bagi wanita itu adalah yang pertama dari keduanya". ( HR. Ahmad)

Di sinilah letak betapa perempuan dan keluarga butuh aturan dari sang Pencipta manusia, yaitu Allah SWT. Dengan naungan sistem Khilafah yang akan mengatur dan melindungi ketahanan rumahtangga supaya tidak keluar jalur karena senantiasa diatur dalam koridor-koridor Islam.

Oleh karena itu hendaklah umat agar segera bangkit dan tersadar dengan kembali kepada sistem Islam, supaya aturannya sesuai fitrah manusia dan bisa mendatangkan ketenangan hati kepada siapa saja yang menjalankannya sesuai aturan syariah Islam. Dan dengannya kemuliaan perempuan dan keluarga akan senantiasa terlindungi, aman dan sentosa. Wallahu'alam bishshawwab.[]

Oleh: Reni Tresnawati
(Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar