TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Fenomena Pecinta Sesama, Merusak Generasi Bangsa

Bebarapa waktu yang lalu publik dihebohkan dengan penangkapan sejumlah kaum pecinta sesama jenis.

Pihak kepolisian menggerebek pesta seks sesama jenis atau pesta gay di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu, 29 Agustus 2020. Sembilan orang diamankan dan kini telah ditetapkan sebagai tersangka. (Liputan6.com, 2/9/2020)

Komunitas pecinta sesama jenis tentu masih banyak di luar sana. Baik di dunia nyata maupun di dunia Maya.

Dengan mengatasnamakan hak asasi manusia dan kebebasan berperilaku mereka seakan mendapat payung perlindungan. Melalui berbagai gerakan kampanye, mereka menuntut diakui serta mendapat perlindungan hukum atas eksistensinya.

Bahkan di beberapa negara lain, komunitas penyuka sesama jenis ini sudah mendapat legalitas perkawinan. Pada 21 Oktober 2019, Irlandia Utara resmi melegalkan pernikahan sesama jenis dan aborsi. Dilansir BBC, pernikahan sesama jenis pertama di Irlandia Utara telah digelar pada Februari 2020 lalu.

Selain Irlandia Utara, terdapat negara-negara lain yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Seperti Belanda yang menjadi negara Eropa pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis sejak 21 April 2001. (tirto.id, 24/10/2019)

Selain kedua negara tersebut, masih ada belasan negara yang mengakui eksistensi kaum pelangi hingga ke arah legislasi.

Sistem Kapitalis Menyuburkan Kaum Sesama Jenis

Tak bisa dipungkiri bahwa penerapan sistem kapitalis demokrasi telah mejadi tempat tumbuh suburnya komunitas sesama jenis.

Dalam sistem ini, empat kebebasan dijamin dalam undang-undang. Salah satunya adalah kebebasan berperilaku. Hal ini mengarah pada kebebasan pergaulan dan perilaku seksual manusia.

Kenikmantan jasadi selalu diagung-agungkan dan menjadi tujuan kehidupan dalam sistem ini. Tidak ada batasan dengan aturan Tuhan. Yang ada adalah kebebasan melampiaskan hafa nafsu tanpa kendali. Maka jadilah kaum penyuka sesama semakin banyak menunjukkan eksistensinya.

Sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan negara telah menggerogotinya generasi anak bangsa. Manusia semakin bebas memilih orientasi seksualnya tanpa peduli lagi akibatnya.

Padahal telah jelas, jika kaum penyuka sesama jenis ini terus beraksi akan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit seksual menular, HIV/AIDS, dan yang paling tidak bisa kita bayangkan adalah punahnya generasi anak bangsa. Bagaimana akan terlahir generasi jika memiliki orientasi penyuka sesama.

Padahal saat ini, negeri kita sedang mengalami bonus demografi. Jumlah usia produktif lebih banyak dibandingkan usia tidak produktif.

Jika generasi muda kita terpapar ide kebebasan dan homoseksual, maka bonus demografi ini sungguh tidak berarti bagi kemajuan bangsa dan negara.

Sungguh komunitas sesama jenis dan semisalnya adalah racun yang menghancurkan suatu bangsa. Padahal kita masih terus berkutat dalam menghadapi wabah.

Generasi muda akhirnya tidak sibuk berkarya mencari solusi atas semua Maslaah sesuai fitrahnya. Tapi sibuk memperturutkan hawa nafsunya.

Akibat Perang Peradaban

Demikianlah penyuka sesama telah menjadi racun pemikiran dan perilaku yang merusak tatanan sosial. Sebuah gagasan yang awal munculnya dari barat kini telah masuk ke negeri-negri yang mayoritas muslim penduduknya.

Sebuah kampanye masif yang terus dilakukan orang-orang barat untuk merusak dan menghancurkan generasi Islam. Bahkan gerakan ini semakin gencar dengan dukungan berbagai lembaga internasional atas nama HAM.

Sebuah upaya untuk menghancurkan generasi muslim agar Meraka mengadopsi nilai-nilai barat yang sekuler dan liberal. Menjauhkan umat dari hukum-hukum Islam yang bersih dan mulia.

Tidak bisa dipungkiri pasca runtuhnya Daulah Khilafah Ustmaniyah pada 1924 M silam. Umat sudah tidak ada Junnah (pelindung).

Berbagai serangan fisik dan pemikiran telah merusak generasi umat Islam. Perang peradaban telah dimulai sejak beberapa tahun silam. Hal ini seperti apa yang telah ditulis oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order”,( “Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia”). Bahwa tidak bisa dipungkiri, barat sebagai peradaban baru pasca runtuhnya peradaban Islam ingin tetap berkuasa di dunia. Sehingga dia akan melalukan segala macam cara untuk mencegah ideologi Islam bangkit seperti semula.

Berbagai upaya Barat terus gencar dilakukan, salah satunya adalah merusak generasi Islam dengan ide sekulerisme dan liberalisme. Sebuah upaya untuk menjauhkan generasi Islam dengan ajaran Islam yang agung. Menyibukkan umat dengan Hawa nafsu syahwatnya.

Mereka mencegah terlahirnya sosok-sosok generasi pemimpin Sholih. Yang menjadi pelopor kebangkitan Islam kembali. Menjauhkan generasi muslim dengan Islam. Selanjutnya menyibukkan generasi dengan liberal dan penyimpangan orientasi seksual.

Barat menyadari bahwa potensi terbesar kebangkitan Islam adalah dengan kesadaran generasinya untuk kembali kepada Islam.

Sehingga mereka membendungnya dengan segala macam cara, termasuk mendukung kaum pelangi menyebar di negeri-negri muslim saat ini.

Bukan tidak mungkin, jika tidak benteng pertahanan diri berupa keimanan serta kontrol masyarakat yang peka dan ketegasan sanki dari penguasa. Ulah kaum penyuka sesama ini semakin menyebar di mana-mana bagaikan wabah.

Munculnya komunitas baru yang sulit dikendalikan lagi keberadaan nya. Rusaknya generasi anak bangsa semakin nyata di depan mata.

Dengan demikian, sudah saatnya umat Islam kembali kepada fitrahnya. Menyadari bahwa ide kebebasan yang dikamapanyekan barat adalah bentuk penjajahan pemikiran.

Umat harus kembali kepada sistem Islam, yaitu sistem yang menerapkan syari'at Allah SWT secara kaffah. Menjaga kehormatan, nasab dan kemuliaan. Yaitu sistem Khilafah ala minhaj an-nubuwwah. (Wallahu a'lam bi ash-showab).[]

Oleh: Najah Ummu Salamah, Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar