TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Fatamorgana Idola


Setiap zaman, hiburan laku keras dikonsumsi penonton. Datang silih berganti dalam kemasan yang berbeda dan sukses besar menjadikan penikmatnya, terutama kalangan millenial tergila-gila. Mulai dari zaman radio, TV hitam-putih hingga revolusi 4.0, masyarakat semakin larut dalam menikmati hiburan yang konon katanya menenangkan jiwa.

Sinema, sinetron dan film bertebaran menghiasi layar kaca, akun sosial media hingga kanal You Tube. Berbagai aliran musik tak mau ketinggalan juga. Beragam jenis lagu mendera telinga. Sementara konten dari sinema, sinetron, film ataupun lagu tak lepas dari romantisme yang tidak halal. Konten vulgar mengumbar naluri seksualitas begitu kental. Belum lagi penampilan aktris yang rata-rata berbusana miskin bahan.

Di negeri ini, kemunduran berpikir begitu nyata. Rata-rata masyarakatnya penukmat hiburan dan lawakan saja. Mulai dari tayangan artis lokal hingga artis mancanergara. Telenovela, Bollywood, Hollywood, film-film Jepang tak habis-habis penggemarnya. Sekarang K-Pop wave atau gelombang K-Pop sangat mendominasi pecinta hiburan dari semua kalangan, terutama generasi millenial.

Beberapa hari lalu, Wakil Presiden Indonesia, K.H. Ma'ruf Amin memberi sambutan secara virtual pada peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia, Ahad (20/9). Beliau mengatakan saat ini K-Pop dan tayangan drama Korea Selatan begitu digemari anak muda Indonesia.

Beliau juga mengatakan bahwa kegemaran anak muda akan budaya Korea Selatan seperti K-Pop, diharapkan dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri, termasuk Korea.

Sungguh pernyataan dalam sambutan beliau membuat kalangan intelektual muslim terpana. Seorang wakil presiden yang notabenenya ulama mendukung aktivitas masyarakat yang lebih cenderung menikmafi hiburan dari pada memikirkan nasib bangsa. Apalagi hiburannya banyak yang menyuguhkan tontonan romantisme pasangan tidak halal.

Sungguh, fatamorgana idola melanda anak negeri yang harusnya menjadi generasi yang siap menerima estafet kebangsaan. Mereka lebih dominan dengan karakter sekularisme dan jauh dari karakter Islam meski mayoritas muslim. Karakter generasi millenial kini hanya fokus pada kesenangan semata tanpa mencari tahu hukumnya apa.

Sekularisme dan liberalisme menancap kuat dalam benak pemuda zaman now. Idola mereka rata-rata artis Korea dan artis-artis lain yang kehidupannya jauh dari nafas Islam.

Wajar saja hal ini terjadi, sistem yang digunakan dinegeri ini memang mendukung aktivitas itu. Sistem kapitalisme mengurai ikatan ruhiyah dengan asas sekularismenya, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Selain itu, paham liberalisme juga diluncurkan ke dalam bingkai pemikiran mereka. Walhasil kebebasan menjadi tameng berburu fatamorgana idola. 

Mereka lebih kenal Lee Min Ho dari pada Zaid bin Tsabit. Sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan. Serangan budaya dan pemikiran senantiasa disuguhkan pada generasi millenial, salah satunya dengan fun alias hiburan. Maka tak heran saat kaum muslim krisis identitas karena aktivitas yang dilakukannya banyak menyimpang dari syariat Islam.

Hiburan dalam pandangan Islam boleh hukumnya. Namun, hiburan seperti apa dan isinya bagaimana harus diperhatikan. Seorang muslim aktivitasnya terikat dengan hukum syara'. Kemubahan atau kebolehan hiburan yang dipilih jangan sampai menabrak kewajiban apalagi bermesra dengan keharoman.

Dalam menikmati hiburan, seorang muslim harus menghindari tontonan maksiyat yang mengundang laknat, seperti tontonan porno. Ikhtilat atau campur baur antara laki-laki dan perempuan juga harom. Demikian juga kholwat atau berdua-duaan saja antara laki-laki dan perempuan harom hukumnya. Mengumbar aurot juga aktivitas yang harom. Tentu hiburan yang menjerumuskan pada keharoman wajib dihindari.

Sesungguhnya Islam telah memberikan keteladanan yang baik dari Baginda Nabi SAW. Beliau useatun hasanah yang telah berhasil mencetak generasi cemerlang pemimpin peradaban mulia. Syakhsiyah Islam atau karakter Islam begitu melekat pada generasi muslim yang mencontoh beliau SAW. Pola pikir dan pola sikap Islam mengantar kaum muslim pada tingginya derajat manusia dengan selendang taqwa. Kecermelangan pemikiran muslim banyak menghasilkan ahli hadits, ahli fiqh, ilmuwan muslim, sastrawan muslim dan ilmu lainnya sesuai dengan syariat Islam.

Sebutlah Ali bin Abi Tholib di usia mudanya rela menggantikan Rosulullah di pembaringan beliau yang hendak dibunuh kafir Quraisy. Imam Syafi'i yang sejak usia prabaligh telah terbiasa memberi fatwa agama dan hafal Al Qur'an. Contoh lain, Muhammad Al Fatih yang sudah hafal Al Quran, paham tsaqofah Islam, serta mahir dan lihai ilmu perang sejak muda. Bahkan, dia sudah menjadi pemimpin pasukan di usia 20-an.

Idola generasi muslim adalah Rosulullah SAW. Islam mengarahkan pola pikir mereka pada masa depan yang gemilang, bahkan berorientasi akhirat. Setiap aktivitas harus bernilai ibadah dan mendapat pahala, sehingga di akhirat pantas mendapatkan surga. Wallahu a'lam bishshowab.[]

Oleh: Afiyah Rasyad

Posting Komentar

0 Komentar